Jalaludin Ar Rumi
Lahir di Balkh, Afghanistan pada 604 H atau 30 September 1207 Rumi menyandang nama lengkap Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi. Adapun panggilan Rumi karena sebagian besar hidupnya dihabiskan di Konya (kini Turki), yang dahulu dikenal sebagai daerah Rum (Roma).
Ayahnya, Bahauddin Walad Muhammad bin Husein, adalah seorang ulama besar bermadzhab Hanafi. Dan karena kharisma dan tingginya penguasaan ilmu agamanya, ia digelari Sulthanul Ulama (raja ulama). Namun rupanya gelar itu menimbulkan rasa iri pada sebagian ulama lain. Dan merekapun melancarkan fitnah dan mengadukan Bahauddin ke penguasa. Celakanya sang penguasa terpengaruh hingga Bahauddin harus meninggalkan Balkh, termasuk keluarganya. Ketika itu Rumi baru beruisa lima tahun.
Sejak itu Bahauddin bersama keluarganya hidup berpindah- pindah dari suatu negara ke negara lain. Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran timur laut). Dari Sinabur pindah ke Baghdad, Makkah, Malattya (Turki), Laranda (Iran tenggara) dan terakhir menetap di Konya, Turki. Raja Konya Alauddin Kaiqubad, mengangkat ayah Rumi sebagai penasihatnya, dan juga mengangkatnya sebagai pimpinan sebuah perguruan agama yang didirikan di ibukota tersebut. Di kota ini pula ayah Rumi wafat ketika Rumi berusia 24 tahun.
Di samping kepada ayahnya, Rumi juga berguru kepada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi, sahabat dan pengganti ayahnya memimpin perguruan. Rumi juga menimba ilmu di Syam (Suriah) atas saran gurunya itu. Ia baru kembali ke Konya pada 634 H, dan ikut mengajar pada perguruan tersebut.
Setelah Burhanuddin wafat, Rumi menggantikannya sebagai guru di Konya. Dengan pengetahuan agamanya yang luas, di samping sebagai guru, ia juga menjadi da’i dan ahli hukum Islam. Ketika itu di Konya banyak tokoh ulama berkumpul. Tak heran jika Konya kemudian menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpul para ulama dari berbagai penjuru dunia.
Kesufian dan kepenyairan Rumi dimulai ketika ia sudah berumur cukup tua, 48 tahun. Sebelumnya, Rumi adalah seorang ulama yang memimpin sebuah madrasah yang punya murid banyak, 4.000 orang. Sebagaimana seorang ulama, ia juga memberi fatwa dan tumpuan ummatnya untuk bertanya dan mengadu. Kehidupannya itu berubah seratus delapan puluh derajat ketika ia berjumpa dengan seorang sufi pengelana, Syamsuddin alias Syamsi Tabriz.
Suatu saat, seperti biasanya Rumi mengajar di hadapan khalayak dan banyak yang menanyakan sesuatu kepadanya. Tiba- tiba seorang lelaki asing –yakni Syamsi Tabriz– ikut bertanya, “Apa yang dimaksud dengan riyadhah dan ilmu?” Mendengar pertanyaan seperti itu Rumi terkesima. Kiranya pertanyaan itu jitu dan tepat pada sasarannya. Ia tidak mampu menjawab. Berikutnya, Rumi berkenalan dengan Tabriz. Setelah bergaul beberapa saat, ia mulai kagum kepada Tabriz yang ternyata seorang sufi. Ia berbincang-bincang dan berdebat tentang berbagai hal dengan Tabriz. Mereka betah tinggal di dalam kamar hingga berhari-hari.
Sultan Salad, putera Rumi, mengomentari perilaku ayahnya itu, “Sesungguhnya, seorang guru besar tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari sang guru besar harus menimba ilmu darinya, meski sebenarnya beliau cukup alim dan zuhud. Tetapi itulah kenyataannya. Dalam diri Tabriz, guru besar itu melihat kandungan ilmu yang tiada taranya.”
Rumi benar-benar tunduk kepada guru barunya itu. Di matanya, Tabriz benar-benar sempurna. Cuma celakanya, Rumi kemudian lalai dengan tugas mengajarnya. Akibatnya banyak muridnya yang protes. Mereka menuduh orang asing itulah biang keladinya. Karena takut terjadi fitnah dan takut atas keselamatan dirinya, Tabriz lantas secara diam-diam meninggalkan Konya.
Bak remaja ditinggalkan kekasihnya, saking cintanya kepada gurunya itu, kepergian Tabriz itu menjadikan Rumi dirundung duka. Rumi benar-benar berduka. Ia hanya mengurung diri di dalam rumah dan juga tidak bersedia mengajar. Tabriz yang mendengar kabar ini, lantas berkirim surat dan menegur Rumi. Karena merasakan menemukan gurunya kembali, gairah Rumi bangkit kembali. Dan ia mulai mengajar lagi.
Beberapa saat kemudian ia mengutus putranya, Sultan Salad, untuk mencari Tabriz di Damaskus. Lewat putranya tadi, Rumi ingin menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf atas tindakan murid-muridnya itu dan menjamin keselamatan gurunya bila berkenan kembali ke Konya.
Demi mengabulkan permintaan Rumi itu, Tabriz kembali ke Konya. Dan mulailah Rumi berasyik-asyik kembali dengan Tabriz. Lambat-laun rupanya para muridnya merasakan diabaikan kembali, dan mereka mulai menampakkan perasaan tidak senang kepada Tabriz. Lagi-lagi sufi pengelana itu, secara diam-diam meninggalkan Rumi, lantaran takut terjadi fitnah. Kendati Rumi ikut mencari hingga ke Damaskus, Tabriz tidak kembali lagi.
Rumi telah menjadi sufi, berkat pergaulannya dengan Tabriz. Kesedihannya berpisah dan kerinduannya untuk berjumpa lagi dengan gurunya itu telah ikut berperan mengembangkan emosinya, sehingga ia menjadi penyair yang sulit ditandingi. Guna mengenang dan menyanjung gurunya itu, ia tulis syair- syair, yang himpunannya kemudian dikenal dengan nama Divan-i Syams-i Tabriz. Ia bukukan pula wejangan-wejangan gurunya, dan buku itu dikenal dengan nama Maqalat-i Syams Tabriz.
Rumi kemudian mendapat sahabat dan sumber inspirasi baru, Syekh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Atas dorongan sahabatnya itu, ia berhasil selama 15 tahun terakhir masa hidupnya menghasilkan himpunan syair yang besar dan mengagumkan yang diberi nama Masnavi-i. Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair. Dalam karyanya ini, terlihat ajaran-ajaran tasawuf yang mendalam, yang disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain. Karya tulisnya yang lain adalah Ruba’iyyat (sajak empat baris dalam jumlah 1600 bait), Fiihi Maa fiihi (dalam bentuk prosa; merupakan himpunan ceramahnya tentang tasawuf), dan Maktubat (himpunan surat-suratnya kepada sahabat atau pengikutnya).
Bersama Syekh Hisamuddin pula, Rumi mengembangkan tarekat Maulawiyah atau Jalaliyah. Tarekat ini di Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (Para Darwisy yang Berputar-putar). Nama itu muncul karena para penganut tarekat ini melakukan tarian berputar-putar, yang diiringi oleh gendang dan suling, dalam dzikir mereka untuk mencapai ekstase.
œ
WAFAT. Semua manusia tentu akan kembali kepada-Nya. Demikianlah yang terjadi pada Rumi. Penduduk Konya tiba-tiba dilanda kecemasan, gara-gara mendengar kabar bahwa tokoh panutan mereka, Rumi, sakit keras. Meski menderita sakit keras, pikiran Rumi masih menampakkan kejernihannya.
Seorang sahabatnya datang menjenguk dan mendo’akan, “Semoga Allah berkenan memberi ketenangan kepadamu dengan kesembuhan.” Rumi sempat menyahut, “Jika engkau beriman dan bersikap manis, kematian itu akan bermakna baik. Tapi kematian ada juga kafir dan pahit.”
Pada 5 Jumadil Akhir 672 H dalam usia 68 tahun Rumi dipanggil ke rahmatullah. Tatkala jenazahnya hendak diberangkatkan, penduduk setempat berdesak-desak ingin menyaksikan. Begitulah kepergian seseorang yang dihormati ummatnya
Tertahannya Matahari
Dari Kalam Habib As-Syekh Abdurrahman Asseggaf
Salah satu dari kekeramatan Sayyidina As-Syekh Abdurrahman As-Segaff adalah bisa menahan matahari atau waktu. Murid beliau yang bernama As-Syekh Abdurrahim bin Ali Al-Khotib, bercerita mengenai hal ini:
“Sekali waktu kami pulang bersama-sama dengan As-Syekh As-Segaff dari ziarah ke makam Nabi Allah Hud As, pada waktu itu hari telah menjelang senja, ketika beliau berkata: pada akan sholat maghrib di Faraj”. Kami pun merasa keheranan karena tidak akan mungkin kami sempat sholat Maghrib di Faraj. Beliau meminta kami untuk berzikir sambil terus berjalan. Ternyata matahari berhenti atau tertahan sampai akhirnya kami sampai di Faraj, hingga karni sempat menunaikan sholat Maghrib. Kami pun saling membicarakan kejadian yang baru saja kami alami. Keramat beliau ini seperti yang terjadi pada Al-Wali Al-Kabir As-Syekh Ismail Al-Hadhrami.”
kUMPULAN rETAKAN pUING-pUING hATI #4#
sebenarnya pada hati terdalam
aku pun bingung dengan hubungan kita
apakah aku yg belum terjaga dari tidurku?..
tidur yg membawa kenikmatan lahir & bathin
benarkah sudah ditutup
perjalanan hidup kita hingga kini?..
benarkah telah putus pertalian kita
dan aku sudah jadi orang lain
dalam pemandanganmu?..
tidak akan berkenalan lagi
tidak akan bertegur sapa lagi ketika bertemu?..
benarkah bahwa peringatan kau kepadaku
sehingga kata-kata ini hanya akan laksana
peringatan seorang manusia
atas mimpi-mimpinya
yg telah dihapuskan
oleh pergelaran masa dan pertukaran waktu?..
benarkah Azura, bahwa sejak sekarang
kitab kita telah tamat?..
bila kita bertemu ditengah jalan
yg seorang akan menyisih kejalan kiri
dan yg seorang akan menyingkir kejalan kanan?..
alangkah lekasnya hari berubah,
alangkah cepatnya masa berganti!
apakah dalam masa sebulan dua saja
istana kenang-kenangan
yg telah kita dirikan berdua dihancurkan
oleh angin puting beliung
sehingga dengan bekas-bekasnya sekalipun
tidak akan bertemu kembali?..
ingatkah kau azura,
bahwa istana itu telah kita tegakkan
di atas air mata kita,
di atas kedukaan dan derita kita
betapa kerasnya pukulan nasib atas diriku
bertimpa dan bergilir
sejak masih mengentak ubun-ubunku
ku tempuh itu dengan dada
yg tak berdebar sedikit pun
sebab ada pintu gerbang pengharapan terbuka
sekarang pintu itu telah tertutup kembali
tidak ada harapan lagi akan
dibukakan orang
Benarkah Azura, bahwa aku akan berdiri
didepan gerbang itu dengan putus asa?..
hujan kehujanan dan panas kepanasan
sedang orang yg berlintas pun tak ada?..
menurut sangkaku semula
kisah cinta kita itu
akan terpisah hanya dipisahkan kematian
sekarang kita masih hidup,
belum sampai tumbuh uban dikepala kita
alam pun masih alam yg dahulu juga,
keadaan telah berubah saja demikian rupa
suatu kejadian … yg tiada dapat mengatasinya lagi
apakah keadaanku yg tidak kau setujui azura?..
apakah yg telah menyebabkan
dengan segera namaku kau coreng dihatimu?..
ah.. Azura, jika kau tahu!
agaknya belum pernah orang lain
jatuh cinta sebagaimana kejatuhanku ini
dan bila kau alami kelak
agaknya tidak juga akan kau dapati
cinta sebagaimana cintaku
cintaku kepadamu
lebih dari cinta saudara kepada saudaranya
cinta ayah kepada anaknya
kadang-kadang derajat cintaku
sudah terlalu amat naik,
sehingga hanya dua yg menandingi kecintaan itu
pertama Tuhan dan kedua Mati …
to: Azura
“Melukiskan suatu kisah cinta murni diantara sepasang remaja yg dilandasi cinta kasih yg ikhlas dan kesucian jiwa yang patut dijadikan tamsil ibarat [Kisah 16 Januari – 22 Maret ‘06].”
Profil Ketua PWNU Jatim Baru KH Mutawakkil Alallah
Keberhasilan mengembangkan Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong yang terbilang modern ini tak lepas dari sentuhan profil pengasuh pesantren yakni KH Mohammad Hasan Mutawakil Alallah. Ia adalah seorang Kyai yang terbilang dinamis dalam mengembangkan baik sarana fisik pesantren maupun dalam perannya yang dikenal cukup mewarnai dalam dinamika politik kebangsaan.
KH Mutawakil dilahirkan di Genggong pada 22 April 1959. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di Genggong. Kemudian sempat melanjutkan pesantren di Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Namun di pesantren yang diasuh KH Imam itu, tidak lama hanya sembilan bulan saja. Atas saran kedua orang tuanya itu, ia kemudian melanjutkan pendidikan menengah pada Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah di Pondok Pesantren Lirboyo dari tahun 1979-1981. Saat di Lirboyo, Kediri, ia sangat terkesan pada KH Marzuki, KH Mahrus Ali dalam prinsip-prinsip perjuangannya. Saat di Lirboyo, ia sudah menyenangi pelajaran Nahwu, Sharaf, Balaghah (ilmu alat), Ilmu Fiqh, Tafsir dan Hadits.
Selepas itu, ia sempat menempuh pendidikan pada Fakultas Syari’ah di Universitas Tribakti, Kediri sampai tingkat III. Lulus dari tingkat III (sarjana muda), KH Mutawakil rupa-rupanya punya keinginan untuk mencari pengalaman, apalagi sejak kecil ia hanya menimba pendidikan pesantren. Sehingga ketika dewasa ia ingin menimba pendidikan kampus. Pilihannya pada waktu itu akhirnya jatuh pada Kota Pelajar yakni Jogjakarta.
Sesampainya di Jogja, ia kemudian menempuh ujian masuk persamaan di Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta dan diterima. Namun di UII ia tidak bertahan lama, di tengah kuliahnya ia mendapat tawaran beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar di Kairo (Mesir). Setelah menempuh ujian beasiswa ternyata, ia lulus untuk dapat menempuh pendidikan di Universitas terpopuler di belahan negara Timur Tengah itu.
Sebenarnya saat menempuh kuliah di Al Azhar Kairo, ia sudah mulai senang menggemari pelajaran studi. Menurutnya pelajaran yang di Kairo ada beberapa pengembangan aktualisasi,masalah dan pengembangan pandangan yang menurut berbagai persepektif. Selain itu ada kelebihan dari pengajarnya dan adanya praktek langsung di lapangan baik dengan berbahasa Arab maupun Inggris.
Saat menempuh kuliah di Al Azhar, Mesir pada tahun 1983, ia berkesempatan untuk mencari pengalaman study tour ke luar negeri. Misal, ke Frankrut (Jerman), Polandia, Belgia dan Belanda. Saat itu, ia mengambil inisiatif untuk study banding dengan biaya sendiri. Karena pada waktu itu, KH Mutawakil tak mempunyai biaya yang cukup, ia kemudian mencari tambahan dana dengan bekerja apa saja, termasuk menjadi pelayan restoran (waiter) di beberapa negara yang ia kunjungi.
Namun dari studi banding itu, ia mendapat pengalaman berharga. ”Saya melihat hubungan antara hubungan kerja antara buruh dan majikan, ternyata akhlak Islam ternyata ada di Barat, bukan di Saudi. Jadi akhlaq yang ada di Saudi itu tidak sesuai dengan tuntunan Islam. Walau pun tidak semua, umumnya mereka pada kasar. Mereka tidak menghargai, egois dan tidak memberikan hak sepenuhnya pada pekerja. Itu kasusnya banyak, itu saya lihat,” akunya.
Di tengah keasyikannya menuntut ilmu ternyata ia dijemput pulang oleh sang ayahanda, yakni KH. Saifourridzal pada tahun 1985. Setelah dijemput pulang, ia langsung mengajar di Pesantren Zainul Hasan. Tak berapa lama setelah ia pulang, ibunda dan ayandanya pulang ke haribaan Allah SWT
kUMPULAN rETAKAN pUING-pUING hATI #3#
kekasihku, bilakah kita akan
bertemu pula dengan leluasa?
bilakah hari yg beruntung itu?
hari yg berlalu sebagai mimpi
akan datang kepada kita kembali
aku termenung sendiri,
dari jauh menarik nafas
panjang dan mengeluh
sebab alam sekelilingku yg ramai bagi orang lain
sepi rasanya bagi diriku
begini sulit, begini gelap
dan samaran haluan yg akan ku turut
namun aku tak pernah putus asa
sebab masih berdenging dalam telingaku
rasanya petaruhmu
menyuruh berani, menyuruh tetap hati
keras kemauan dan sabar menempuh
kesulitan hidup
jika bukan karena itu,
telah putus asa aku menghadapi pahit hidup
mau agaknya aku menyesali nasib
tersesat kepada dosa yg maha besar
yakni mengupat Tuhan, menyalahi takdir
janjimu bahwa jasmani dan rohanimu
telah dipatrikan oleh kasih cinta denganku
adalah modalku yg paling mahal
biarlah dunia ini karam,
biarlah alam ini gelap,
biarlah… biarlah seluruh manusia
melengongkan mukanya ketempat lain
bila bertemu denganku
biarlah segenap kebencian
memenuhi hati insan terhadap diriku
dan aku menjadi tumpahan kejemuan hati,
namun aku tak merasa berat
menanggungkan itu semuanya
sebab kau telah bersedia untukku
setelah sekian lamanya kita berpisah
masih saja teringat olehku
seketika kau melepasku pergi
diantara sawah yg berjenjang
ketika matahari mulai turun
masih terbayang muramnya mukamu
bagaimana teguhnya sikapmu melepasku pergi
masih teringat dan masih jelas
laksana detik suara jam
yg didengarkan oleh seorang
yg tak mau tidur tengah malam
Bagaimana kau menyuruhku sabar
menyuruh saya teguh menempuh bahaya hidup
jika kuingat semuanya itu
aku baca pula surat-surat kita
maka tidaklah sepi rasanya
diriku berpisah dan berjauhan denganmu
maafkan aku Azura,
jika aku berbicara terus terang
supaya jangan hatiku menaruh dosa
walaupun sebesar zarah kepadamu
cinta sejati kekasihku
tidaklah bersifat munafik
pepat diluar, pancung didalam
akan aku katakan terus terang
meski lantaran itu
aku akan kau bunuh misalnya
bahagialah aku lantaran tanganmu
aku seakan-akan
seorang ahli angan-angan, ahli syair
orang yg sepertiku ini
mendirikan seorang perempuan cantik
dalam angan-angannya
untuk memperdalam
irama aliran syairnya
ahli syair atau ahli gambar
mendirikan malaikat dan bidadari
yg akan dipantun dan dilukiskannya
tetapi dia tak boleh bertemu
perempuan itu pada hakikat
cukup pada khayal saja
sebab perempuan yg berdiri didalam pikirannya
itu sunyi dari pada aib dan cela,
bersih dari dosa dan kesalahan
Kekasihku..
cinta tidaklah teguh untuk mempertalikan
tali yg teguh ialah kemaslahatan kedua belah pihak
cinta ialah bunga melur yg indah warna
dan harum baunya
biarlah cinta selamanya tinggal dalam
khayal dan angan-angan pengarang hikayat
pengarang syair dan ahli kata-kata indah lainnya
berkobar kalau berjauhan
terobat hati kalau berdamping …
to: Azura
“Melukiskan suatu kisah cinta murni diantara sepasang remaja yg dilandasi cinta kasih yg ikhlas dan kesucian jiwa yang patut dijadikan tamsil ibarat [Kisah 16 Januari – 22 Maret ‘06].”
kUMPULAN rETAKAN pUING-pUING hATI #2#
azura! Dunia ini amat luas,
dan Tuhan telah memberi kita kesanggupan
mengembara didalam dunia yg luas itu
maka jika kita beruntung,
dan Allah memberi izin kita hidup
sebagai pasangan kekasih
adalah surat-surat itu
untuk mematrikan cinta kita
tetapi jika kiranya pertemuan nasib dan hidup kita
tidak beroleh keizinan Tuhan sejak dari azaliNya,
adalah pula surat-surat itu akan jadi peringatan
dari dua orang pasangan atas ketulusan
menghadapi cinta
jangan engkau berwas-was kepadaku azura
kirimkan suratmu,
surat-suratmu akan kusimpan baik-baik
meskipun tak berapa jauh jarak antara kita,
namun engkau telah terpisah dariku,
engkau telah jauh..
Dan pada persangkaanku
Sukar pula kita akan bertemu lagi
Karena boleh dikatakan
Berpagar aur keliling
Telah jauh engkau sekarang kekasihku
Alangkah besarnya kamalanganku & kesengsaraanku
Alngkah gelapnya dunia disekitarku
Aku telah menipu diri sendiri
Seketika aku memberi nasehat
Menyuruhmu pergi meninggalkanku
Pada sangkaku seketika itu
Sebagai kuterangkan kepadamu
Aku akan sanggup sabar
Menahan hati berpisah denganmu
Tapi setelah wajahmu yg muram itu,
Mata yg selalu membayangkan kedukaan,
Perkataan yg selalu menimbulkan kesedihan,
Setelah semuanya hilang dari mataku
Barulah aku insaf
Bahwa aku ini..
seorang lelaki yg lemah hati
tak sanggup menanggung kedukaan
dan kesedihan lebih daripada semestinya
aku nasehatkan supaya engkau pergi
ialah karena perintah pertimbangan akal
memikirkan akibat dan ancaman
tetapi setelah engkau pergi
perasaan hati yg tadinya dikalahkan
oleh pertimbangan telah memberontak kembali;
wajahmu, matamu, semuanya kembali terbayang
lelah aku menahan air mataku
seketika melepasmu pergi
dan seketika air mata tak tertahan lagi
itulah sebab aku berpaling
dan tidak aku perlihatkan
engkau sampai sehilang-hilangnya
dari mataku
sekarang air mata yg tertahan itu
telah melimpah
bergelora menyebabkan kurus badanku
alangkah pahitnya perpisahan
alangkah sukarnya menghadapi semua soal ini
sehari setelah engkau pergi jauh
aku pergi sendiri ke sawah
hendak melihat padi yg baru ditanam
sawah tempat kita bercinta tempo hari
aku cari engkau disana,
engkau tak ada
aku pergi ke tempat menuai rindu kita
tempat engkau mula-mula
mengetahui rahasia hatiku
disitupun engkau tak ada
Oh.. tanah yg sering kita duduki berdua
Seakan berberita
Disitulah aku insaf,
bahwa hari yg telah lalu itu memang telah lalu
hari yg dahulu memang telah pergi
mengulang jejak yg lama sudah sukar
yg tinggal hanya peringatannya saja
disanalah kekasihku..
diwaktu itulah air mataku tak tertahan lagi
sehingga sahabatku
yg selama ini belum kukenal benar akan rahasiaku
telah mendapat rahasia itu semuanya
dan telah turut menangis lantaran tangisku
tangis orang lain itulah yg sedikit dapat meringankan
tanggungan hatiku
to: Azura
“Melukiskan suatu kisah cinta murni diantara sepasang remaja yg dilandasi cinta kasih yg ikhlas dan kesucian jiwa [Kisah 16 Januari – 22 Maret ‘06].”
Bidadari Syurga, Ainul Mardiyah
sentroclub
Kisah ini Sudah sangat terkenal. Penulis diambil dari salah seorang blogger. Ada bebrapa referensi lain, misalnya dari milis, Myquran. Ataupun dari milis. Yang saya pahami, bahwa kisah ini hanyalah karangan seorang sastrawan Aceh, untuk memberikan semangat kepada pemuda pemuda di Aceh dalam melawan penjajahan. Jadi bukan kisah nyata. Wallahu a’lam. Namun demikian, alangkah bagusnya jika kita bisa mengambil ibroh/pelajaran dari kisah kisah tersebut.
_________________________________________________
Dalam suatu kisah yang dipaparkan Al Yafi’i dari Syeikh Abdul Wahid bin Zahid, dikatakan: Suatu hari ketika kami sedang bersiap-siap hendak berangkat perang, aku meminta beberapa teman untuk membaca sebuah ayat. Salah seorang lelaki tampil sambil membaca ayat Surah At Taubah ayat 111, yang artinya sebagai berikut :
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan sorga untuk mereka”
Selesai ayat itu dibaca, seorang anak muda yang berusia 15 tahun atau lebih bangkit dari tempat duduknya. Ia mendapat harta warisan cukup besar dari ayahnya yang telah meninggal. Ia berkata:”Wahai Abdul Wahid, benarkah Allah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan sorga untuk mereka?” “Ya, benar, anak muda” kata Abdul Wahid. Anak muda itu melanjutkan:”Kalau begitu saksikanlah, bahwa diriku dan hartaku mulai sekarang aku jual dengan sorga.”
Anak muda itu kemudian mengeluarkan semua hartanya untuk disedekahkan bagi perjuangan. Hanya kuda dan pedangnya saja yang tidak. Sampai tiba waktu pemberangkatan pasukan, ternyata pemuda itu datang lebih awal. Dialah orang yang pertama kali kulihat. Dalam perjalanan ke medan perang pemuda itu kuperhatikan siang berpuasa dan malamnya dia bangun untuk beribadah. Dia rajin mengurus unta-unta dan kuda tunggangan pasukan serta sering menjaga kami bila sedang tidur.
Sewaktu sampai di daerah Romawi dan kami sedang mengatur siasat pertempuran, tiba-tiba dia maju ke depan medan dan berteriak:”Hai, aku ingin segera bertemu dengan Ainul Mardhiyah . .” Kami menduga dia mulai ragu dan pikirannya kacau, kudekati dan kutanyakan siapakah Ainul Mardiyah itu. Ia menjawab: “Tadi sewaktu aku sedang kantuk, selintas aku bermimpi. Seseorang datang kepadaku seraya berkata: “Pergilah kepada Ainul Mardiyah.” Ia juga mengajakku memasuki taman yang di bawahnya terdapat sungai dengan air yang jernih dan dipinggirnya nampak para bidadari duduk berhias dengan mengenakan perhiasan-perhiasan yang indah. Manakala melihat kedatanganku , mereka bergembira seraya berkata: “Inilah suami Ainul Mardhiyah . . . . .”
“Assalamu’alaikum” kataku bersalam kepada mereka. “Adakah di antara kalian yang bernama Ainul Mardhiyah?” Mereka menjawab salamku dan berkata: “Tidak, kami ini adalah pembantunya. Teruskanlah langkahmu” Beberapa kali aku sampai pada taman-taman yang lebih indah dengan bidadari yang lebih cantik, tapi jawaban mereka sama, mereka adalah pembantunya dan menyuruh aku meneruskan langkah.
Akhirnya aku sampai pada kemah yang terbuat dari mutiara berwarna putih. Di pintu kemah terdapat seorang bidadari yang sewaktu melihat kehadiranku dia nampak sangat gembira dan memanggil-manggil yang ada di dalam: “Hai Ainul Mardhiyah, ini suamimu datang . …”
Ketika aku dipersilahkan masuk kulihat bidadari yang sangat cantik duduk di atas sofa emas yang ditaburi permata dan yaqut. Waktu aku mendekat dia berkata: “Bersabarlah, kamu belum diijinkan lebih dekat kepadaku, karena ruh kehidupan dunia masih ada dalam dirimu.” Anak muda melanjutkan kisah mimpinya: “Lalu aku terbangun, wahai Abdul Hamid. Aku tidak sabar lagi menanti terlalu lama”.
Belum lagi percakapan kami selesai, tiba-tiba sekelompok pasukan musuh terdiri sembilan orang menyerbu kami. Pemuda itu segera bangkit dan melabrak mereka. Selesai pertempuran aku mencoba meneliti, kulihat anak muda itu penuh luka ditubuhnya dan berlumuran darah. Ia nampak tersenyum gembira, senyum penuh kebahagiaan, hingga ruhnya berpisah dari badannya untuk meninggalkan dunia. ( Irsyadul Ibad ).
kUMPULAN rETAKAN pUING-pUING hATI
Dalam diam ada tangis yg tertahan
Dalam diam ada rindu yg tak terungkap
Dalam diam ada cinta yg membiru
Dan dalam diamku bukan berarti ku tak tau apa
Yg kamu lakukan dalam diam dan kebisuan
Ingin kulari dari bayang wajahmu
Inginku membenci dirimu
Tapi yg terjadi adalah sebaliknya
Semakin ku mencintaimu semakin dalam rasa cinta
Dan kenyataan ini menyiksaku
Mungkin semua ini karena adanya kehadiranmu dalam bayangku
yang tanpa sengaja dapat selalu indahkan
Seluruh hari-hariku
Ketenangan jiwamu adalah ketenangan dalam setiap langkahku
Diriku bagai debu yg ditiup oleh angin
Tanpa bias melawan
Diriku bagaikan sebatang kayu
Yg apabila dibuang dalam sungai
Diriku akan hanyut terbawa arus
Setiap malam yg berlalu tak pernah tersenyum
Menghantarkan mimpi indahmu
Mataku terpejam hatipun menangis
Menantikan dirimu dalam kesunyian malam
Kau bawa sejuta pesona
Setelah ku hanyut dalam pesonamu
Baru kusadari kau juga bawa sejuta siksa
Seakan bibirmu bicara
Yang tak mampu tuk berkata
Jangan biarkan ku tersiksa
Merintih tak berdaya diantara kesan senyummu
Karena ku telah berjanji
Bahwa diam adalah cinta sejatiku
Ku ingin kau tau
Dalam diam ada namamu
Dalam diam ku selalu mengingatmu
Dan dalam diam ku akan selalu setia padamu
Cinta didunia ini bagaikan batu
Yg apabila ditumbuhi akan cepat rapuh & memudar
Cinta tak selamanya memiliki
Tetapi hati akan dapat tersentuh
Oleh orang yg suci dan tulus
Seorang insan manusia
Tetes air mata ungkapkan galaunya hati
Indahnya rasa kebersamaan bersamamu
Ku yakin rasa ini tak akan pernah padam
Dalam rindu …
Dan cinta untukmu …
Hari ini tak ubahnya seperti kemarin
Aku duduk terdiam
Menunggu engkau datang
Bukan aku tak dapat pergi meninggalkan masa lalu
Jika hanya engkau yg bearti bagiku
Tak bolehkah aku menunggu ?..
Pada hembusan angin yg berdesrr
Dan air sungai yg mengalir
Disitu ku lihat
terukir wajahmu
dan tertulis..
kisah kita berdua
sebuah nostalgia yg lalu
tidak mudah untuk ku lupakan
dan masihku simpan erat-erat
didalam sebuah potret
wajah kita bersama
diwaktu puisi ini aku buat
langit jernih dan udara nyaman
aku duduk dalam kesepian
aku teringat akanmu
ingin benar aku hendak datang menemuimu
tapi kesempatanku tak ada
diriku tak ubahnya seorang musafir
ditengah gurun yg luas keputusan air
tiap langkah dilangkahkannya
tampak juga olehnya danau yg luas dimukanya
demi, setelah sampai kepada yg kelihatan itu
danau itupun hilang
berganti dengan pasir semata
hening dan panas
terimalah ini..
perkenankanlah seruan dari hati yg dhaif
hati seorang makhluk
yg dari masa dalam kandungan ibu
sudah ditunggu oleh rantai
yg bertali-tali dari kemalangan
didalam khayalku
dan dalam ke gelap gulitaan malam
tersimbahlah awan
cerahlah langit dan kelihatanlah satu bintang
bintang dari pengharapan untuk menunjukkan jalan
bintang itu.. ialah: Kamu !
bagaimana makai hatiku berkata begitu?
Itupun aku tak tahu
Lantaran tak tahu sebabnya
Timbul kepercayaan kepada kuasa ghaib
Yg lebih dari kuasa manusia
Kuasa ghaib itulah yg menitahkan..
Aku tahu & insaf siapa aku
Aku hanya semata-mata mengadukan hal
Nyampangku mati,
janganlah ku mati dalam penyesalan
aku pun yakin
tangan yg begitu halus
mata yg penuh dengan kejujuran itu
tak akan sampai mengecewakan
hati yg telah penuh dengan kecewa
sejak sejengkal dari tanah
aku akui kerendahanku
itu agaknya yg akan menangguhkan hatimu
tapi, meskipun bagaimana
percayalah bahwa hatiku baik
sukar engkau akan bertemu
dengan hati yg begini
yg bersih lantaran senantiasa
dibasuh dengan air kemalangan
sejak lahirnya ke dunia
mula-mula aku bertemu denganmu
tanganku gemetar
tapi sambutanmu yg halus atas kecemasanku
telah menghidupkan kembali semangatku
Azura, sampai sekarang
dan agaknya lama sekali
baru peristiwa itu akan dapat kulupakan
karena menurut perasaan hatiku
adlah yg demikian pintu keberuntungan
yg pertama bagiku
sampai sekarang azura,
masih kerap kali aku merasai dadaku sendiri
menjaga apakah hatiku masih tersimpan didalamnya
entah sudah terbang kelangit biru agaknya
lantaran terlalu merasa beruntung
jika kau hendak mendasarkan cinta itu
pada dasar keikhlasan
pada keteguhan memegang janji
pada memandang kebaikan hati
bukan kebaikan rupa
jika engkau bukan mengharapkan kayaku
tetapi mengharapkan pengorbanan jiwa untukmu
jika engkau sudi kepadaku
dan tidak merasa menyesal jika kelak bertemu
dengan bahaya yang ngeri dan kecimus bibir
jika semuanya itu tidak kau pedulikan
sebagai kukatakan dulu,
engkau akan beroleh seorang kekasih
yg teguh dan setia
sebagai kukatakan dahulu
lebih bebas aku menulis surat
daripada berkata-kata denganmu
aku lebih pandai meratap dalam surat
menyesal dalam surat
karena bilamana aku bertemu denganmu
maka matamu yg sebagai Bintang Timur
itu senantiasa menghilangkan susun kataku
bacalah, bacalah surat-surat dariku
adakah disana terdapat aku berminyak air,
mencoba menarik-narik hati?
Bagiku meskipun perjalanan cinta
Yg kita tempuh tak akan hasil,
Surat itu sudah cukuplah untuk menguji budiku
Surat balasanmu dulu itu selalu kusimpan
Surat itu tanda benar-benar
engkau hendak membelaku
jangan engkau takut surat itu
akan aku jadikan perkakas untuk
membukakan rahasiamu
jika ternyata engkau mangkir atau
tak sanggup memenuhi janji
by: Unknown
to: Azura
“Melukiskan suatu kisah cinta murni diantara sepasang remaja yg dilandasi cinta kasih yg ikhlas dan kesucian jiwa [Kisah 16 Januari – 22 Maret ‘06].”