Hadist 1Tentang Niat
Dari amiril mukminin abi hafshin ibn khattab ra. Berkata saya mendengar Rasulullah SAW. Berkata “sesungguhnya segala amal tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang, perkara apa yang diniatkan. Maka barang siapa berhijrah kepada Allah swt dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-NYA. Dan barang siapa berhijrah kepada urusan dunia, dia akan mendapatkannya atau kepada perempuan dia akan dapat menikahinya. Maka hijrahnya seseorang kepada apa-apa yang di hijrahkan didalamnya,”[diriwayatkan oleh dua imam para hadist, abu ubaidillah muhammad ibn ismail ibn ibrahim ibn al mughirah ibn bardizbah al bukhori dan abu husaini muslim ibn muslim al kusairi an naisaburiy dalam 2 kitab shohih yang keduanya kitab shohih yang tersusun.
Pudarnya Pesona Cleopatra
Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalam kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal. “Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu,” kata ibu.
“Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu,” ucap beliau dengan nada mengiba.
Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi di hatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.
Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun. Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali.
Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, “Cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli !” kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas Arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.
Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk di pelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah dengan empat group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya!
Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya. Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku.
***
Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang. Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing.
Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja. Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.
Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab, “tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga.”
Ada kekagetan yang kutangkap di wajah Raihana ketika kupanggil ‘mbak’, “Kenapa Mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa Mas sudah tidak mencintaiku,” tanyanya dengan guratan wajah yang sedih.
“Wallahu a’lam,” jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, “Kalau Mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri, kenapa Mas ucapkan akad nikah?”
“Kalau dalam tingkahku melayani Mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa Mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa Mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan Mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku di dunia ini,” Raihana mengiba penuh pasrah.
Aku menangis menitikkan air mata, bukan karena Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku, menyiapkan segalanya untukku.
***
Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai di rumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi. Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir.
“Mas tidak apa-apa,” tanyanya dengan perasaan kuatir. “Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih,” lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. ”Mas airnya sudah siap,” kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri di depan pintu membawa handuk. ”Mas aku buatkan wedang jahe.” Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan.
Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. “Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?” tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar. ”Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas”.
“Biasanya dikerokin,” jawabku lirih. “Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin,” sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengeroki punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus.
Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra.
Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di istananya. “Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan denganmu,” kata Ratu Cleopatra. “Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu.” Aku mempersiapkan segalanya. Tepat pukul 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian.
Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba “Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat Isya,” kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa. “Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya,” lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam.
Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya.
Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.
***
“Mas, nanti sore ada acara aqiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang,” suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe.
Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. “Maaf..maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana,” lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. “Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din..Dinda Hana!,” panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan.
“Ya Mas!” sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil ‘dinda’. Matanya sedikit berbinar. “Te..terima kasih Di..dinda, kita berangkat
bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah,” ucapku sambil menatap wajah Hana
dengan senyum yang kupaksakan.
Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar di bibirnya. “Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?” Hana begitu bahagia.
Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah.
Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini. Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini.
Acara pengajian dan aqiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga. “Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam keluarga!” sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan bundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal.
Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik di kampusnya dan hafal al-Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.
Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana.
Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku.
Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan. “Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu,” kata ibuku. “Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?” sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.
Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis.
Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya, “Mana tanggung jawabmu!” Aku hanya diam dan mendesah sedih. “Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta,” gumamku.
Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia ke rumahnya.
Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal di kontrakan. Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, “Mas, untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh di bawah bantal, nomor pin-nya sama dengan tanggal pernikahan kita.”
Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya. Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir.
Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan perut mual. Saat itu terlintas di hati andaikan ada Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut.
Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.
Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa Arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa Arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang Mesir.
Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa Arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. ”Apakah kamu sudah menikah?” kata Pak Qalyubi.
“Alhamdulillah, sudah,” jawabku.
“Dengan orang mana?”.
“Orang Jawa.”
“Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?”.
“Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran”.
“Kau sangat beruntung, tidak sepertiku.”
“Kenapa dengan Bapak?” “Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang”.
“Bagaimana itu bisa terjadi?.”
“Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dan karena terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya begini, saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua. Di sana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predikat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.
Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantik itu. Saya bersumpah tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dia. Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua.
Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al-Azhar yang hafal al-Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan Yasmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetapi saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi Yasmin.
Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir. Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S-1 saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. Kami langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan.
Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan Yasmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta Yasmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali, Yasmin tidak bisa.
Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi. Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengin rending, saya harus ke warung. Yasmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia.
Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya. Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta Yasmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir.
Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedi yang menyakitkan. “Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir.”
Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal.
Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang membelaku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita bohong.
Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang.”
Mendengar cerita Pak Qalyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa sudah dua bulan aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala di dindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya.
Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke toko baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan di bawah bantal. Di bawah kasur itu kutemukan kertas merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku serong.
Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan Rabbi, ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya. Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.
“Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh di hadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah Kau muliakan hamba dengan al-Quran. Kalaulah bukan karena karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok ke dalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba,” tulis Raihana.
Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa, “Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintu-Mu, melabuhkan derita jiwa ini ke hadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.
Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena kelalaiannya. Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau.”
Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tangannya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam keharuan terasa ada angin sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat di mata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi cintaku dengan Raihana.
Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku. Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu- sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis.
“Mana Raihana Bu?”. Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa
sebenarnya yang telah terjadi.
“Raihana…, istrimu….istrimu dan anakmu yang di kandungnya”.
“Ada apa dengan dia?”
“Dia telah tiada.”
“Ibu berkata apa!”
“Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu. Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya”. Hatiku bergetar hebat. “Kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?”.
“Ketika Raihana di bawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, jadi maafkanlah kami.”
Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira. Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru di kuburan pinggir desa. Di atas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali. Dunia tiba-tiba gelap semua.
Potongan dari Novel: Habiburrahman El Shirazy, Pudarnya Pesona Cleopatra (Novel Psikologi Islam Pembangun Jiwa)
Bidadari Syurga, Ainul Mardiyah
sentroclub
Kisah ini Sudah sangat terkenal. Penulis diambil dari salah seorang blogger. Ada bebrapa referensi lain, misalnya dari milis, Myquran. Ataupun dari milis. Yang saya pahami, bahwa kisah ini hanyalah karangan seorang sastrawan Aceh, untuk memberikan semangat kepada pemuda pemuda di Aceh dalam melawan penjajahan. Jadi bukan kisah nyata. Wallahu a’lam. Namun demikian, alangkah bagusnya jika kita bisa mengambil ibroh/pelajaran dari kisah kisah tersebut.
_________________________________________________
Dalam suatu kisah yang dipaparkan Al Yafi’i dari Syeikh Abdul Wahid bin Zahid, dikatakan: Suatu hari ketika kami sedang bersiap-siap hendak berangkat perang, aku meminta beberapa teman untuk membaca sebuah ayat. Salah seorang lelaki tampil sambil membaca ayat Surah At Taubah ayat 111, yang artinya sebagai berikut :
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan sorga untuk mereka”
Selesai ayat itu dibaca, seorang anak muda yang berusia 15 tahun atau lebih bangkit dari tempat duduknya. Ia mendapat harta warisan cukup besar dari ayahnya yang telah meninggal. Ia berkata:”Wahai Abdul Wahid, benarkah Allah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan sorga untuk mereka?” “Ya, benar, anak muda” kata Abdul Wahid. Anak muda itu melanjutkan:”Kalau begitu saksikanlah, bahwa diriku dan hartaku mulai sekarang aku jual dengan sorga.”
Anak muda itu kemudian mengeluarkan semua hartanya untuk disedekahkan bagi perjuangan. Hanya kuda dan pedangnya saja yang tidak. Sampai tiba waktu pemberangkatan pasukan, ternyata pemuda itu datang lebih awal. Dialah orang yang pertama kali kulihat. Dalam perjalanan ke medan perang pemuda itu kuperhatikan siang berpuasa dan malamnya dia bangun untuk beribadah. Dia rajin mengurus unta-unta dan kuda tunggangan pasukan serta sering menjaga kami bila sedang tidur.
Sewaktu sampai di daerah Romawi dan kami sedang mengatur siasat pertempuran, tiba-tiba dia maju ke depan medan dan berteriak:”Hai, aku ingin segera bertemu dengan Ainul Mardhiyah . .” Kami menduga dia mulai ragu dan pikirannya kacau, kudekati dan kutanyakan siapakah Ainul Mardiyah itu. Ia menjawab: “Tadi sewaktu aku sedang kantuk, selintas aku bermimpi. Seseorang datang kepadaku seraya berkata: “Pergilah kepada Ainul Mardiyah.” Ia juga mengajakku memasuki taman yang di bawahnya terdapat sungai dengan air yang jernih dan dipinggirnya nampak para bidadari duduk berhias dengan mengenakan perhiasan-perhiasan yang indah. Manakala melihat kedatanganku , mereka bergembira seraya berkata: “Inilah suami Ainul Mardhiyah . . . . .”
“Assalamu’alaikum” kataku bersalam kepada mereka. “Adakah di antara kalian yang bernama Ainul Mardhiyah?” Mereka menjawab salamku dan berkata: “Tidak, kami ini adalah pembantunya. Teruskanlah langkahmu” Beberapa kali aku sampai pada taman-taman yang lebih indah dengan bidadari yang lebih cantik, tapi jawaban mereka sama, mereka adalah pembantunya dan menyuruh aku meneruskan langkah.
Akhirnya aku sampai pada kemah yang terbuat dari mutiara berwarna putih. Di pintu kemah terdapat seorang bidadari yang sewaktu melihat kehadiranku dia nampak sangat gembira dan memanggil-manggil yang ada di dalam: “Hai Ainul Mardhiyah, ini suamimu datang . …”
Ketika aku dipersilahkan masuk kulihat bidadari yang sangat cantik duduk di atas sofa emas yang ditaburi permata dan yaqut. Waktu aku mendekat dia berkata: “Bersabarlah, kamu belum diijinkan lebih dekat kepadaku, karena ruh kehidupan dunia masih ada dalam dirimu.” Anak muda melanjutkan kisah mimpinya: “Lalu aku terbangun, wahai Abdul Hamid. Aku tidak sabar lagi menanti terlalu lama”.
Belum lagi percakapan kami selesai, tiba-tiba sekelompok pasukan musuh terdiri sembilan orang menyerbu kami. Pemuda itu segera bangkit dan melabrak mereka. Selesai pertempuran aku mencoba meneliti, kulihat anak muda itu penuh luka ditubuhnya dan berlumuran darah. Ia nampak tersenyum gembira, senyum penuh kebahagiaan, hingga ruhnya berpisah dari badannya untuk meninggalkan dunia. ( Irsyadul Ibad ).
Resensi buku “the dreamer’s handbook”
Judul buku : THE DREAMER’S HANDBOOK ( takwil mimpi menurut sunnah )
Penulis : Muhammad Mustofa Al jibaly
Penerbit : Bina Ilmu, Surabaya
Cetakan : Pertama,2007
Tebal : xxvi +364 halaman
Sepanjang sejarah,mimpi adalah salah satu isu yang mengasyikkan. Tak sedikit orang yang mendasarkan sesuatu, bersandar pada kepada mimpi. Sehingga hal ikhwal serta penafsiran tentang mimpi menjadi sesuatu yang menarik.
Mimpi dan tidur adalah 2 hal yang tak terpisahkan. Tidur seperti kata Rasulullah SAW. Adalah sebuah kematian kecil. Tidur dapat menjadi media beristirahat yang menyenangkan, tapi sebaliknya bisa menjadi sarana munculnya ketakutan, kegelisahan, kegundahan hati. Sebagaimana kisah nabi Yusuf As, dimana ketika dipenjara beliau mampu menafsirkan mimpi seorang raja Mesir.
Islam menghadirkan pemahaman yang jernih tentang mimpi dan tidur, sehingga pemahaman temuan tidur tidak salah dan tetap pada acuan sunnah, karena banyak kasus yang terjadi karena kegalauan hati mengenai mimpi maka seseorang bisa terjerumus dalam hal-hal yang dilarang seperti percaya buta, bahkan bisa menyebabkan kesyirikan.
Ada sebelas bab yang memungkinkan kita leluasa meyelami dunia mimpi. Bab 1, mengupas tentang jiwa. Ada pembahasan tentang makna spritual tidur. Dijelaskan bahwa jiwa meninggalkan tubuh atas kehendak dan kontrol Allah swt saat kita tidur. Dari itulah bisa dikatakn tidur disebut sebagai kematian kecil. Jiwa-jiwa yang terlepas ini mungkin sekali, lalu dapat mengingat perjalanan mereka,hal yang lalu kita sebut mimpi (h.9).
Oleh karena itu penting kiranya kita menyiapkan diri untuk menyambut kematian kecil itu, dengan memperhatikan adab dan dzikir malam hari. Juga tidak boleh mengabaikan berdoa sebelum maupun ketika terjaga dari tidur.
Apakah mimpi itu? Secara bahasa, mimpi adalah sebuah visi yang dilihat oleh seseorang rapat dia tidur. Mimpi termasuk dalam teka-teki spritual dalam kehidupan ini. Mengutip kitab fathu al-bari, dijelaskan bahwa mimpi adalah pantulan-pantulan yang Allah tanamkan ke dalam hati seseorang baik melalui malaikat maupun setan. Mimpi itu menghadirkan sesuatu eksplisit atau kiasan, juga campuran keduanya yang tak punya makna sama sekali. Dengan demikian, mimpi itu menyerupai pemikiran-pemikiran yang berlangsung saat terjaga, yang mungkin sekali diorganisir, sebagaiman suatu cerita yang bersegmen.
Ada 3 kategori mimpi. Pertama, mimpi yang benar diilhamkan oleh malaikat. Kedua, mimpi yang menakutkan dibisikkan oleh setan. Ketiga, mimpi campur aduk, ditimbulkan pemikiran dan hasrat sang pemimpi.
Yang pasti kebenaran suatu mimpi sebanding dengan tingkat imam dan keshalihan seseorang.
Kita simak kisah menakjubkan dalam sejarah kemanusian yang dialami oleh nabi Ibrahim As yang dijelaskan oleh Allah swt di Al Quran di surat 37 ayat 100-102, bahwa perintah Allah disampaikan melalui mimpi. Lalu pada kisah nabi Yusuf As saat menafsiri mimpi raja mesir. Maka setelah para ahli ramal ketika itu mengatakan bahwa mimpi raja itu kosong, yusuf as mampu menakwilnya(lihat QS.12:46-49).
Sekali lagi kebenaran suatu mimpi sebanding dengan tingkat imam dan keshalihan seseorang, seperti kisah-kisah mimpi sejumlah sahabat nabi SAW yang mempunyai makna dan arti kebenaran. terlepas cari itu semuanya berada pada Kekuasaan Allah SWT yang Maha Agung.wallahua’lam bishowab.
DEBAT TERBUKA: Wahabi vs LBM PC NU Jember
SURABAYA – Direktur pasca sarjana IAIN Sunan ampel dalam sambutan seminar pada Rabu, 12 Maret 2008 menyebut bahwa seminar ini diberi nama Wahabi versus NU oleh anak-anak. Seharusnya tidak demikian, karena hal tersebut kurang baik.
Prof. Zahra merasa kecewa dengan ketidakhadiran tokoh Salafi Wahabi yang menantang orang NU dengan buku “Mantan Kiai NU Mengugat Sholawat dan Dzikir Syirik” [Mahrus Ali].
Namun Prof. Zahra merasa sangat kecewa dikarenakan pihak pengarang buku tidak mau datang. “Kalau alasan tidak datang masalah keamanan. Maka yang paling tersinggung adalah saya,” demikian keluhnya. “Di sini saya jamin kemanannya. Ini tempat ilmiah. Tidak akan ada masalah yang dikhawatirkan tentang keamanannya. Mengapa harus takut,” tambahnya
Walau demikian, pihak pasca sarjana tetap menghadirkan orang yang telah memberikan kata pengantar buku tersebut yakni Ust. Mu’ammal Hamidy, Ketua PW Muhammadiyah Jatim. Ust. Mu’ammal Hamidy ini ditengarai sebagai Wahabi senior, karena umur sudah kepala enam.
KH. Mu’ammal Hamidy berkenan hadir dalam debat terbuka yang digelar di ruang Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel, Surabaya – Jawa Timur, Rabu beberapa hari yg lalu.
Namun semua audient seminar dibuat kecewa dengan pernyataan Ust. Mu’ammal Hamidy, yang menyatakan bahwa dia mengakui jika dirinya tak paham dan tak menguasai masalah. “Saya tidak kenal dan tak pernah bertemu dengan Mahrus Ali. Jujur. saya juga belum keseluruhan membaca buku tersebut,” demikian tuturnya saat mengawali debatnya. Padahal dalam kata pengantarnya, Ust. Mu’ammal Hamidy menyatakan telah menelaah dan mengkaji isi buku tersebut!.
Kemudian dia menjelaskan bahwa tawassul (berdoa melalui perantara) merupakan perbuatan syirik (menyekutukan Allah). Nah saat dihujani pertanyaan dari penulis buku bantahan yang berjudul membongkar kesalahan buku Mahrus Ali tersebut yaitu KH. Abdullah Syamsul Arifin, Ketua Tim Lembaga Bahtsul Matsail (LBM) Pengurus Cabang NU Jember-Jatim; Ust. Muammal Hamidy mengaku salah, khilaf, dan hal itu semata hanya ijtihad pribadinya.
Ust. Muammal Hamidy yang pernah belajar Jami’ah Islamiyah, Madinah – Arab Saudi itu akhirnya kewalahan serta tidak bisa menjawab semua pokok pertanyaan dari Ketua LBM PC NU Jember itu.
Karena Ust. Muammal Hamidy menyerah, maka oleh Abdul Basith, pemandu acara tersebut, akhirnya debat terbuka tersebut dihentikan di tengah jalan.
Tentu para hadlirin menganggap para Salafi Wahabi merupakan orang-orang picik, lari dari keilmiahan. Tak berani adu argument. mereka hanya menyalahkan tanpa dasar-dasar yang kuat. Hanya mengekor dan mbebek pada paham dan imam-imam mereka saja [rid/pm
kUMPULAN rETAKAN pUING-pUING hATI
Dalam diam ada tangis yg tertahan
Dalam diam ada rindu yg tak terungkap
Dalam diam ada cinta yg membiru
Dan dalam diamku bukan berarti ku tak tau apa
Yg kamu lakukan dalam diam dan kebisuan
Ingin kulari dari bayang wajahmu
Inginku membenci dirimu
Tapi yg terjadi adalah sebaliknya
Semakin ku mencintaimu semakin dalam rasa cinta
Dan kenyataan ini menyiksaku
Mungkin semua ini karena adanya kehadiranmu dalam bayangku
yang tanpa sengaja dapat selalu indahkan
Seluruh hari-hariku
Ketenangan jiwamu adalah ketenangan dalam setiap langkahku
Diriku bagai debu yg ditiup oleh angin
Tanpa bias melawan
Diriku bagaikan sebatang kayu
Yg apabila dibuang dalam sungai
Diriku akan hanyut terbawa arus
Setiap malam yg berlalu tak pernah tersenyum
Menghantarkan mimpi indahmu
Mataku terpejam hatipun menangis
Menantikan dirimu dalam kesunyian malam
Kau bawa sejuta pesona
Setelah ku hanyut dalam pesonamu
Baru kusadari kau juga bawa sejuta siksa
Seakan bibirmu bicara
Yang tak mampu tuk berkata
Jangan biarkan ku tersiksa
Merintih tak berdaya diantara kesan senyummu
Karena ku telah berjanji
Bahwa diam adalah cinta sejatiku
Ku ingin kau tau
Dalam diam ada namamu
Dalam diam ku selalu mengingatmu
Dan dalam diam ku akan selalu setia padamu
Cinta didunia ini bagaikan batu
Yg apabila ditumbuhi akan cepat rapuh & memudar
Cinta tak selamanya memiliki
Tetapi hati akan dapat tersentuh
Oleh orang yg suci dan tulus
Seorang insan manusia
Tetes air mata ungkapkan galaunya hati
Indahnya rasa kebersamaan bersamamu
Ku yakin rasa ini tak akan pernah padam
Dalam rindu …
Dan cinta untukmu …
Hari ini tak ubahnya seperti kemarin
Aku duduk terdiam
Menunggu engkau datang
Bukan aku tak dapat pergi meninggalkan masa lalu
Jika hanya engkau yg bearti bagiku
Tak bolehkah aku menunggu ?..
Pada hembusan angin yg berdesrr
Dan air sungai yg mengalir
Disitu ku lihat
terukir wajahmu
dan tertulis..
kisah kita berdua
sebuah nostalgia yg lalu
tidak mudah untuk ku lupakan
dan masihku simpan erat-erat
didalam sebuah potret
wajah kita bersama
diwaktu puisi ini aku buat
langit jernih dan udara nyaman
aku duduk dalam kesepian
aku teringat akanmu
ingin benar aku hendak datang menemuimu
tapi kesempatanku tak ada
diriku tak ubahnya seorang musafir
ditengah gurun yg luas keputusan air
tiap langkah dilangkahkannya
tampak juga olehnya danau yg luas dimukanya
demi, setelah sampai kepada yg kelihatan itu
danau itupun hilang
berganti dengan pasir semata
hening dan panas
terimalah ini..
perkenankanlah seruan dari hati yg dhaif
hati seorang makhluk
yg dari masa dalam kandungan ibu
sudah ditunggu oleh rantai
yg bertali-tali dari kemalangan
didalam khayalku
dan dalam ke gelap gulitaan malam
tersimbahlah awan
cerahlah langit dan kelihatanlah satu bintang
bintang dari pengharapan untuk menunjukkan jalan
bintang itu.. ialah: Kamu !
bagaimana makai hatiku berkata begitu?
Itupun aku tak tahu
Lantaran tak tahu sebabnya
Timbul kepercayaan kepada kuasa ghaib
Yg lebih dari kuasa manusia
Kuasa ghaib itulah yg menitahkan..
Aku tahu & insaf siapa aku
Aku hanya semata-mata mengadukan hal
Nyampangku mati,
janganlah ku mati dalam penyesalan
aku pun yakin
tangan yg begitu halus
mata yg penuh dengan kejujuran itu
tak akan sampai mengecewakan
hati yg telah penuh dengan kecewa
sejak sejengkal dari tanah
aku akui kerendahanku
itu agaknya yg akan menangguhkan hatimu
tapi, meskipun bagaimana
percayalah bahwa hatiku baik
sukar engkau akan bertemu
dengan hati yg begini
yg bersih lantaran senantiasa
dibasuh dengan air kemalangan
sejak lahirnya ke dunia
mula-mula aku bertemu denganmu
tanganku gemetar
tapi sambutanmu yg halus atas kecemasanku
telah menghidupkan kembali semangatku
Azura, sampai sekarang
dan agaknya lama sekali
baru peristiwa itu akan dapat kulupakan
karena menurut perasaan hatiku
adlah yg demikian pintu keberuntungan
yg pertama bagiku
sampai sekarang azura,
masih kerap kali aku merasai dadaku sendiri
menjaga apakah hatiku masih tersimpan didalamnya
entah sudah terbang kelangit biru agaknya
lantaran terlalu merasa beruntung
jika kau hendak mendasarkan cinta itu
pada dasar keikhlasan
pada keteguhan memegang janji
pada memandang kebaikan hati
bukan kebaikan rupa
jika engkau bukan mengharapkan kayaku
tetapi mengharapkan pengorbanan jiwa untukmu
jika engkau sudi kepadaku
dan tidak merasa menyesal jika kelak bertemu
dengan bahaya yang ngeri dan kecimus bibir
jika semuanya itu tidak kau pedulikan
sebagai kukatakan dulu,
engkau akan beroleh seorang kekasih
yg teguh dan setia
sebagai kukatakan dahulu
lebih bebas aku menulis surat
daripada berkata-kata denganmu
aku lebih pandai meratap dalam surat
menyesal dalam surat
karena bilamana aku bertemu denganmu
maka matamu yg sebagai Bintang Timur
itu senantiasa menghilangkan susun kataku
bacalah, bacalah surat-surat dariku
adakah disana terdapat aku berminyak air,
mencoba menarik-narik hati?
Bagiku meskipun perjalanan cinta
Yg kita tempuh tak akan hasil,
Surat itu sudah cukuplah untuk menguji budiku
Surat balasanmu dulu itu selalu kusimpan
Surat itu tanda benar-benar
engkau hendak membelaku
jangan engkau takut surat itu
akan aku jadikan perkakas untuk
membukakan rahasiamu
jika ternyata engkau mangkir atau
tak sanggup memenuhi janji
by: Unknown
to: Azura
“Melukiskan suatu kisah cinta murni diantara sepasang remaja yg dilandasi cinta kasih yg ikhlas dan kesucian jiwa [Kisah 16 Januari – 22 Maret ‘06].”