Sentroclub’s Weblog

hidup hanya sekali sebentar lagi mati

Genitnya Anto “Dewo” Salafy CS Dalam ber-TBC-ria: Tabarruk

Setiap kali Umar bin Khatab masuk ke rumah kami, dia meminta kepada saya untuk dibawakan kepadanya mangkuk peninggalan Kanjeng Nabi saw, dan kami memberikan mangkuk itu kepadanya. Setelah itu, Umar bin Khatab memenuhi mangkuk itu dengan air zam-zam dan meminumnya. Dan dengan tujuan bertabarruk kepada Kanjeng Nabi, Umar bin Khatab mengusapkan air zam-zam dari mangkuk Rasul itu kewajahnya”. Lihat kitab Al-ashabah, Juz 3 Halaman 202. dan kitab Asadul Qhabah, Juz 4, Halaman 352. dan ratusan hadist sahih yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu. Tapi saya siap menuliskan hadist-hadist yang sejenis ini lebih bayak lagi kalau memang di perlukan.Tulisan ini khusus untuk Anto Salafy dan Badui-badui macam Anto Salafy… Supaya lebih banyak belajar …dan memahami kearifan lokal…

Sebelum baca yang dibawah, baca ini dulu biar mantaf….

Sebelum kita mengungkap kegenitan jamaah takfiri alias wahabi atau kerennya adalah salafi/y yang gemar mengkafirkan kaum muslimin, berkaitan dengan tabarruk, alangkah baiknya kita definisikan dulu makna tabarruk, sehingga jelas bagi kita apa itu tabarruk.

Tabarruk adalah sunah rasul, dan masalah ini juga termasuk masalah yang paling dihinakan oleh kelompok Takfiri bin Wahabi alias Salafi/y. Meraka berfatwa barang siapa yang melakukan Tabarruk adalah Bid’ah dan kafir hukumnya. Lihat kitab-kitab wahabi yang isinya mencela dan mengkafirkan sesama muslimin gara-gara melakukan sunah rasul ini, yakni bertabaruk. Cek beberapa kitab ini, 1. Al-muntaqa min Fatawa As-syeikh Shaleh bin Fauzan, Juz 2, Halaman 86. 2. Majmu’u Fatawa li Ibni Atsimain, nomor fatwa 366. 3. Al-lajnah Ad-daimah lil Buhutsi Al-alamiah wal Ifta, Halaman 3019. 4. Fatawa Islamiyah, Juz 4, Halaman 29. 5. Al-bid’ah, Halaman 28-29. 6. Dalilul Ahthak, Halaman 107. Dll……….

Nama-nama kitab yang saya tulis diatas semuanya adalah kitab rujukan dan kitab fatwa kaum wahabi, salafy/i takfiri. Semuanya menyatakan bahwa bertabaruk adalah perbuatan kaum jahiliyah dan musrikin, barang siapa yang melakukan tababruk maka mereka adalah kafir…. dan kafir tempatnya di neraka.

Makna Tabarruk

Secara bahasa, Tabaruk berasal dari bahasa arab yang artinya adalah minta barakah, dan barakah disini mempunyai makna “tambah” dan pencerahan atau saadah [kebahagiaan]. Lihat Lisanul Arab, Juz 10, Halaman 390. atau Shihahul Lughah, Juz 4, Halaman 1075. atau Annihayah, Juz 1, Halaman 120.

Sementara Tabarruk secara istilah mempunyai makna, meminta barakah melalui sesuatu atau seseorang atau apapun yang diperbolehkan oleh Allah swt. Misalnya, kita mencium tangan ibu kita, atau mencium tangan bapak kita, atau mencium kuburan kanjeng nabi saw dengan tujuan minta doa dan minta barakah.

Kalimat barakah sendiri dipakai dalam Al-quran dengan berbagai lafadz dan bentuk. Terkadang makna tabaruk dipakai oleh Al-quran dipakai untuk:

1. Seseorang, Misalnya: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. dan ada (pula) umat-umat yang kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), Kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari kami.” Al-quran, Surah Hud, Ayat 48.

atau :”Dan dia menjadikan Aku seorang yang diberkati di mana saja Aku berada, dan dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama Aku hidup. Surah Maryam, Ayat 31. dll

2. Tempat, : ”Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Surah Al-Israa’, ayat 1.

3. Waktu: sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”. Surah Ad-dhuhaan, ayat 3.

4. Untuk Waktu dan Tempat :“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Surah Ali Imran, Ayat 96.

Tabarruk dalam Sejarah

Ada pertanyaan menarik ketika kita tarik masalah tabarruk ini kedalam ruang sejarah. Apakah tabarruk itu pernah ada dalam sejarah nabi-nabi sebelum Nabi Terakhir dan sekaligus pada zaman kanjeng nabi..?. Lalu siapa saja yang pernah melakukan..?. Apa balasan bagi mereka yang melakukan tabarruk, dan apa balasan bagi yang mengingkari tabarruk..?.

Sejarah tidak bisa kita pungkiri fakta dan datanya. Sejarah adalah cermin masa depan jika kita cerdas bisa mengambil pelajaran dari sejarah. Al-quran ternyata mencatat dan menceritakan hal ini dalam kehidupan nabi-nabi yang dahulu dan zaman nabi Muhammad saw. Dan mereka tidak pernah berlepas dari tababruk.

Bukti nyata dan jelas adalah kisah yang terjadi pada nabi kita Ya’qub as. Ketika beliau berpisah dengan Nabi Yusuf as, yang dia sayangi, dan karena rasa sedih yang luar biasa dan banyaknya air-mata beliau menetes sampai-sampai Nabi Ya’qub as buta. Lalu karena seorang yang saleh, orang yang dipilih oleh Allah mempunyai karamah dan kekuatan dari Allah swt, maka nabi Ya’qub as, bertabaruk dengan baju anaknya dan atas ijin Allah swt penyakit buta beliau hilang. Lihat betapa indah Al-quran menceritakan peristiwa ini dalam Surat Yusuf: “Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku”. Surah Yusuf, Ayat 93. Dan masih banyak lagi ……

Tabarruk di Zaman Kanjeng Nabi saw

Dalam kitab Tabarruk bi Atsarir Rasul, Muhammad Thahir Makky berkata: “Bertabarruk dengan peninggalan Kanjeng Nabi saw, adalah sunah para sahabat, dan sunah ini juga dilakukan oleh Tabiin, Tabiin-tabiin dan Orang-orang saleh, mukminin pun melakukan sunah ini. Bertabaruk dengan kanjeng Nabi di zaman beliau pun juga dilakukan, sementara Kanjeng Nabi sendiri tidak mengingkarinya. Dan ini adalah bukti dan dalil bahwa Bertabaruk mendapatkan legimitasi dari Kanjeng Nabi sendiri. Lihat kitab Tabarruk bi Atsarir Rasul, Halaman 7.

Siti Aisah, pernah berkata: “Para sahabat selalu membawa anak-anaknya ke hadapan Kanjeng Nabi saw, sehingga anak-anak sahabat-sahabat Kanjeng Nabi itu mendapatkan ucapan selamat dari Kanjeng Nabi dan mendapatkan berkah beliau”. Lihat kitab Musnad Ahmad bin Hanbal, Juz 7, Halaman 303, Hadist nomor 25243.

Muawiyah ketika menjelang kematiannya berwasiat kepada familinya untuk mempersiapkan baju, celana, dan sedikit dari rambut Kanjeng Nabi saw supaya dikubur bersamanya. Lihat kitab Asiratul Alhalbiyah, Juz 3, halaman 109. Al-Asabah, Juz 3, Halaman 400, Tarikh Damsyiq, Juz 59, Halaman 229.

Ummu Qais ketika mempunyai anak kecil dan belum makan apa-apa kecuali susu ibunya, selalu membawa anaknya ke hadapan Rasulullah saw supaya mendapatkan berkah beliau. Oleh beliau anak itu dipangkunya. Lihat Shahih Bukhari, Juz 1, Halaman 62, Kitabul Ghusli.

Imam Malik bin Anas berkata: “Saya melihat Kanjeng Nabi saw sedang mencukur rambut kepala beliau dan terlihat kepala beliau yang penuh barakah itu bercahaya, sementara para sahabat berthawaf mengelilingi Kanjeng Nabi saw dan ketika beberapa helai rambut beliau jatuh, mereka berebutan dan mengambilnya”. Lihat kitab Shahih Muslim, Juz 15, Halaman 83. Kitab Musnad Ahmad, Juz 3, Halaman 591.

Dan ratusan hadist sahih yang menceritakan bahwa para sahabat juga bertabarruk. Dan saya cukupkan hanya disini saja, kalau kurang nanti saya akan bawakan yang lebih banyak lagi………

Tabarruk di Zaman Sahabat

Dalam masalah tabbruk di zaman Sahabat dan Tabiin, saya hanya menuliskan beberapa hadist saja, kalau ada yang kurang saya siap membawakan yang lebih banyak lagi.

Misalnya, Shafiyah berkata: “Setiap kali Umar bin Khatab masuk ke rumah kami, dia meminta kepada saya untuk dibawakan kepadanya mangkuk peninggalan Kanjeng Nabi saw, dan kami memberikan mangkuk itu kepadanya. Setelah itu, Umar bin Khatab memenuhi mangkuk itu dengan air zam-zam dan meminumnya. Dan dengan tujuan bertabarruk kepada Kanjeng Nabi, Umar bin Khatab mengusapkan air zam-zam dari mangkuk Rasul itu kewajahnya”. Lihat kitab Al-ashabah, Juz 3 Halaman 202. dan kitab Asadul Qhabah, Juz 4, Halaman 352. dan ratusan hadist sahih yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu. Tapi saya siap menuliskan hadist-hadist yang sejenis ini lebih bayak lagi kalau memang di perlukan.

Pandangan Ibnu Taimiyah Masalah Tabarruk

Bagi mereka yang mengagungkan dan mendewakan ibnu taimiyah, saya sarankan untuk mengecek kitab yang saya tulis dibawah ini, sebab Ibnu Taimiyah sendiri disatu sisi membolehkan tabarruk, dan saya yakin mereka yang mengharamkan Tabarruk secara mutlaq adalah BAHLUL….!! Dan TAKLID BUTA…!! [cuhhhh..!!].

Antosalafy dan abu-abu bahlul itu, hakekat wujudnya adalah bencana bagi Islam dan Umat manusia..!!. lihat kitab Iqtidhaus Siratul Mustaqim, Halaman 367…!!!, Ibnu Taimiyah berkata: “Ahmad bin Hanbal dan orang selain dia, membolehkan kepada manusia untuk bertabarruk dengan cara mengusapkan tangannya ke minbar dan tempat tangan Rasulullah saw!. Dan mengusap kubur Rasulullah untuk bertabarruk, tidak diperbolehkan..!, Akan tetapi, sebagian dari sahabat-sahabat kita meriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal bahwa mengusap kubur Rasulullah adalah diperbolehkan!.” ..!!. lihat kitab Iqtidhaus Siratul Mustaqim, Halaman 367.

Sampai detik ini ……. saya berkesimpulan bahwa, mereka yang berkoar-koar menegakkan Tauhid Allah hakekatnya adalah para pembohong dan preman berkedok agama. Mereka adalah para pendekar TAKFIRI yang haus darah umat manusia.

Dan saya tahu .…ada golongan dan mereka yang benar-benar memanusiakan manusia meskipun mereka mengaku salafy/I, nah untuk mereka-mereka, ini saya minta maaf. Adapaun tulisan ini, saya khususkan buat preman-preman yang mengagumi badui-badui jahili arab. Dan mereka yang gemar mengkafirkan umat manusia, semacam antosalafy, abusalmah, abuturotsi, abdurahman dll yang haus darah..!![]

October 17, 2008 Posted by sentroclub | agama | | 1 Comment

Syeikh Aidh Al-Qarni difatwa Sesat oleh Salafy!

Tahukah anda seorang ulama salafy dari Saudi Arabia Syeikh Aidh al-Qarni [lihat foto], pengarang buku “La Tahzan” yang terjemahannya cukup laris di Indonesia, ternyata juga seorang yang “sesat” bukan menurut ulama diluar kelompok salafy lho, akan tetapi menurut seorang ulama salafy pula. ingin tahu fatwa tersebut? silahkan baca fatwa pensesatannya yang dimuat oleh http://www.salafy.or.id/ dibawah ini:

Fatwa tentang kesesatan Aidl Al-Qarny

Selasa, 10 Februari 2004 – 00:10:54 kategori Fatwa-Fatwa

Penulis: Syaikh Fauzi bin Abdullah Al-Atsary

Fadhilatus-Syaikh dari Bahrain, Syaikh Fauzi Al-Atsary (hafizhahullah) ditanya pertanyaan berikut:

“Siapakah Aidl Al-Qarny dan apakah diperbolehkan mendengarkan kasetnya?”

Syaikh menjawab:

“Seseorang tidaklah seharusnya mendengarkan orang ini dan orang yang semacamnya. Dia ini dari Ahlul Bid’ah, Quthubiyyun dan dia adalah seorang Sufy. Pernyataan-pernyataannya bersesuaian dengan Sufiyyah. Dia menyeru kepada Quthubiyyah dan politik. Dia berbicara buruk tentang Ulama. Dia memiliki kaset rekaman di mana dia berkata bahwa Ulama tidak keluar dalam jihad, dan bahwasanya mereka tidak memberikan fatwa tentang jihad dan banyak kebohongan lainnya tentang Ulama. Maka tidak diperbolehkan mendengarkan kaset-kasetnya.”

(Sumber: “Kaset Ushul Da’wah Salafiyyah” -30 July 2003, Copenhagen, Denmark
[www.darulhadith.com, 29 08 2003]. Diterjemahkan tim salafy.or.id. Muroja’ah al ustadz Abu Hamzah]

Sumber: salafy.or.id

October 17, 2008 Posted by sentroclub | agama | | No Comments Yet

Jalaludin Ar Rumi

Lahir di Balkh, Afghanistan pada 604 H atau 30 September 1207 Rumi menyandang nama lengkap Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi. Adapun panggilan Rumi karena sebagian besar hidupnya dihabiskan di Konya (kini Turki), yang dahulu dikenal sebagai daerah Rum (Roma).

Ayahnya, Bahauddin Walad Muhammad bin Husein, adalah seorang ulama besar bermadzhab Hanafi. Dan karena kharisma dan tingginya penguasaan ilmu agamanya, ia digelari Sulthanul Ulama (raja ulama). Namun rupanya gelar itu menimbulkan rasa iri pada sebagian ulama lain. Dan merekapun melancarkan fitnah dan mengadukan Bahauddin ke penguasa. Celakanya sang penguasa terpengaruh hingga Bahauddin harus meninggalkan Balkh, termasuk keluarganya. Ketika itu Rumi baru beruisa lima tahun.

Sejak itu Bahauddin bersama keluarganya hidup berpindah- pindah dari suatu negara ke negara lain. Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran timur laut). Dari Sinabur pindah ke Baghdad, Makkah, Malattya (Turki), Laranda (Iran tenggara) dan terakhir menetap di Konya, Turki. Raja Konya Alauddin Kaiqubad, mengangkat ayah Rumi sebagai penasihatnya, dan juga mengangkatnya sebagai pimpinan sebuah perguruan agama yang didirikan di ibukota tersebut. Di kota ini pula ayah Rumi wafat ketika Rumi berusia 24 tahun.

Di samping kepada ayahnya, Rumi juga berguru kepada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi, sahabat dan pengganti ayahnya memimpin perguruan. Rumi juga menimba ilmu di Syam (Suriah) atas saran gurunya itu. Ia baru kembali ke Konya pada 634 H, dan ikut mengajar pada perguruan tersebut.

Setelah Burhanuddin wafat, Rumi menggantikannya sebagai guru di Konya. Dengan pengetahuan agamanya yang luas, di samping sebagai guru, ia juga menjadi da’i dan ahli hukum Islam. Ketika itu di Konya banyak tokoh ulama berkumpul. Tak heran jika Konya kemudian menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpul para ulama dari berbagai penjuru dunia.

Kesufian dan kepenyairan Rumi dimulai ketika ia sudah berumur cukup tua, 48 tahun. Sebelumnya, Rumi adalah seorang ulama yang memimpin sebuah madrasah yang punya murid banyak, 4.000 orang. Sebagaimana seorang ulama, ia juga memberi fatwa dan tumpuan ummatnya untuk bertanya dan mengadu. Kehidupannya itu berubah seratus delapan puluh derajat ketika ia berjumpa dengan seorang sufi pengelana, Syamsuddin alias Syamsi Tabriz.

Suatu saat, seperti biasanya Rumi mengajar di hadapan khalayak dan banyak yang menanyakan sesuatu kepadanya. Tiba- tiba seorang lelaki asing –yakni Syamsi Tabriz– ikut bertanya, “Apa yang dimaksud dengan riyadhah dan ilmu?” Mendengar pertanyaan seperti itu Rumi terkesima. Kiranya pertanyaan itu jitu dan tepat pada sasarannya. Ia tidak mampu menjawab. Berikutnya, Rumi berkenalan dengan Tabriz. Setelah bergaul beberapa saat, ia mulai kagum kepada Tabriz yang ternyata seorang sufi. Ia berbincang-bincang dan berdebat tentang berbagai hal dengan Tabriz. Mereka betah tinggal di dalam kamar hingga berhari-hari.

Sultan Salad, putera Rumi, mengomentari perilaku ayahnya itu, “Sesungguhnya, seorang guru besar tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari sang guru besar harus menimba ilmu darinya, meski sebenarnya beliau cukup alim dan zuhud. Tetapi itulah kenyataannya. Dalam diri Tabriz, guru besar itu melihat kandungan ilmu yang tiada taranya.”

Rumi benar-benar tunduk kepada guru barunya itu. Di matanya, Tabriz benar-benar sempurna. Cuma celakanya, Rumi kemudian lalai dengan tugas mengajarnya. Akibatnya banyak muridnya yang protes. Mereka menuduh orang asing itulah biang keladinya. Karena takut terjadi fitnah dan takut atas keselamatan dirinya, Tabriz lantas secara diam-diam meninggalkan Konya.

Bak remaja ditinggalkan kekasihnya, saking cintanya kepada gurunya itu, kepergian Tabriz itu menjadikan Rumi dirundung duka. Rumi benar-benar berduka. Ia hanya mengurung diri di dalam rumah dan juga tidak bersedia mengajar. Tabriz yang mendengar kabar ini, lantas berkirim surat dan menegur Rumi. Karena merasakan menemukan gurunya kembali, gairah Rumi bangkit kembali. Dan ia mulai mengajar lagi.

Beberapa saat kemudian ia mengutus putranya, Sultan Salad, untuk mencari Tabriz di Damaskus. Lewat putranya tadi, Rumi ingin menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf atas tindakan murid-muridnya itu dan menjamin keselamatan gurunya bila berkenan kembali ke Konya.

Demi mengabulkan permintaan Rumi itu, Tabriz kembali ke Konya. Dan mulailah Rumi berasyik-asyik kembali dengan Tabriz. Lambat-laun rupanya para muridnya merasakan diabaikan kembali, dan mereka mulai menampakkan perasaan tidak senang kepada Tabriz. Lagi-lagi sufi pengelana itu, secara diam-diam meninggalkan Rumi, lantaran takut terjadi fitnah. Kendati Rumi ikut mencari hingga ke Damaskus, Tabriz tidak kembali lagi.

Rumi telah menjadi sufi, berkat pergaulannya dengan Tabriz. Kesedihannya berpisah dan kerinduannya untuk berjumpa lagi dengan gurunya itu telah ikut berperan mengembangkan emosinya, sehingga ia menjadi penyair yang sulit ditandingi. Guna mengenang dan menyanjung gurunya itu, ia tulis syair- syair, yang himpunannya kemudian dikenal dengan nama Divan-i Syams-i Tabriz. Ia bukukan pula wejangan-wejangan gurunya, dan buku itu dikenal dengan nama Maqalat-i Syams Tabriz.

Rumi kemudian mendapat sahabat dan sumber inspirasi baru, Syekh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Atas dorongan sahabatnya itu, ia berhasil selama 15 tahun terakhir masa hidupnya menghasilkan himpunan syair yang besar dan mengagumkan yang diberi nama Masnavi-i. Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair. Dalam karyanya ini, terlihat ajaran-ajaran tasawuf yang mendalam, yang disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain. Karya tulisnya yang lain adalah Ruba’iyyat (sajak empat baris dalam jumlah 1600 bait), Fiihi Maa fiihi (dalam bentuk prosa; merupakan himpunan ceramahnya tentang tasawuf), dan Maktubat (himpunan surat-suratnya kepada sahabat atau pengikutnya).

Bersama Syekh Hisamuddin pula, Rumi mengembangkan tarekat Maulawiyah atau Jalaliyah. Tarekat ini di Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (Para Darwisy yang Berputar-putar). Nama itu muncul karena para penganut tarekat ini melakukan tarian berputar-putar, yang diiringi oleh gendang dan suling, dalam dzikir mereka untuk mencapai ekstase.

œ

WAFAT. Semua manusia tentu akan kembali kepada-Nya. Demikianlah yang terjadi pada Rumi. Penduduk Konya tiba-tiba dilanda kecemasan, gara-gara mendengar kabar bahwa tokoh panutan mereka, Rumi, sakit keras. Meski menderita sakit keras, pikiran Rumi masih menampakkan kejernihannya.

Seorang sahabatnya datang menjenguk dan mendo’akan, “Semoga Allah berkenan memberi ketenangan kepadamu dengan kesembuhan.” Rumi sempat menyahut, “Jika engkau beriman dan bersikap manis, kematian itu akan bermakna baik. Tapi kematian ada juga kafir dan pahit.”

Pada 5 Jumadil Akhir 672 H dalam usia 68 tahun Rumi dipanggil ke rahmatullah. Tatkala jenazahnya hendak diberangkatkan, penduduk setempat berdesak-desak ingin menyaksikan. Begitulah kepergian seseorang yang dihormati ummatnya

October 17, 2008 Posted by sentroclub | kisah-kisah | | No Comments Yet