Sentroclub’s Weblog

hidup hanya sekali sebentar lagi mati

desin jaket

contoh desain jaket yang saya buat sendiri, jenis jaket ini termasuk elegan, warna abu-abu mengimbangi warna hitam, sehingga desain tampak matching antar warna, ditambah seleret putih menambah kesan kasual jaket ini..

menerima pemesanan jaket dengan harga dibawah rata-rata, tapi tentu saja dengan layanan dan kualitas murah, gratis ongkos kirim untuk daerah surabaya,,,HUB 085735451847

April 6, 2010 Posted by | salam | Leave a comment

Menyelami Samudera Kearifan Para Kiai

news21229772229

Judul Buku: Karomah Para Kiai
Penulis: Samsul Munir Amin
Penerbit: Pustaka Pesantren, Yogyakarta
Cetakan: I, November 2008
Tebal: xx + 348 halaman
Peresensi: Imam Musthafa

Karomah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti keramat, suatu pristiwa yang sulit diterima oleh daya pikiran manusia pada umumnya. Karomah banyak dijumpai dalam literatur keagamaan, termasuk dalam berbagai literatur agama Islam. Dalam Al Quran tidak sedikit ayat yang mengisahkan kejadian atau pristiwa yang sulit dicerna akal pikiran. Di antaranya, seperti kisah Ashabul Kahfi, sekolompok pemuda yang yang tertidur sampai ratusan tahun dalam gua dan kisah Maryam sebagai perempuan suci yang melahirkan Nabi Isa tanpa ayah, serta kisah-kisah yang berbau karomah lainnya.

Demikian pula, peristiwa karomah banyak ditemui di kalangan ulama pada masa Nabi Muhammad atau bahkan sesudahnya, yaitu generasi penerus risalah, seperti para sahabat Nabi, tabi’in, tabi’ittabi’in, dan para ulama. Dalam masa-masa itu, kerap ditemui sejumlah peristiwa yang tidak lazim terjadi, di luar batas nalar logika, tetapi ini benar-benar nyata.

Di antara para sahabat yang mendapatkan predikat karomah adalah sahabat Umar bin Khattab, salah seorang Khulafaur Rasidin. Ia memiliki karomah yang cukup mashur dikenal. Dikisahkan bahwa pada suatu ketika Umar sedang berkhotbah di Madinah. Tiba-tiba memekik lantang, ”Wahai, Sari’ah, merapatlah ke gunung!”

Sari’ah bin Husain yang sedang memimpin peperangan di daratan Abajirda—yang tentu berjarak jauh dari Madinah—serentak mendengarkan suara sahabat Umar itu yang memberi isyarat kepada dia dan pasukannya untuk segera merapat ke gunung. Peristiwa itu seakan mengukuhkan adanya telepati antara dua orang yang sedang berjauhan tempat.

Karomah pada dasarnya merupakan sebuah tanda dari kewalian sesorang, sebagaimana mukjizat menjadi tanda kenabian. Hanya, karomah tidak harus ditampakkan, bahkan penampakkan karomah harus dihindari, sebab akan memutuskan suluk (perjalanan spritual) seorang wali kepada Allah.

Buku Karomah Para Kiai merupakan kumpulan kisah karomah para kiai di Indonesia. Buku yang mengurai 77 kisah karomah eksisitensi kiai ini, sebelumnya belum banyak terkuak oleh masyarakat di luar pesantren. Kisah-kisah tersebut belum sempat dituliskan dalam bentuk buku, melainkan hanya beredar dari mulut ke mulut, di lingkungan pesanten. Hal itu barangkali letak pentingnya buku ini dihadirkan ke tengah publik.

Dalam hal ini, penulis menggunakan pendekatan kearifan lokal dalam mengkisahkan daripada nuansa mistis para kiai dalam menerapkan nilai-nilai ajaran Islam kepada masyarakat serta juga memberikan informasi tentang pesan moral para kiai supaya dapat ditiru dalam rangka taqarrab ilallah.

Menurut Imam Al-Qusairi dalam ar-Risalah, seorang wali tidak akan nyaman dan peduli terhadap karomah yang dianugrahkannya. Meski demikian, terkadang dengan adanya karomah, keyakinan mereka semakin bertambah sebab mereka meyakini semua berasal dari Allah. Mereka (wali) kemudian sangat paham betul bahwa kejadian aneh pada dirinya merupakan pemberian Allah kepada mereka yang dia kehendaki. Dan, Allah menganugerahkan karomah pada para wali agar keyakinan mereka semakin mantap di satu sisi dan “menabiri” mereka dari ancaman dan prakarsa kejahatan lingkungannya.

Gambaran Karomah

Di Indonesia, semua orang tentunya kenal dengan tokoh KH Hasim Asy’ari, terutama kalangan nahdliyyin (sebutan untuk warga Nahdlatul Ulama/NU), sebagai ulama yang mumpuni secara keilmuan sekaligus tokoh pendiri NU. Ia sangat piawai dalam mengajar ilmu agama. Terbukti, saat Kiai Hasyim Asy’ari sedang mengaji kitab Shahih Bukhari, ibarat membaca kitabnya sendiri. Ini menunjukkan penguasaan dalam ilmu Hadits sangat mendalam.

Suatu kisah karomahnya terjadi usai waktu dhuhur. Pada suatu waktu Kiai Hasyim Asy’ari mengajar kitab di hadapan para santri dalam jumlah yang banyak. Di tengah pengajian, ia melemparkan tongkatnya ke depan dan mengenak pada muridnya. Ia bersikap apatis dan tidak mau menghiraukan tongkatnya yang mengena pada santrinya. Santri yang kesakitan itu berusaha menahan diri untuk tetap dalam posisi demi menjaga morallitas terhadap guru. Sejenak murid tersebut teringat bahwa dirinya belum salat dhuhur, sedangkan waktu dhuhur akan berakhir. Kejadian seperti ini, tidak hanya satu kali, tapi berulang-ulang  sebagai peringatan terhadap santrinya yang meninggalkan perintah agama dan berbuat kesalahan. (halaman103).

Contoh lain dapat pula disebutkan di sini. Adalah Mbah Mungli—sebutan bagi Kiai Hasan dari Desa Mangli, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah—merupakan sosok yang memiliki banyak karomah. Semasa hidupnya, ia memiliki banyak usaha dan termasuk orang yang kaya-raya. Sedangkan aktivitas sehari-harinya banyak diselimuti berbagai jenis aktivitas bernuansa agama, seperti mengisi kajian kitab kuning, berceramah, dan lain-lain.

Pada saat mengisi pengajian, di mana pun ia dan dalam kondisi apa pun, Mbah Mungli tidak pernah memakai alat pengeras suara, meskipun jamaahnya sangat banyak, hingga berbaris dengan jarak jauh. Namun, masyarakat tetap sangat menyukai isi pidatonya.

Di sisi lain, dia dikenal sebagai seorang yang memiliki kemampuan psikokinesis tinggi. Misal, dia dapat mengetahui tamu yang akan datang beserta maksud dan tujuannya. Seperti orang yang bermaksud untuk makan jeruk bersilaturrahim pada rumah Mangli. Dia menyambut dengan memberikan jeruk. Itu terjadi dalam setiap ada tamu ke rumahnya. (halaman 174-176).

Kedua gambaran contoh karomah dapat memberikan stimulus pada eksistensi kiai. Buku ini memberikan sajian yang rinci dan akurat atas data-data yang terangkum tentang kiai beserta peristiwa-peristiwa karomahnya. Ini memang praktis dijadikan sebuah cerminan di dalam dunia yang kian rasional dan serba teknologi canggih ini dalam membaca kembali relasi kiai sebagai tokoh sentral pengampu moralitas masyarakat Islam dengan predikat karomah yang nampaknya menjadi daya utama aura kharismatiknya.

Peresensi adalah Pustakawan Rumah Baca Kutub Yogyakarta, Alumnus Pesantren Annuqayah, Sumenep, Madura, Jawa Timur

January 1, 2009 Posted by | buku jendela dunia | Leave a comment

Pesan ‘Spritual’ Pangeran Sufi

news21228487530

Judul Buku: Mutiara Agung Pangeran Sufi Al-Junaid Al-Bagdhady
Penulis: KH Moh. Lukman Hakim, MA
Penerbit: Cahaya Sufi, Jakarta
Cetakan: Pertama 2008
Tebal: (xix + 317) halaman
Peresensi: Mashudi Umar

Tasawuf sesungguhnya bukan sesuatu penyikapan yang pasif atau apatis terhadap kenyataan sosial. Sebaliknya, seperti diteguhkan Dr Abu Al-Alaf Afifi dalam studinya tentang tasawuf Islam klasik, tasawuf berperan besar dalam mewujudkan sebuah revolusi moral spritual dalam masyarakat. Dan, bukankah moral spritual ini merupakan ethical basic atau al-asisayatu-akhlaqiyah bagi suatu formulasi sosial seperti dunia pendidikan?

Kaum sufi adalah kelompok garda depan di tengah masyarakatnya. Mereka seringkali memimpin gerakan penyadaran akan adanya penindasan dan penyimpangan sosial.

Selain itu, tasawuf juga merupakan metode pendidikan yang membimbing manusia kedalam harmoni dan keseimbangan total. Metode ini bertumpu pada basis keharmonisan dan pada kesatuan dengan totalitas alam. Dengan demikian, perilakunya tampak sebagai manifistasi cinta dan kepuasaan dalam segala hal. Bertasawuf yang benar berarti sebuah pedidikan bagi kecerdasan emosi dan spiritual—kini dikenal dengan ESQ (Emotional Spiritual Quotient).

Intinya, belajar untuk tetap mengikuti tuntuntan agama, entah itu berhadapan musibah, keberuntungan, kedengkian orang lain, kaya, miskin, atau dalam kondisi pengendalian diri atau pengembangan potensi diri. Sufi-sufi besar seperti Rabi’ah Al-Adawiyah, Al-Ghazali, Sirri Al-Siqthi, Asad Al-Muhasabi dan Junaid Al-Bagdadi, telah memberikan teladan kepada umat bagaimana pendidikan yang baik itu. Di antaranya berproses menuju perbaikan diri dan pribadi yang pada gilirannya akan menggapai puncak makrifatullah, yakni sang Khaliq sebagai ujung terminal perjalanan manusia di dunia.

Kata-kata tasawuf makin banyak dikenal orang sejak periode Hasan al Basri, putra kelahiran Madinah tahun 21 H/642M dan wafat pada 729 M. Pada 37 H, setahun setelah perang Shiffin, ia pindah ke Basrah. Di sini ia memulai karirnya sebagai ulama, seorang zahid yang yang sangat berpengaruh. Para ulama tasawuf berpendapat, Hasan Basri-lah orang pertama yang mengajarkan ilmu tasawuf yang melambangkan awal sikap asketik dan mengeritik pemerintahan yang zalim, karena telah larut dan basah oleh kehidupan dunia dan kering kerontang pada kehidupan akhirat. Motivasi itu disebabkan kemenangan umat Islam yang gilang gemilang pada 711 M, tanpa diimbangi tempaan batin untuk tetap memelihara sikap kemanusiaan mereka.

Sampai abad pertengahan, dalam mekanisme penyebaran Islam, kehidupan tasawuf semakin memuncak dan mengalami kemasyhuran, sehingga bermunculan tokoh-tokoh spektakuler, semisal, al-Hallaj yang menerima eksekusi pancung pada 309 H. Imam al-Ghazali, sebagai tokoh yang dijadikan acuan para sufi moderat. Al-Ummi, Abdul Qadir Jailani, Ibnu Arabi, adalah menjadi bukti bahwa dimensi spritual lebih menarik para pelakunya ketimbang ilmu lahir.

Pemahaman sufi yang sesungguhnya menjadi sangat menarik di tengah-tengah komersialisasi komunitas sufi di perkotaan bahkan tidak segan-segan untuk meng-”komuditas” terhadap Tuhan, untuk dijadikan bisnis miliaran, khususnya di Jakarta. Penulis menyarankan kepada seluruh masyarakat, khususnya masyarakat perkotaan untuk hati-hati terhadap model “bisnis spritual-sufi” dengan topeng pelatihan, workshop atau pertemuan yang harus mengganti kontribusi jutaan rupiah hanya untuk mencapai ma’rifatullah atau ketenangan jiwa dengan waktu yang sangat singkat, apalagi pembimbingnya tidak kapabel, tidak alim terhadap profesi tersebut. Carilah guru yang sesungguhnya!

Buku ini dibagi menjadi tiga bab yang berkaitan dengan aktivitas dan ketokohan Junaid Al-Bagdhadi yang dilahirkan di kota Irak. Mutiara Agung Pangeran Sufi menjelaskan beberapa hal di antaranya tentang tauhid, tobat, uzlah, gelombang nafsu, dalam perspektif sufi al-Junaid, dan lain-lain.

Sementara, pada konteks studi-studi orientalis, dalam hal ini, al-Junaid menempati posisi pemikiran yang senantiasa dianggap “misteri” yang dalam. Berbagai metode dilakukan untuk membuka tirai agar bisa mengulas perkembangan pemikiran kaum sufi dalam lingkaran tasawuf.

Sebenarnya kehidupan al-Junaid di Baghdad tidak semulus ketokohannya. Seringkali ia dikejar dan ditangkap, karena dituduh sebagai pelaku kekufuran dan ke-zindiq-an. Ini juga menimpa al-Hallaj, murid al-Junaid dalam eksekusi kematian dan penyaliban, karena ia telah memperkenalkan publikasi rahasia-rahasia spritual. Apalagi pandangan al-Hallaj yang disalahpahami khalayak seputar wujud rabbani dan wujud insani yang mendorong masyarakat terjerumus dalam pandangan “serba boleh”, yang ini merupakan pandangan kalangan yang mewenangkan segala yang haram dan mengabaikan hukum-hukum syariat melalui metode ketiadaan dan ketidakwujudan mereka kemudian disebut ahlul ibahah.

Di tengah realitas itu, bagaimana al-Junaid mampu mengintegrasikan norma yang berbeda-beda tersebut dalam relevansi tasawuf dan doktrin Islam? Bagaimana ia melepaskan diri yang tidak bisa dilakukan al-Hallaj dan Abu Yazid Al-Busthami atau ahlul ibahah (liberalis kebatinan) seperti Rabah dan Kulaib.

Al-Imam Syekh al-Junaid al-Bagdhadi, bagi kalangan umat Islam, khususnya warga NU adalah tokoh pemuka, pangeran sekaligus “burung merak” yang indah nan agung dari kalangan mereka. Ia adalah pemimpin kaum sufi di zamannya sekaligus menjadi panutan berabad-abad bagi kekuatan umat Islam seluruh dunia. Ia adalah simbol para wali di zamannya sekaligus pahlawan kaum yang telah menggapai tahap ma’rifatullah.

Ia berguru pada para ulama dan pakar sufi, sepert Al-Muhasiby, Adz-Dzary, Abu Sa’id Al-Kharraz dan ulama besar yang lain. Ia juga melahirkan murid yang terkenal seperti Asy-Syibli dan al-Hallaj.

Al-Junaid mengatakan, apabila kefanaan wujud hamba yang manunggal menuju wujud yang haq, terkadang menyeret pada istilah hulul dan ittihad. Maka, ia membuat paradigma kebenaran bahwa fana tersebut adalah fana dalam Allah melaluinya kembalinya hamba yang manunggal kepada al-baqa’ setelah mengalami al-fana’ dan kembali pada al-khudur setelah mengalami al-ghaibah.

Penyunting buku ini, Lukman Hakim, tokoh NU yang berprofesi sebagai seorang sufiolog—orang memberikan nama—karena ia mempunyai komunitas sufi di sekitar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi yang berjumlah 1 juta orang tiap paguyuban/tempat, bahkan melebar ke Surabaya dan Malang, mencoba menguraikan tokoh sufi yaitu Junaid Al-Bagdhadi atas beberapa tutur-kata dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti. Buku ini sangat penting untuk dijadikan referensi, baik sebagai pemimpin, pemerhati, pengamat maupun pelaku sufi itu sendiri karena menambah pengetahuan dan wawasan tentang makna dan aplikasi tasawuf-sufi. Selamat membaca!

Peresensi adalah Ketua Eksternal Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Probolinggo, Jawa Timur

January 1, 2009 Posted by | buku jendela dunia | 1 Comment

Genitnya Anto “Dewo” Salafy CS Dalam ber-TBC-ria: Tabarruk

Setiap kali Umar bin Khatab masuk ke rumah kami, dia meminta kepada saya untuk dibawakan kepadanya mangkuk peninggalan Kanjeng Nabi saw, dan kami memberikan mangkuk itu kepadanya. Setelah itu, Umar bin Khatab memenuhi mangkuk itu dengan air zam-zam dan meminumnya. Dan dengan tujuan bertabarruk kepada Kanjeng Nabi, Umar bin Khatab mengusapkan air zam-zam dari mangkuk Rasul itu kewajahnya”. Lihat kitab Al-ashabah, Juz 3 Halaman 202. dan kitab Asadul Qhabah, Juz 4, Halaman 352. dan ratusan hadist sahih yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu. Tapi saya siap menuliskan hadist-hadist yang sejenis ini lebih bayak lagi kalau memang di perlukan.Tulisan ini khusus untuk Anto Salafy dan Badui-badui macam Anto Salafy… Supaya lebih banyak belajar …dan memahami kearifan lokal…

Sebelum baca yang dibawah, baca ini dulu biar mantaf….

Sebelum kita mengungkap kegenitan jamaah takfiri alias wahabi atau kerennya adalah salafi/y yang gemar mengkafirkan kaum muslimin, berkaitan dengan tabarruk, alangkah baiknya kita definisikan dulu makna tabarruk, sehingga jelas bagi kita apa itu tabarruk.

Tabarruk adalah sunah rasul, dan masalah ini juga termasuk masalah yang paling dihinakan oleh kelompok Takfiri bin Wahabi alias Salafi/y. Meraka berfatwa barang siapa yang melakukan Tabarruk adalah Bid’ah dan kafir hukumnya. Lihat kitab-kitab wahabi yang isinya mencela dan mengkafirkan sesama muslimin gara-gara melakukan sunah rasul ini, yakni bertabaruk. Cek beberapa kitab ini, 1. Al-muntaqa min Fatawa As-syeikh Shaleh bin Fauzan, Juz 2, Halaman 86. 2. Majmu’u Fatawa li Ibni Atsimain, nomor fatwa 366. 3. Al-lajnah Ad-daimah lil Buhutsi Al-alamiah wal Ifta, Halaman 3019. 4. Fatawa Islamiyah, Juz 4, Halaman 29. 5. Al-bid’ah, Halaman 28-29. 6. Dalilul Ahthak, Halaman 107. Dll……….

Nama-nama kitab yang saya tulis diatas semuanya adalah kitab rujukan dan kitab fatwa kaum wahabi, salafy/i takfiri. Semuanya menyatakan bahwa bertabaruk adalah perbuatan kaum jahiliyah dan musrikin, barang siapa yang melakukan tababruk maka mereka adalah kafir…. dan kafir tempatnya di neraka.

Makna Tabarruk

Secara bahasa, Tabaruk berasal dari bahasa arab yang artinya adalah minta barakah, dan barakah disini mempunyai makna “tambah” dan pencerahan atau saadah [kebahagiaan]. Lihat Lisanul Arab, Juz 10, Halaman 390. atau Shihahul Lughah, Juz 4, Halaman 1075. atau Annihayah, Juz 1, Halaman 120.

Sementara Tabarruk secara istilah mempunyai makna, meminta barakah melalui sesuatu atau seseorang atau apapun yang diperbolehkan oleh Allah swt. Misalnya, kita mencium tangan ibu kita, atau mencium tangan bapak kita, atau mencium kuburan kanjeng nabi saw dengan tujuan minta doa dan minta barakah.

Kalimat barakah sendiri dipakai dalam Al-quran dengan berbagai lafadz dan bentuk. Terkadang makna tabaruk dipakai oleh Al-quran dipakai untuk:

1. Seseorang, Misalnya: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. dan ada (pula) umat-umat yang kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), Kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari kami.” Al-quran, Surah Hud, Ayat 48.

atau :”Dan dia menjadikan Aku seorang yang diberkati di mana saja Aku berada, dan dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama Aku hidup. Surah Maryam, Ayat 31. dll

2. Tempat, : ”Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Surah Al-Israa’, ayat 1.

3. Waktu: sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”. Surah Ad-dhuhaan, ayat 3.

4. Untuk Waktu dan Tempat :“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Surah Ali Imran, Ayat 96.

Tabarruk dalam Sejarah

Ada pertanyaan menarik ketika kita tarik masalah tabarruk ini kedalam ruang sejarah. Apakah tabarruk itu pernah ada dalam sejarah nabi-nabi sebelum Nabi Terakhir dan sekaligus pada zaman kanjeng nabi..?. Lalu siapa saja yang pernah melakukan..?. Apa balasan bagi mereka yang melakukan tabarruk, dan apa balasan bagi yang mengingkari tabarruk..?.

Sejarah tidak bisa kita pungkiri fakta dan datanya. Sejarah adalah cermin masa depan jika kita cerdas bisa mengambil pelajaran dari sejarah. Al-quran ternyata mencatat dan menceritakan hal ini dalam kehidupan nabi-nabi yang dahulu dan zaman nabi Muhammad saw. Dan mereka tidak pernah berlepas dari tababruk.

Bukti nyata dan jelas adalah kisah yang terjadi pada nabi kita Ya’qub as. Ketika beliau berpisah dengan Nabi Yusuf as, yang dia sayangi, dan karena rasa sedih yang luar biasa dan banyaknya air-mata beliau menetes sampai-sampai Nabi Ya’qub as buta. Lalu karena seorang yang saleh, orang yang dipilih oleh Allah mempunyai karamah dan kekuatan dari Allah swt, maka nabi Ya’qub as, bertabaruk dengan baju anaknya dan atas ijin Allah swt penyakit buta beliau hilang. Lihat betapa indah Al-quran menceritakan peristiwa ini dalam Surat Yusuf: “Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku”. Surah Yusuf, Ayat 93. Dan masih banyak lagi ……

Tabarruk di Zaman Kanjeng Nabi saw

Dalam kitab Tabarruk bi Atsarir Rasul, Muhammad Thahir Makky berkata: “Bertabarruk dengan peninggalan Kanjeng Nabi saw, adalah sunah para sahabat, dan sunah ini juga dilakukan oleh Tabiin, Tabiin-tabiin dan Orang-orang saleh, mukminin pun melakukan sunah ini. Bertabaruk dengan kanjeng Nabi di zaman beliau pun juga dilakukan, sementara Kanjeng Nabi sendiri tidak mengingkarinya. Dan ini adalah bukti dan dalil bahwa Bertabaruk mendapatkan legimitasi dari Kanjeng Nabi sendiri. Lihat kitab Tabarruk bi Atsarir Rasul, Halaman 7.

Siti Aisah, pernah berkata: “Para sahabat selalu membawa anak-anaknya ke hadapan Kanjeng Nabi saw, sehingga anak-anak sahabat-sahabat Kanjeng Nabi itu mendapatkan ucapan selamat dari Kanjeng Nabi dan mendapatkan berkah beliau”. Lihat kitab Musnad Ahmad bin Hanbal, Juz 7, Halaman 303, Hadist nomor 25243.

Muawiyah ketika menjelang kematiannya berwasiat kepada familinya untuk mempersiapkan baju, celana, dan sedikit dari rambut Kanjeng Nabi saw supaya dikubur bersamanya. Lihat kitab Asiratul Alhalbiyah, Juz 3, halaman 109. Al-Asabah, Juz 3, Halaman 400, Tarikh Damsyiq, Juz 59, Halaman 229.

Ummu Qais ketika mempunyai anak kecil dan belum makan apa-apa kecuali susu ibunya, selalu membawa anaknya ke hadapan Rasulullah saw supaya mendapatkan berkah beliau. Oleh beliau anak itu dipangkunya. Lihat Shahih Bukhari, Juz 1, Halaman 62, Kitabul Ghusli.

Imam Malik bin Anas berkata: “Saya melihat Kanjeng Nabi saw sedang mencukur rambut kepala beliau dan terlihat kepala beliau yang penuh barakah itu bercahaya, sementara para sahabat berthawaf mengelilingi Kanjeng Nabi saw dan ketika beberapa helai rambut beliau jatuh, mereka berebutan dan mengambilnya”. Lihat kitab Shahih Muslim, Juz 15, Halaman 83. Kitab Musnad Ahmad, Juz 3, Halaman 591.

Dan ratusan hadist sahih yang menceritakan bahwa para sahabat juga bertabarruk. Dan saya cukupkan hanya disini saja, kalau kurang nanti saya akan bawakan yang lebih banyak lagi………

Tabarruk di Zaman Sahabat

Dalam masalah tabbruk di zaman Sahabat dan Tabiin, saya hanya menuliskan beberapa hadist saja, kalau ada yang kurang saya siap membawakan yang lebih banyak lagi.

Misalnya, Shafiyah berkata: “Setiap kali Umar bin Khatab masuk ke rumah kami, dia meminta kepada saya untuk dibawakan kepadanya mangkuk peninggalan Kanjeng Nabi saw, dan kami memberikan mangkuk itu kepadanya. Setelah itu, Umar bin Khatab memenuhi mangkuk itu dengan air zam-zam dan meminumnya. Dan dengan tujuan bertabarruk kepada Kanjeng Nabi, Umar bin Khatab mengusapkan air zam-zam dari mangkuk Rasul itu kewajahnya”. Lihat kitab Al-ashabah, Juz 3 Halaman 202. dan kitab Asadul Qhabah, Juz 4, Halaman 352. dan ratusan hadist sahih yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu. Tapi saya siap menuliskan hadist-hadist yang sejenis ini lebih bayak lagi kalau memang di perlukan.

Pandangan Ibnu Taimiyah Masalah Tabarruk

Bagi mereka yang mengagungkan dan mendewakan ibnu taimiyah, saya sarankan untuk mengecek kitab yang saya tulis dibawah ini, sebab Ibnu Taimiyah sendiri disatu sisi membolehkan tabarruk, dan saya yakin mereka yang mengharamkan Tabarruk secara mutlaq adalah BAHLUL….!! Dan TAKLID BUTA…!! [cuhhhh..!!].

Antosalafy dan abu-abu bahlul itu, hakekat wujudnya adalah bencana bagi Islam dan Umat manusia..!!. lihat kitab Iqtidhaus Siratul Mustaqim, Halaman 367…!!!, Ibnu Taimiyah berkata: “Ahmad bin Hanbal dan orang selain dia, membolehkan kepada manusia untuk bertabarruk dengan cara mengusapkan tangannya ke minbar dan tempat tangan Rasulullah saw!. Dan mengusap kubur Rasulullah untuk bertabarruk, tidak diperbolehkan..!, Akan tetapi, sebagian dari sahabat-sahabat kita meriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal bahwa mengusap kubur Rasulullah adalah diperbolehkan!.” ..!!. lihat kitab Iqtidhaus Siratul Mustaqim, Halaman 367.

Sampai detik ini ……. saya berkesimpulan bahwa, mereka yang berkoar-koar menegakkan Tauhid Allah hakekatnya adalah para pembohong dan preman berkedok agama. Mereka adalah para pendekar TAKFIRI yang haus darah umat manusia.

Dan saya tahu .…ada golongan dan mereka yang benar-benar memanusiakan manusia meskipun mereka mengaku salafy/I, nah untuk mereka-mereka, ini saya minta maaf. Adapaun tulisan ini, saya khususkan buat preman-preman yang mengagumi badui-badui jahili arab. Dan mereka yang gemar mengkafirkan umat manusia, semacam antosalafy, abusalmah, abuturotsi, abdurahman dll yang haus darah..!![]

October 17, 2008 Posted by | agama | 1 Comment

Syeikh Aidh Al-Qarni difatwa Sesat oleh Salafy!

Tahukah anda seorang ulama salafy dari Saudi Arabia Syeikh Aidh al-Qarni [lihat foto], pengarang buku “La Tahzan” yang terjemahannya cukup laris di Indonesia, ternyata juga seorang yang “sesat” bukan menurut ulama diluar kelompok salafy lho, akan tetapi menurut seorang ulama salafy pula. ingin tahu fatwa tersebut? silahkan baca fatwa pensesatannya yang dimuat oleh http://www.salafy.or.id/ dibawah ini:

Fatwa tentang kesesatan Aidl Al-Qarny

Selasa, 10 Februari 2004 – 00:10:54 kategori Fatwa-Fatwa

Penulis: Syaikh Fauzi bin Abdullah Al-Atsary

Fadhilatus-Syaikh dari Bahrain, Syaikh Fauzi Al-Atsary (hafizhahullah) ditanya pertanyaan berikut:

“Siapakah Aidl Al-Qarny dan apakah diperbolehkan mendengarkan kasetnya?”

Syaikh menjawab:

“Seseorang tidaklah seharusnya mendengarkan orang ini dan orang yang semacamnya. Dia ini dari Ahlul Bid’ah, Quthubiyyun dan dia adalah seorang Sufy. Pernyataan-pernyataannya bersesuaian dengan Sufiyyah. Dia menyeru kepada Quthubiyyah dan politik. Dia berbicara buruk tentang Ulama. Dia memiliki kaset rekaman di mana dia berkata bahwa Ulama tidak keluar dalam jihad, dan bahwasanya mereka tidak memberikan fatwa tentang jihad dan banyak kebohongan lainnya tentang Ulama. Maka tidak diperbolehkan mendengarkan kaset-kasetnya.”

(Sumber: “Kaset Ushul Da’wah Salafiyyah” -30 July 2003, Copenhagen, Denmark
[www.darulhadith.com, 29 08 2003]. Diterjemahkan tim salafy.or.id. Muroja’ah al ustadz Abu Hamzah]

Sumber: salafy.or.id

October 17, 2008 Posted by | agama | Leave a comment

Jalaludin Ar Rumi

Lahir di Balkh, Afghanistan pada 604 H atau 30 September 1207 Rumi menyandang nama lengkap Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi. Adapun panggilan Rumi karena sebagian besar hidupnya dihabiskan di Konya (kini Turki), yang dahulu dikenal sebagai daerah Rum (Roma).

Ayahnya, Bahauddin Walad Muhammad bin Husein, adalah seorang ulama besar bermadzhab Hanafi. Dan karena kharisma dan tingginya penguasaan ilmu agamanya, ia digelari Sulthanul Ulama (raja ulama). Namun rupanya gelar itu menimbulkan rasa iri pada sebagian ulama lain. Dan merekapun melancarkan fitnah dan mengadukan Bahauddin ke penguasa. Celakanya sang penguasa terpengaruh hingga Bahauddin harus meninggalkan Balkh, termasuk keluarganya. Ketika itu Rumi baru beruisa lima tahun.

Sejak itu Bahauddin bersama keluarganya hidup berpindah- pindah dari suatu negara ke negara lain. Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran timur laut). Dari Sinabur pindah ke Baghdad, Makkah, Malattya (Turki), Laranda (Iran tenggara) dan terakhir menetap di Konya, Turki. Raja Konya Alauddin Kaiqubad, mengangkat ayah Rumi sebagai penasihatnya, dan juga mengangkatnya sebagai pimpinan sebuah perguruan agama yang didirikan di ibukota tersebut. Di kota ini pula ayah Rumi wafat ketika Rumi berusia 24 tahun.

Di samping kepada ayahnya, Rumi juga berguru kepada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi, sahabat dan pengganti ayahnya memimpin perguruan. Rumi juga menimba ilmu di Syam (Suriah) atas saran gurunya itu. Ia baru kembali ke Konya pada 634 H, dan ikut mengajar pada perguruan tersebut.

Setelah Burhanuddin wafat, Rumi menggantikannya sebagai guru di Konya. Dengan pengetahuan agamanya yang luas, di samping sebagai guru, ia juga menjadi da’i dan ahli hukum Islam. Ketika itu di Konya banyak tokoh ulama berkumpul. Tak heran jika Konya kemudian menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpul para ulama dari berbagai penjuru dunia.

Kesufian dan kepenyairan Rumi dimulai ketika ia sudah berumur cukup tua, 48 tahun. Sebelumnya, Rumi adalah seorang ulama yang memimpin sebuah madrasah yang punya murid banyak, 4.000 orang. Sebagaimana seorang ulama, ia juga memberi fatwa dan tumpuan ummatnya untuk bertanya dan mengadu. Kehidupannya itu berubah seratus delapan puluh derajat ketika ia berjumpa dengan seorang sufi pengelana, Syamsuddin alias Syamsi Tabriz.

Suatu saat, seperti biasanya Rumi mengajar di hadapan khalayak dan banyak yang menanyakan sesuatu kepadanya. Tiba- tiba seorang lelaki asing –yakni Syamsi Tabriz– ikut bertanya, “Apa yang dimaksud dengan riyadhah dan ilmu?” Mendengar pertanyaan seperti itu Rumi terkesima. Kiranya pertanyaan itu jitu dan tepat pada sasarannya. Ia tidak mampu menjawab. Berikutnya, Rumi berkenalan dengan Tabriz. Setelah bergaul beberapa saat, ia mulai kagum kepada Tabriz yang ternyata seorang sufi. Ia berbincang-bincang dan berdebat tentang berbagai hal dengan Tabriz. Mereka betah tinggal di dalam kamar hingga berhari-hari.

Sultan Salad, putera Rumi, mengomentari perilaku ayahnya itu, “Sesungguhnya, seorang guru besar tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari sang guru besar harus menimba ilmu darinya, meski sebenarnya beliau cukup alim dan zuhud. Tetapi itulah kenyataannya. Dalam diri Tabriz, guru besar itu melihat kandungan ilmu yang tiada taranya.”

Rumi benar-benar tunduk kepada guru barunya itu. Di matanya, Tabriz benar-benar sempurna. Cuma celakanya, Rumi kemudian lalai dengan tugas mengajarnya. Akibatnya banyak muridnya yang protes. Mereka menuduh orang asing itulah biang keladinya. Karena takut terjadi fitnah dan takut atas keselamatan dirinya, Tabriz lantas secara diam-diam meninggalkan Konya.

Bak remaja ditinggalkan kekasihnya, saking cintanya kepada gurunya itu, kepergian Tabriz itu menjadikan Rumi dirundung duka. Rumi benar-benar berduka. Ia hanya mengurung diri di dalam rumah dan juga tidak bersedia mengajar. Tabriz yang mendengar kabar ini, lantas berkirim surat dan menegur Rumi. Karena merasakan menemukan gurunya kembali, gairah Rumi bangkit kembali. Dan ia mulai mengajar lagi.

Beberapa saat kemudian ia mengutus putranya, Sultan Salad, untuk mencari Tabriz di Damaskus. Lewat putranya tadi, Rumi ingin menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf atas tindakan murid-muridnya itu dan menjamin keselamatan gurunya bila berkenan kembali ke Konya.

Demi mengabulkan permintaan Rumi itu, Tabriz kembali ke Konya. Dan mulailah Rumi berasyik-asyik kembali dengan Tabriz. Lambat-laun rupanya para muridnya merasakan diabaikan kembali, dan mereka mulai menampakkan perasaan tidak senang kepada Tabriz. Lagi-lagi sufi pengelana itu, secara diam-diam meninggalkan Rumi, lantaran takut terjadi fitnah. Kendati Rumi ikut mencari hingga ke Damaskus, Tabriz tidak kembali lagi.

Rumi telah menjadi sufi, berkat pergaulannya dengan Tabriz. Kesedihannya berpisah dan kerinduannya untuk berjumpa lagi dengan gurunya itu telah ikut berperan mengembangkan emosinya, sehingga ia menjadi penyair yang sulit ditandingi. Guna mengenang dan menyanjung gurunya itu, ia tulis syair- syair, yang himpunannya kemudian dikenal dengan nama Divan-i Syams-i Tabriz. Ia bukukan pula wejangan-wejangan gurunya, dan buku itu dikenal dengan nama Maqalat-i Syams Tabriz.

Rumi kemudian mendapat sahabat dan sumber inspirasi baru, Syekh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Atas dorongan sahabatnya itu, ia berhasil selama 15 tahun terakhir masa hidupnya menghasilkan himpunan syair yang besar dan mengagumkan yang diberi nama Masnavi-i. Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair. Dalam karyanya ini, terlihat ajaran-ajaran tasawuf yang mendalam, yang disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain. Karya tulisnya yang lain adalah Ruba’iyyat (sajak empat baris dalam jumlah 1600 bait), Fiihi Maa fiihi (dalam bentuk prosa; merupakan himpunan ceramahnya tentang tasawuf), dan Maktubat (himpunan surat-suratnya kepada sahabat atau pengikutnya).

Bersama Syekh Hisamuddin pula, Rumi mengembangkan tarekat Maulawiyah atau Jalaliyah. Tarekat ini di Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (Para Darwisy yang Berputar-putar). Nama itu muncul karena para penganut tarekat ini melakukan tarian berputar-putar, yang diiringi oleh gendang dan suling, dalam dzikir mereka untuk mencapai ekstase.

œ

WAFAT. Semua manusia tentu akan kembali kepada-Nya. Demikianlah yang terjadi pada Rumi. Penduduk Konya tiba-tiba dilanda kecemasan, gara-gara mendengar kabar bahwa tokoh panutan mereka, Rumi, sakit keras. Meski menderita sakit keras, pikiran Rumi masih menampakkan kejernihannya.

Seorang sahabatnya datang menjenguk dan mendo’akan, “Semoga Allah berkenan memberi ketenangan kepadamu dengan kesembuhan.” Rumi sempat menyahut, “Jika engkau beriman dan bersikap manis, kematian itu akan bermakna baik. Tapi kematian ada juga kafir dan pahit.”

Pada 5 Jumadil Akhir 672 H dalam usia 68 tahun Rumi dipanggil ke rahmatullah. Tatkala jenazahnya hendak diberangkatkan, penduduk setempat berdesak-desak ingin menyaksikan. Begitulah kepergian seseorang yang dihormati ummatnya

October 17, 2008 Posted by | kisah-kisah | Leave a comment

Fadhail AhlulBait

Nash akan hak-hak yang harus diperolehi ahlul-bait

Ahlul-bait mempunyai beberapa hak yang harus dipelihara dengan baik oleh umat Islam. Antaranya, hak ke atas harta ghanimah, hak diselawati, hak untuk dicintai, diutama dan dijaga hubungan silaturrahim dengan mereka.

Memperolehi harta ghanimah

Allah SWT telah menentukan hak untuk mereka sebanyak seperlima dari harta ghanimah (harta rampasan perang). Firman Allah SWT : “Ketahuilah, sesungguhnya, apa sahaja yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil”(Al-Anfal:41)

Tiada perbezaan pendapat mengenai harta ghanimah pada Aal Muhammad SAW, iaitu ahlul-bait baginda, Ummuhatul Mukminin, serta kerabat baginda dari Bani Hasyim.

Nash memperolehi hak selawat dari umat Islam

Ahlul-bait juga memperolehi hak ucapan selawat dari umat Islam sebagaimana yang telah diajarkan oleh baginda Rasulullah SAW, yang ertinya seperti berikut:” Ya Allah, limpahkan selawat untuk Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau limpahkan selawat untuk Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.Dan berkatilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberkati Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

(Kedudukan selawat ini ialah di belakang rukun tahiyyat akhir setiap solat).

Pernyataan Rasulullah SAW dalam sepotong Hadeeth dari Imam Malik yang berasal dari  Nu’aim Al-Mujmar, berbentuk seperti berikut: “Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Muhammad, kepada para isteri dan anak-cucu keturunan beliau.” Ibnu Abdil-Barr menunjuk kepada sebuah Hadeeth Ibnu Humaid As-Saidi yang antara lain dengan erti seperti berikut: ” Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Muhammad, kepada isteri-isterinya, dan kepada anak-cucu keturunannya.” Sebuah Hadeeth lain pula menyebut:” Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Muhammad dan Aal (Ahli-bait) Muhammad.” Maksud Hadeeth yang kedua ini menyimpulkan makna Hadeeth yang sebelumnya. Sheikhul Islam Ibnu Taimiyah mengemukakan suatu Hadeeth lain yang menyentuh  peringatan Rasulullah SAW kepada para sahabat baginda : “Janganlah kalian berselawat untukku dengan Selawat Batra.” Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan Selawat Batra?”. Baginda menjawab :”Kalian mengucapkan: Ya Allah, limpahkan selawat kepada Muhammad, lalu kalian berhenti di situ! Ucapkanlah : Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Muhammad dan kepada Aal Muhammad.”

Kesimpulannya, para Aal dan ahlul-bait Rasulullah SAW memperolehi hak untuk diselawati sekurang-kurangnya lima kali sehari semalam dalam solat fardhu yang dikerjakan oleh umat Islam dimana sahaja mereka berada.

Nash mengenai pengharaman mengambil zakat oleh ahlul-bait

Ahlul-bait Rasulullah SAW juga diharamkan menerima sedeqah (termasuk zakat) yang disebut sebagai kotoran harta manusia.

Dari Abdul Muthalib ibnu Rab’ah ibnul Khariif, katanya Rasulullah SAW telah bersabda : ” Sesungguhnya sedeqah itu berasal dari kotoran harta manusia dan ia tidak dihalalkan bagi Muhammad mahupun bagi keluarga Muhammad .” (HR Muslim)

Tentang Hadeeth riwayat Muslim ini, Imam Nawawi memberikan penjelasan: “Kotoran manusia artinya ; zakat membersihkan harta dan jiwa mereka . `Allah Ta’aala berfirman : “Ambillah zakat dari sebahagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkaan dan mensucikan mereka.” (At-Taubah :103)

Zakat adalah pencuci kotoran. Ahlul-bait diharamkan menerima zakat bagi membersihkan mereka dan meninggikan kedudukan mereka. Sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, ahlul-bait dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (Al-Ahzab :33)

Alasan inilah yang menyebabkan ahlul-bait Rasulullah SAW tidak mengambil sedekah (zakat) semasa baginda masih hidup mahupun sesudah wafatnya.

Nash kecintaan Rasulullah SAW pada ahlul-bait baginda dan pesanan agar umat Islam mencintai mereka

`Ali RA menemui Rasulullah SAW yang telah menghampar selembar selimut, lalu baginda duduk atasnya bersama `Ali, Fatimah, Hassan dan Hussein. Kemudian baginda bersabda : “Ya Allah, ridhoilah mereka sebagaimana aku ridho kepada mereka.” Hadeeth riwayat At-Tarmizi bahawa Rasulullah SAW pernah bersabda : “Yang paling aku cintai di antara ahlul-baitku adalah Al-Hassan dan Al-Hussein.” Imam Muslim pernah meriwayatkan sebuah Hadeeth Rasulullah SAW mengenai Al-Hassan yang menyebut: “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia, dan cintailah siapa yang mencintainya.”

At-Thabarani dan lain-lain mengketengahkan sebuah Hadeeth yang bermaksud; “Belum sempurna keimanan seorang hamba Allah sebelum kecintaannya kepadaku melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri; sebelum kecintaannya kepada keturunanku melebihi kecintaannya kepada keturunannya sendiri; sebelum kecintaannya kepada ahli-baitku melebihi kecintaannya kepada keluarganya sendiri, dan sebelum kecintaannya kepada zatku melebihi kecintaannya kepada zatnya sendiri .”

Diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tarmizi dari `Ali RA bahawa Rasulullah SAW bersabda :”Barangsiapa mencintai kedua orang ini, yakni Hassan,Hussein dan ayah serta ibunya, maka ia bersama aku dalam darjatku di Hari Kiamat.” Ibnu `Abbas RA berkata bahawa Rasulullah SAW pernah bersabda : “Cintailah Allah atas kenikmatan yang diberikanNya kepadamu sekelian dan cintailah aku dengan mencintai Allah dan cintailah ahlul-baitku kerana mencintaiku” Ad- Dailami meriwayatkan sebuah Hadeeth dari `Ali RA yang menyebut sabda Rasulullah SAW: “Di antara kalian yang paling mantap berjalan di atas sirath ialah yang paling besar kecintaannya kepada ahlul-baitku dan para sahabatku.”

Dalil Hadeeth-Hadeeth di atas amat jelas dan nyata akan suruhan- suruhan dan pesananpesanan Rasulullah SAW agar umat Islam mencintai para ahlul-baitnya demi cinta dan ketaatan mereka pada baginda Rasulullah SAW sendiri.

Nash mengenai keutamaan ahlul-bait

Diriwayatkan oleh At-Thabarani, bahawa Jabir RA mendengar `Umar ibnu Khattab RA berkata kepada orang ramai ketika mengahwini Ummu Kalthum binti `Ali bin Abu Thalib : “Tidakkah kalian mengucapkan selamat untukku? Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: ` Semua sabab (kerabat) dan nasab (salasilah keturunan) akan terputus pada hari kiamat kelak kecuali kerabat dan nasabku’. “

Hadeeth ini bermaksud bahawa dalam keadaan kekelamkabutan dan huru- hara yang berlaku pada Hari Kiamat kelak, yakni sebelum berlakunya proses penghisaban, semua manusia akan menjadi `nafsu-nafsi’, iaitu hanya tertumpu semata-mata memikirkan nasib dan keselamatan dirinya sahaja, tidak akan ada orang yang dapat memberi pertolongan kepada orang lain, baik keturunannya mahupun kerabatnya, kecuali Rasulullah SAW sendiri yang diberikan keistimewaan untuk menghulurkan pertolongan kepada nasab dan kerabat baginda yang beriman dengan Allah dan RasulNya, selain kepada umat baginda yang lainnya.

Sebuah Hadeeth Thaqalain riwayat Zaid bin Al-Arqam RA menyebut : “Kutinggalkan di tengah kalian dua bekal. (Yang pertama): Kitabullah, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya terang. Hendaklah kalian ambil dan berpegang teguh padanya.dan (kedua) :Ahli Baitku. Kalian kuingatkan kepada Allah mengenai Ahli-Baitku! Kalian kuingatkan kepada Allah mengenai Ahli-Baitku!”

Dengan menyebut pesanan mengenai Ahli-Bait Nabi sebanyak dua kali, adalah sebagai suatu bentuk tekanan dan penegasan pada umat supaya perihatin terhadap apa yang menjadi hak dan kewajiban keturunan Rasulullah SAW. Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan dalam Hadeeth lain: “Apabila bintang-bintang lenyap, lenyaplah penghuni langit; dan apabila ahli-baitku lenyap, lenyap pula penghuni bumi.”

Sebuah Hadeeth riwayat Al Hakim dan disahihkan oleh Bukhari & Muslim menyebut : “Bintang-bintang merupakan (sarana) keselamatan bagi penghuni bumi (yang sedang belayar) dari bahaya tenggelam/karam sedangkaan ahlul-baitku sarana keselamatan bagi umatku dari perselisihan (dalam agama). Bila ada satu kabilah Arab yang membelakangi ahlul-baitku, mereka akan berselisih kemudian menjadi kelompok Iblis.”

Sebuah lagi Hadeeth Rasulullah SAW dari Abu Dzar menyatakan :” Ahlul- baitku di tengah kalian ibarat bahtera Nuh. Siapa yang menaikinya ia selamat dan siapa yang ketinggalan ia binasa.” (HR Ahmad, Al-Hakim, ibnu Jarir dan At-Tabarani dalam kitab Al-Kabir) Abu Dzar Al- Ghiffari RA menuturkan bahawa ia mendengar sabdaan Rasulullah SAW :””Jadikanlah ahlul-baitku bagi kalian sebagai kepala bagi jasad dan sebagai dua belah mata bagi kepala.”

Tegasnya, keutamaan ahlul-bait Rasulullah SAW diperakukan dalam hukum syarak mengikut nash hadeeth-hadeeth mutawatir yang tidak harus menimbulkan sebarang kekeliruan ataupun perselisihan. Keutamaan ini diperkukuhkan oleh khabar yang sahih bahawa keturunan baginda, Al-Mahdi akan menjadi khalifah akhir zaman kepada umat Islam.

Hadeeth riwayat Imam At-Tarmidzi, bahawa Rasulullah SAW telah bersabda : “Dunia tidak akan berakhir sehingga bangsa Arab dipimpin oleh seorang lelaki dari keluargaku yang namanya menyerupai namaku.” Dari Tufail dari `Ali RA Nabi SAW bersabda : ” Jika dunia ini hanya tinggal sehari sahaja nescaya Allah akan bangkitkan seorang lelaki dari keluargaku yang akan memenuhi dengan keadilan sebagaimana ia telah dipenuhi dengan kezaliman.”

Nash yang menyuruh umat Islam menghormati serta membantu ahlul-bait

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW pernah menegaskan:”Orang yang terbaik di antara kalian ialah orang yang terbaik sikapnya terhadap keluargaku setelah aku tiada” Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan sebuah Hadeeth :” Empat golongan yang akan memperolehi syafaatku pada hari kiamat: Orang yang menghormati keturunanku, orang yang memenuhi keperluan mereka, orang yang berusaha membantu urusan mereka pada saat diperlukan, dan orang yang mencintai mereka dengan hati dan lidahnya.”

At-Thabarani pula mengketengahkan Hadeeth dari Abdullah ibnu `Umar RA yang mengatakan: “Allah SWT menetapkan tiga `hurumat’ (hal-hal yang wajib dihormati dan tidak boleh dilanggar). Barangsiapa menjaga baik-baik tiga `hurumat’ itu, Allah akan menjaga urusan agamanya dan keduniaannya. Dan barangsiapa tidak mengendahkannya, Allah tidak akan mengendahkan sesuatu baginya. Para sahabat bertanya: Apa tiga hurumat itu ya Rasulullah? Baginda menjawab: Hurumatul Islam, hurumatku dan hurumat kerabatku.”

Nash yang menyuruh umat Islam menjaga hubungan ahlul-bait dan mengelakkan membenci mereka.

Dari Abu Said Al-Khudri RA, katanya, telah bersabda Rasulullah SAW :”Demi jiwaku yang berada dalam kekuasaanNya, sesungguhnya seseorang tidak membenci kami, ahlulbait melainkan Allah akan memasukkan mereka ke dalam neraka.” (HR Al-Hakim) Ketika puteri Abu Jahal meninggalkan orang tuanya untuk berangkat hijrah ke Madinah, berkata beberapa orang Muslimin kepadanya : “Hijrahmu ke Madinah tiada gunanya, kerana orang tuamu pasti akan menjadi umpan neraka”. Ketika anak perempuan itu melaporkan cemuhan orang terhadap dirinya itu kepada Rasulullah SAW, baginda dengan nada gusar bersabda : ” Kenapa sampai ada orang yang mahu mengganggu diriku dengan mencerca nasab dan keturunan kerabatku? Sungguhlah, siapa yang mengganggu kerabat dan nasabku bererti ia menggangguku, dan siapa yang menggangguku ia mengganggu Allah.”

At-Thabarani juga meriwayatkan Hadeeth dari Jabir ibnu Abdullah RA yang menceritakan beliau sendiri dengar dari Rasulullah SAW dalam suatu khutbah antara lain menyebut: ” Hai manusia, barangsiapa membenci kami, ahlul-bait, pada Hari Kiamat Allah akan menggiringnya sebagai orang Yahudi.” Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam sebuah Hadeeth Marfu’, bahawasanya Rasulullah SWT telah menegaskan: “Siapa yang membenci ahlul-bait ia adalah seorang munafik.”

Umat Islam harus mengambil pengajaran dari pesanan-pesanan baginda Rasulullah SAW dalam menjaga adab dan perhubungan dengan para ahlul- baitnya, serta memelihara diri dari bersikap negatif dan mengkhianati mereka. Dalam lain perkataan, hubungan dengan cucu cicit Rasulullah SAW perlu dipelihara dan diberi perhatian khusus kerana itu merupakan sebahagian dari ajaran agama Islam.

October 12, 2008 Posted by | agama | Leave a comment

Syarh Ratib Al-Haddad – Dari Yaman ke Dunia Melayu

SEKURANG-KURANGNYA ada dua jenis “wirid” atau disebut juga dengan “Ratib” yang sangat berpengaruh di kalangan orang-orang Arab, terutama golongan “Habaib” (Habib-Habib atau Saiyid/Syed) yang datang ke dunia Melayu. Yang pertama disebut “Ratib Al-Haddad” dan yang satu lagi dinamakan “Ratib Al-Attas”. Sebahagian besar yang diketahui oleh para pengamalnya, “Ratib Al-Haddad” ialah satu amalan yang dapat menenangkan jiwa, penuh berkat, terdapat beberapa fadhilat yang kadang-kadang menyalahi adat. Wirid atau ratib yang tersebut adalah disusun berdasarkan ayat-ayat al-Quran, doa, selawat, istighfar, dan sejenisnya. Yang pertama mengamalkannya ialah Al-Quthub al-Ghauts al-Habib as-Saiyid ‘Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad al-Haddad Ba’alawi al-Huseini al-Hadhrami asy-Syafi’ie. Ulama besar keturunan Nabi Muhammad S.A.W ini dilahirkan di Tarim, Yaman, pada 5 Safar 1044 H/30 Julai 1634 M dan wafat pada 7 Zulqa’idah 1132 H/10 September 1720 M.

Artikel ini bukan menceritakan riwayat hidup ulama yang tersebut tetapi adalah lebih memperkenalkan satu-satunya manuskrip bahasa Melayu yang membahas secara mendalam tentang “Ratib Al-Haddad”. Perlu saya sebutkan di sini bahawa hingga kini belum dijumpai “Ratib Al-Haddad” bahasan yang mendalam sepertinya dalam bentuk cetakan bahasa Melayu. Sungguh pun demikian, belum begitu lama, terdapat yang diusahakan oleh Syed Ahmad bin Muhammad bin Zain bin Semit cetakan yang ditulis dalam bahasa Arab, cetakan yang kedua Zulhijjah 1417 H/1997 M, diterbitkan oleh Pustaka Nasional Singapura. Manuskrip yang dalam bahasa Melayu diselesaikan pada hari Ahad, jam 4.00 petang, bulan 24 Syawal 1224 H/2 Disember 1809 M. Disalin kembali tahun 1317 H/1899 M. Judul lengkap manuskrip dalam bahasa Arab “Sabil al-Hidayah wa ar-Rasyad fi Syarh ar-Ratib al-Haddad”. Judul terjemahan dalam bahasa Melayu “Jalan Pertunjuk dan Pengajaran Pada Menyatakan Faedah Kelebihan Quthub Bangsa Haddad”. Karangan asal dalam bahasa Arab dilakukan oleh keturunan ulama tersebut, beliau ialah Habib ‘Alawi bin Ahmad bin al-Hasan bin ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad. Nama penterjemah dari bahasa Arab ke bahasa Melayu tidak dinyatakan, kemungkinan adalah diterjemahkan oleh yang mengaku pemiliknya bernama Ahmad Salim ibnu al-Marhum Syeikh Mat Juban Pontianak, Kampung Melayu.

Selain yang diberi judul di atas terdapat lagi manuskrip dalam bahasa Melayu, tetapi bahasan kandungannya berbeza, ialah “Kaifiyat Qiraat ar-Ratib al-Haddad”. Judul ini diterjemah oleh Saiyid Ahmad bin Muhammad al-’Aidrus, tidak terdapat tarikh selesai penterjemahan. Manuskrip ini bekas dimiliki oleh Ahmad bin ‘Abdullah bin Qadhi. Manuskrip “Kaifiyat Qiraat ar-Ratib al-Haddad” lebih bercorak cara-cara mengamalkan ratib, tanpa mengemukakan dalil. Sedang “Sabil al-Hidayah wa ar-Rasyad” (manuskrip yang pertama) secara garis besar kandungannya ialah lebih mengutamakan dalil-dalil al-Quran dan hadis lebih lengkap untuk membuktikan bahawa amalan yang diajar oleh Quthub al-Ghauts al-Habib as-Saiyid ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad adalah tidak menyimpang dari ajaran Islam yang diajarkan oleh datuk nenek beliau, iaitu Nabi Muhammad S.A.W. Jika kita membuat perbandingan kandungan yang terperinci antara manuskrip bahasa Melayu dengan yang bahasa Arab cetakan Pustaka Nasional Singapura ternyata ada beberapa perkara yang dibicarakan dalam manuskrip Melayu tidak terdapat dalam yang bahasa Arab. Demikian juga sebaliknya.

Dalam manuskrip yang bahasa Melayu dicatatkan tulisan Saiyid ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad dalam “Kitab Manaqib”, kata beliau, “Barangsiapa orang yang membiasakan atas ratib kami, nescaya dikurniai [oleh] Allah Ta’ala akan dia sebaik-baik kesudahan mati di dalam kalimah … “. Yang dimaksudkan di sini ialah mati dalam agama Islam dan beriman. Sebagaimana terdapat pada salah satu doa dalam ratib, yang terjemahannya “… matikan kami dalam agama Islam”. Doa ini pula ada hubungkait dengan doa dalam ratib juga, yang maksudnya, “Kami semata-mata ridha terhadap Allah, tuhan kami, kami suka agama Islam, adalah agama kami dan Nabi Muhammad S.A.W, Nabi kami”. Terhadap Allah, Islam dan Nabi adalah sangat ditekankan dalam ilmu ‘aqidah supaya beri’tiqad dengan jazam dan betul. Perlulah diperhatikan, kerana sewaktu kita masuk kubur yang tersebut adalah pertama-tama perkara yang ditanya. Selain fadhilah untuk menghadapi sakarat al-maut, beliau sebut juga bahawa “Ratib al-Haddad” berfungsi “Dipeliharakan [oleh] Allah Ta’ala daripada terbakar, dan kecurian, dan tiada terbunuh orang akan dia … Ratib ini dibaca tiap-tiap ditimpa dukacita, nescaya diberi [oleh] Allah kesukaan”. Semua yang diriwayatkan bahawa bacaan-bacaan dalam ratib ada hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam hadits shahih.

Sebagai bukti “Ratib al-Haddad” sangat berpengaruh, dalam rangka “Majlis Haul Habib as-Saiyid ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad”, telah diadakan perhimpunan acara membaca ratib tersebut di Masjid Baitul Aman, di Jalan Damai, Kuala Lumpur, pada malam Sabtu 1 Zulqa’idah 1426 H/3 Disember 2005 M. Yang hadir selain dari seluruh Malaysia, ramai pula yang datang dari Singapura, Brunei Darussalam, Indonesia, India, Yaman, dan negara-negara lainnya. Acara diteruskan ke Batu Pahat (Johor), Temerloh (Pahang) dan Singapura. Selain membaca “Ratib al-Haddad” juga diadakan ceramah yang khusus membicarakan kehebatan dan jasa-jasa besar Saiyid ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad dalam penyebaran Islam. Karya-karya beliau telah diterjemahkan ke pelbagai bahasa dan tersebar di seluruh dunia.

October 12, 2008 Posted by | agama | Leave a comment

Tertahannya Matahari

Dari Kalam Habib As-Syekh Abdurrahman Asseggaf

Salah satu dari kekeramatan Sayyidina As-Syekh Abdurrahman As-Segaff adalah bisa menahan matahari atau waktu. Murid beliau yang bernama As-Syekh Abdurrahim bin Ali Al-Khotib, bercerita mengenai hal ini:

“Sekali waktu kami pulang bersama-sama dengan As-Syekh As-Segaff dari ziarah ke makam Nabi Allah Hud As, pada waktu itu hari telah menjelang senja, ketika beliau berkata: pada akan sholat maghrib di Faraj”. Kami pun merasa keheranan karena tidak akan mungkin kami sempat sholat Maghrib di Faraj. Beliau meminta kami untuk berzikir sambil terus berjalan. Ternyata matahari berhenti atau tertahan sampai akhirnya kami sampai di Faraj, hingga karni sempat menunaikan sholat Maghrib. Kami pun saling membicarakan kejadian yang baru saja kami alami. Keramat beliau ini seperti yang terjadi pada Al-Wali Al-Kabir As-Syekh Ismail Al-Hadhrami.”

October 12, 2008 Posted by | kisah-kisah | Leave a comment

Melacak Akar Madzhab Hadramaut

Suasana kota-kota di Hadramaut cukup menyenangkan, jalan-jalan yang ada bukan terbuat dari batu, namun rata-rata bersih karena angin sahara sering turut menyapu jalan-jalan kota itu. Jarang sekali ada kursi di rumah-rumah penghuni, yang ada ialah qatifah (permadani), tempat menampung dhuyuf (para tamu). Fungsi permadani memang di sini jadi serba-guna: untuk menerima tamu (istiqbaal), namun juga untuk tempat makan. Tak jarang tempat yang sama ini juga dibuat untuk aktivitas ibadah, seperti shalat, rouhah (pengajian) maupun dhikir. Bahkan jika ruang tak cukup untuk menerima tetamu yang tidur, qatifah jadi alternatif tempat tidur cadangan. Sisa-sisa tradisi ini masih ditemui keturunan Hadharim di Nusantara.

Di Hadramaut terdapat sekitar 365 Masjid Jami’, jumlah ini sama dengan jumlah hari dalam setahun. Rata-rata masjid yang ada sudah ma’mur (terpelihara dan banyak jama’ah) karena para pengurus ta’mir yang mengelola tak perlu susah “mengajak” orang untuk shalat dan beri’tikaf di dalam masjid, sebab kesadaran rohaniah warga Hadramaut terhadap ibadah mahdhah cukup tinggi, hingga membuat masjid jadi satu-satunya bangunan yang paling ramai dikunjungi warga sampai kini. Apalagi di bulan suci Ramadhan.

Hal lain yang menarik, dan sering menimbulkan tanda tanya, yaitu sejak adanya isu yang mengkaburkan sejarah: Apakah akidah dan madzhab warga Hadrmaut? Sengaja dibentuk opini yang meragukan itu, untuk menyusupkan pendapat mereka yang menyesatkan. Agaknya perlu ditegaskan kembali berdasarkan fakta-fakta baik telaah dokumen maupun realitas amaliyah anak turunannya sekarang. Bahwa tidak syak lagi, mayoritas Muslimin di Hadramaut adalah mutlak Sunni Syafi’i (Baca: Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara, INIS, 1989). Kawasan ini seperti Makkah dan Madinah, tidak ada orang non Muslim. Jika tidak darurat betul, orang kafir (Kristen, Yahudi dan Majusi) tidak dibenarkan masuk kota-kota ini. Sisa-sisa sekte sempalan memang masih ada namun berada di “pinggiran” dan bisa dihitung jemari sebelah tangan, misalnya sekte-sekte sisa itu adalah bisa disebut di sini: Abadhi, Syi’i dan Zaydi.

Menurut Al-`Allamah Al-Habib Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syatiri, akidah dan madzhab Ahmad bin `Isa Al-Muhajir adalah jelas sekali sebagai Sunni Syafi’i. Dijelaskan, bagaimana tidak Sunni Syafi’i, padahal beliau itu yang membawa akidah dan madzhab ini ke Hadramaut. Berdasarkan penelitian beliau, asas akidah ini tidak bertentangan dengan madzhab kakek-kakeknya yang bersanad sampai ke Rasulillah secara mutawatir [berkesinambungan].(Baca: Asy-Syatiri dalam Adwaar At-Tarikh al-Hadhrami, [Jilid I], Jeddah: `Alam al-Ma`rifah, 1303 H/1983, h. 160-161). Oleh karena itu klaim yang mengatakan, bahwa Madzhab `Alawiyyin adalah Shi`ah Ithna `Ashariyah adalah semata sebagai ilusi dan bertentangan dengan sejarah dan kenyataan sosial. Jangankan Shi’ah Ithna `Asyariyah, Syi’ah Zaydiyah yang pernah bercokol lama di Yaman saja, tak mampu mempengaruhi teologi habaib di sana. Adapun kesamaan menyangkut mahabbah Ahl al-Bayt itu adalah doktrin Sunni pula, yang tak bisa dikatakan sebagai ada pengaruh Shi`ah karena sumber pengambilan (mahabbah) itu sendiri berbeda.

Sejak masa Habib `Abdullah Al-Haddad (Sahib ar-Ratib) sampai sekarang, para ulama bangga dengan akidah dan madzhabnya yang Sunni dan Syafi’i. Misalnya dalam kitab-kitab yang dikarangnya selalu mengabadikan dan menggunakan nama lengkap dengan sebutan madzhab sekaligus: dalam kitab (Terbitan Kairo, 1978 yang diberi catatan kaki oleh Mufti Mesir, Hasanayn Muhammad Makhluf yang terkenal itu), dan kitab-kitab lain karangannya tak lupa memberi akhiran kata dengan al-Hadhrami al-Syafi’i atau Sunni Syafi’i di belakang nama mereka masing-masing. Dan juga Ratib Al-Bar yang menyebutkan di akhir doa agar diwafatkan “dalam Sunnah wal jama’ah” (h. 320) dan doa-doa tawassul Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdar kepada keluarga, sahabat, Fatimah Az-Zahra r.a.dan Ummuhaat al-Mukminin (dengan disebut nama-nama Khadijah dan `Aisyah r.a. (h. 189) semua ini ada dalam kitab “Sabil al-Muhtadin: fi Dzikri Ad’iyah Ashab al-Yamin” oleh Habib Abdullah bin Alwi bin Hasan Al-Attas) dan doa-doa lain dari tokoh wali/ulama masa lalu, sampai sekarang tak pernah berubah. Doa – doa dan munajat itu senantiasa dibaca anak keturunan mereka. Bahkan secara kontinyu, dan terus-menerus nama-nama para pemuka sahabat diberikan kepada generasi ke generasi berikutnya seperti nama-nama Abu Bakar, `Umar, Uthman dan tentu saja `Ali (Empat Khalifah).

Bahkan tokoh besar yang berpengaruh di Hadramaut sampai sekarang berasal dari nama-nama pemuka sahabat Rasulullah, sebut saja misalnya Syaikh Abubakar bin Salim, melahirkan klan-klan seperti Al-Haddar, Al-Muhdar, Al-Hamid, Al-Bahar Bin Idrus dan sebagainya. Juga banyak ditemukan nama-nama Umar, seperti pendiri masjid tua bernama Masjid “Umar Al-Muhdar” di Tarim (ini cikal-bakal Al-Muhdar), juga nama Uthman sampai kemudian menjadi mufti besar nusantara (berasal dari Hadramaut). Belum lagi nama-nama sahabat lain, yang sengaja dengan bangga mereka abadikan, menunjukkan bukti-bukti kongkret mereka sama sekali tidak terpengaruh Syi’ah meskipun Zaydiyah (yang cuma sekadar sebagai Syi’ah Tafdhil/Syi’ah Pengutamaan Ali di antara sahabat yang lain namun akidahnya sama dengan Sunni). Karena mereka yakin atas kesinambungan sanad aqidah dan madzhab yang dianutnya.

Inilah bukti yang kemudian melanggengkan Thariqah `Alawiyah mereka, bahkan jangan lupa anak cucu, para pemuka ulama tersebut adalah pelopor dakwah Islam ke “ufuk timur”, seperti di anak benua India, Kepulauan Melayu dan Nusantara. Juga ada yang ke daerah Afrika seperti Etiopia sampai Madagaskar. Toh manhaj mereka tak pernah bergeser dari asas keyakinan yang berdasarkan Al-Qur`an, As-Sunnah, Ijma dan Qiyas. Karena itu lalu “warna” keagamaan antara Hadramaut dan Nusantara serta kawasan “koloni dakwah sejuk” mereka sama, yaitu Sunni dengan Thariqah `Alawiyyah-nya.

Selain daripada itu, ke Indonesia mereka tak membawa para isteri ketika berdakwah, namun sambil berdagang mengajar agama kepada penduduk pribumi dengan dasar ikhlas dalam kadar yanag tinggi. Bahkan banyak kemudian yang kawin dengan wanita penduduk pribumi, makanya pribumi disebut ahwaal (saudara-saudara ibu) sampai sekarang. Ini menunjukkan bahwa dakwah rintisan mereka secara kultural itu berhasil dengan baik di sini, dan jika kita melihat sekarang Indonesia jadi mayoritas Muslim, hal ini adalah niscaya merupakan berkat dakwah ikhlas beliau-beliau para habaib tersebut.

Di Hadramaut sendiri aqidah dan madzhab Al-Muhajir alias Sunni Syafi’i ini terus berkembang sampai sekarang tanpa sedikit berkurang. Hadramaut kini jadi model Sunni yang “ideal” karena kemutawatiran sanad tadi itu. Bisa dilihat bagaimana amalan mereka: Pertama, dalam bidang ibadah mahdhah tetap berpegang pada Syafi’i seperti pengaruh yang pernah ditinggalkan di Nusantara (Indonesia). Kedua, dalam bidang tasawwuf; meskipun ada nuansa Ghazali, namun di Hadramaut menemukan bentuknya yang khas, yakni tasawwuf Sunni Aslaf `Alawiyyin Shalihin yang sejati.

Sebab itu, misalnya kita saksikan tetap shalawatnya dengan “alihi wa shahbihi” di mana-mana. Shalat lima waktu bukan 3 waktu seperti tuduhan Syi’ah di sini. Dari syahadat sampai azan, juga Jum’at dan shalat tarawih dilaksanakan sesuai doktrin Sunni. Ini menunjukkan para ulama, sejak dulu sampai sekarang tetap konsisten dan konsekwen dengan manhaj Ahl Sunnah wal Jama’ah.

Yang beda mungkin dengan di sini (Indonesia), di Hadramaut tidak banyak diadakan haul. Seakan haul ini “disatukan”, yakni ketika menyelenggarakan haul Nabi Allah Hud a.s. di setiap akhir bulan Sya’ban Saat inilah berkumpul ratusan ulama Sunni Syafi’i Alawi dari berbagai negeri.

Makam kuno Nabi Hud a.s. berada di bukit yang agak terjal, sedangkan di bawah ada haudz (telaga) — yang aneh sekali — sepanjang tahun airnya tak pernah kering meski panas mentari membakar terus. Dalam cerita, Nabi Hud a.s. ini adalah manusia pertama yang berbicara dalam Bahasa Arab (Lihat: Qishash al-Anbiya. Dar al-Fikr, Beirut). Ada makam Nabi Saleh a.s., dan juga petilasan eks kerjaan indah Ratu Balqis (Bilqis), di Ma’rib yang dilukiskan sejarah adalah seorang Ratu yang cantik dan mempesona namun ia menyembah selain Allah, membuat Sulaiman marah, dan dengan bantuan “anak buah”, Sulaiman mengangkat singgasana Balqis di depan tahtanya. Akhirnya Ratu menyerah dan mengabdi kepada Allah, sekaligus jadi permaisuri Sulaiman yang kaya.

Dari momen haul Nabi Hud tadi lalu para peziarah melanjutkan wisata rohaniah mereka ke lain-lain seperti ziarah ke Zambal, Masjid Habib Abdullah Al-Haddad di Hawi dan tak lupa ke rumah munshib, Habib Umar bin Hafidz. Juga mampir ke Ponpes (Pondok Pesantren) Dar al-Mustafa dan Ribat Tarim (Ponpes tertua). Ada juga yang kemudian melanjutkan perjalanan ke Mukalla (kota kecil dekat laut), di sini ada Universitas Al-Ahqaf yang dipimpin oleh Dr Abdullah Baharun, juga ada asy-Syihr, kota tempat para wali dan ulama juga. Bahkan ada yang mampir ke Sana’a dan Aden untuk sekedar menikmati pemandangan dengan nuansa sahara

October 12, 2008 Posted by | agama | Leave a comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.