Resensi buku “the dreamer’s handbook”
Judul buku : THE DREAMER’S HANDBOOK ( takwil mimpi menurut sunnah )
Penulis : Muhammad Mustofa Al jibaly
Penerbit : Bina Ilmu, Surabaya
Cetakan : Pertama,2007
Tebal : xxvi +364 halaman
Sepanjang sejarah,mimpi adalah salah satu isu yang mengasyikkan. Tak sedikit orang yang mendasarkan sesuatu, bersandar pada kepada mimpi. Sehingga hal ikhwal serta penafsiran tentang mimpi menjadi sesuatu yang menarik.
Mimpi dan tidur adalah 2 hal yang tak terpisahkan. Tidur seperti kata Rasulullah SAW. Adalah sebuah kematian kecil. Tidur dapat menjadi media beristirahat yang menyenangkan, tapi sebaliknya bisa menjadi sarana munculnya ketakutan, kegelisahan, kegundahan hati. Sebagaimana kisah nabi Yusuf As, dimana ketika dipenjara beliau mampu menafsirkan mimpi seorang raja Mesir.
Islam menghadirkan pemahaman yang jernih tentang mimpi dan tidur, sehingga pemahaman temuan tidur tidak salah dan tetap pada acuan sunnah, karena banyak kasus yang terjadi karena kegalauan hati mengenai mimpi maka seseorang bisa terjerumus dalam hal-hal yang dilarang seperti percaya buta, bahkan bisa menyebabkan kesyirikan.
Ada sebelas bab yang memungkinkan kita leluasa meyelami dunia mimpi. Bab 1, mengupas tentang jiwa. Ada pembahasan tentang makna spritual tidur. Dijelaskan bahwa jiwa meninggalkan tubuh atas kehendak dan kontrol Allah swt saat kita tidur. Dari itulah bisa dikatakn tidur disebut sebagai kematian kecil. Jiwa-jiwa yang terlepas ini mungkin sekali, lalu dapat mengingat perjalanan mereka,hal yang lalu kita sebut mimpi (h.9).
Oleh karena itu penting kiranya kita menyiapkan diri untuk menyambut kematian kecil itu, dengan memperhatikan adab dan dzikir malam hari. Juga tidak boleh mengabaikan berdoa sebelum maupun ketika terjaga dari tidur.
Apakah mimpi itu? Secara bahasa, mimpi adalah sebuah visi yang dilihat oleh seseorang rapat dia tidur. Mimpi termasuk dalam teka-teki spritual dalam kehidupan ini. Mengutip kitab fathu al-bari, dijelaskan bahwa mimpi adalah pantulan-pantulan yang Allah tanamkan ke dalam hati seseorang baik melalui malaikat maupun setan. Mimpi itu menghadirkan sesuatu eksplisit atau kiasan, juga campuran keduanya yang tak punya makna sama sekali. Dengan demikian, mimpi itu menyerupai pemikiran-pemikiran yang berlangsung saat terjaga, yang mungkin sekali diorganisir, sebagaiman suatu cerita yang bersegmen.
Ada 3 kategori mimpi. Pertama, mimpi yang benar diilhamkan oleh malaikat. Kedua, mimpi yang menakutkan dibisikkan oleh setan. Ketiga, mimpi campur aduk, ditimbulkan pemikiran dan hasrat sang pemimpi.
Yang pasti kebenaran suatu mimpi sebanding dengan tingkat imam dan keshalihan seseorang.
Kita simak kisah menakjubkan dalam sejarah kemanusian yang dialami oleh nabi Ibrahim As yang dijelaskan oleh Allah swt di Al Quran di surat 37 ayat 100-102, bahwa perintah Allah disampaikan melalui mimpi. Lalu pada kisah nabi Yusuf As saat menafsiri mimpi raja mesir. Maka setelah para ahli ramal ketika itu mengatakan bahwa mimpi raja itu kosong, yusuf as mampu menakwilnya(lihat QS.12:46-49).
Sekali lagi kebenaran suatu mimpi sebanding dengan tingkat imam dan keshalihan seseorang, seperti kisah-kisah mimpi sejumlah sahabat nabi SAW yang mempunyai makna dan arti kebenaran. terlepas cari itu semuanya berada pada Kekuasaan Allah SWT yang Maha Agung.wallahua’lam bishowab.
Sering kali kita mengejar MIMPI
Seolah – olah impian itu adalah TARGET
Susah payah penuh pengorbanan mimpi DIKEJAR
Setelah tercapai kita akan kembali BERMIMPI
Hidup adalah untuk IBADAH
Ibadah itu bukanlah BERMIMPI
Karena ibadah adalah hidup HARI INI
Memaksimalkan HARI INI dan DETIK INI
Masa depan adalah MISTERI
Masa lalu adalah HISTORI
Mimpi hanya membatasi KEMAMPUAN
MAKSIMALKAN HARI INI UNTUK MASA DEPAN YANG LEBIH BAIK
http://fusion-kandagalante.blogspot.com