Sentroclub’s Weblog

hidup hanya sekali sebentar lagi mati

Jalaludin Ar Rumi

Lahir di Balkh, Afghanistan pada 604 H atau 30 September 1207 Rumi menyandang nama lengkap Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi. Adapun panggilan Rumi karena sebagian besar hidupnya dihabiskan di Konya (kini Turki), yang dahulu dikenal sebagai daerah Rum (Roma).

Ayahnya, Bahauddin Walad Muhammad bin Husein, adalah seorang ulama besar bermadzhab Hanafi. Dan karena kharisma dan tingginya penguasaan ilmu agamanya, ia digelari Sulthanul Ulama (raja ulama). Namun rupanya gelar itu menimbulkan rasa iri pada sebagian ulama lain. Dan merekapun melancarkan fitnah dan mengadukan Bahauddin ke penguasa. Celakanya sang penguasa terpengaruh hingga Bahauddin harus meninggalkan Balkh, termasuk keluarganya. Ketika itu Rumi baru beruisa lima tahun.

Sejak itu Bahauddin bersama keluarganya hidup berpindah- pindah dari suatu negara ke negara lain. Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran timur laut). Dari Sinabur pindah ke Baghdad, Makkah, Malattya (Turki), Laranda (Iran tenggara) dan terakhir menetap di Konya, Turki. Raja Konya Alauddin Kaiqubad, mengangkat ayah Rumi sebagai penasihatnya, dan juga mengangkatnya sebagai pimpinan sebuah perguruan agama yang didirikan di ibukota tersebut. Di kota ini pula ayah Rumi wafat ketika Rumi berusia 24 tahun.

Di samping kepada ayahnya, Rumi juga berguru kepada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi, sahabat dan pengganti ayahnya memimpin perguruan. Rumi juga menimba ilmu di Syam (Suriah) atas saran gurunya itu. Ia baru kembali ke Konya pada 634 H, dan ikut mengajar pada perguruan tersebut.

Setelah Burhanuddin wafat, Rumi menggantikannya sebagai guru di Konya. Dengan pengetahuan agamanya yang luas, di samping sebagai guru, ia juga menjadi da’i dan ahli hukum Islam. Ketika itu di Konya banyak tokoh ulama berkumpul. Tak heran jika Konya kemudian menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpul para ulama dari berbagai penjuru dunia.

Kesufian dan kepenyairan Rumi dimulai ketika ia sudah berumur cukup tua, 48 tahun. Sebelumnya, Rumi adalah seorang ulama yang memimpin sebuah madrasah yang punya murid banyak, 4.000 orang. Sebagaimana seorang ulama, ia juga memberi fatwa dan tumpuan ummatnya untuk bertanya dan mengadu. Kehidupannya itu berubah seratus delapan puluh derajat ketika ia berjumpa dengan seorang sufi pengelana, Syamsuddin alias Syamsi Tabriz.

Suatu saat, seperti biasanya Rumi mengajar di hadapan khalayak dan banyak yang menanyakan sesuatu kepadanya. Tiba- tiba seorang lelaki asing –yakni Syamsi Tabriz– ikut bertanya, “Apa yang dimaksud dengan riyadhah dan ilmu?” Mendengar pertanyaan seperti itu Rumi terkesima. Kiranya pertanyaan itu jitu dan tepat pada sasarannya. Ia tidak mampu menjawab. Berikutnya, Rumi berkenalan dengan Tabriz. Setelah bergaul beberapa saat, ia mulai kagum kepada Tabriz yang ternyata seorang sufi. Ia berbincang-bincang dan berdebat tentang berbagai hal dengan Tabriz. Mereka betah tinggal di dalam kamar hingga berhari-hari.

Sultan Salad, putera Rumi, mengomentari perilaku ayahnya itu, “Sesungguhnya, seorang guru besar tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari sang guru besar harus menimba ilmu darinya, meski sebenarnya beliau cukup alim dan zuhud. Tetapi itulah kenyataannya. Dalam diri Tabriz, guru besar itu melihat kandungan ilmu yang tiada taranya.”

Rumi benar-benar tunduk kepada guru barunya itu. Di matanya, Tabriz benar-benar sempurna. Cuma celakanya, Rumi kemudian lalai dengan tugas mengajarnya. Akibatnya banyak muridnya yang protes. Mereka menuduh orang asing itulah biang keladinya. Karena takut terjadi fitnah dan takut atas keselamatan dirinya, Tabriz lantas secara diam-diam meninggalkan Konya.

Bak remaja ditinggalkan kekasihnya, saking cintanya kepada gurunya itu, kepergian Tabriz itu menjadikan Rumi dirundung duka. Rumi benar-benar berduka. Ia hanya mengurung diri di dalam rumah dan juga tidak bersedia mengajar. Tabriz yang mendengar kabar ini, lantas berkirim surat dan menegur Rumi. Karena merasakan menemukan gurunya kembali, gairah Rumi bangkit kembali. Dan ia mulai mengajar lagi.

Beberapa saat kemudian ia mengutus putranya, Sultan Salad, untuk mencari Tabriz di Damaskus. Lewat putranya tadi, Rumi ingin menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf atas tindakan murid-muridnya itu dan menjamin keselamatan gurunya bila berkenan kembali ke Konya.

Demi mengabulkan permintaan Rumi itu, Tabriz kembali ke Konya. Dan mulailah Rumi berasyik-asyik kembali dengan Tabriz. Lambat-laun rupanya para muridnya merasakan diabaikan kembali, dan mereka mulai menampakkan perasaan tidak senang kepada Tabriz. Lagi-lagi sufi pengelana itu, secara diam-diam meninggalkan Rumi, lantaran takut terjadi fitnah. Kendati Rumi ikut mencari hingga ke Damaskus, Tabriz tidak kembali lagi.

Rumi telah menjadi sufi, berkat pergaulannya dengan Tabriz. Kesedihannya berpisah dan kerinduannya untuk berjumpa lagi dengan gurunya itu telah ikut berperan mengembangkan emosinya, sehingga ia menjadi penyair yang sulit ditandingi. Guna mengenang dan menyanjung gurunya itu, ia tulis syair- syair, yang himpunannya kemudian dikenal dengan nama Divan-i Syams-i Tabriz. Ia bukukan pula wejangan-wejangan gurunya, dan buku itu dikenal dengan nama Maqalat-i Syams Tabriz.

Rumi kemudian mendapat sahabat dan sumber inspirasi baru, Syekh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Atas dorongan sahabatnya itu, ia berhasil selama 15 tahun terakhir masa hidupnya menghasilkan himpunan syair yang besar dan mengagumkan yang diberi nama Masnavi-i. Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair. Dalam karyanya ini, terlihat ajaran-ajaran tasawuf yang mendalam, yang disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain. Karya tulisnya yang lain adalah Ruba’iyyat (sajak empat baris dalam jumlah 1600 bait), Fiihi Maa fiihi (dalam bentuk prosa; merupakan himpunan ceramahnya tentang tasawuf), dan Maktubat (himpunan surat-suratnya kepada sahabat atau pengikutnya).

Bersama Syekh Hisamuddin pula, Rumi mengembangkan tarekat Maulawiyah atau Jalaliyah. Tarekat ini di Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (Para Darwisy yang Berputar-putar). Nama itu muncul karena para penganut tarekat ini melakukan tarian berputar-putar, yang diiringi oleh gendang dan suling, dalam dzikir mereka untuk mencapai ekstase.

œ

WAFAT. Semua manusia tentu akan kembali kepada-Nya. Demikianlah yang terjadi pada Rumi. Penduduk Konya tiba-tiba dilanda kecemasan, gara-gara mendengar kabar bahwa tokoh panutan mereka, Rumi, sakit keras. Meski menderita sakit keras, pikiran Rumi masih menampakkan kejernihannya.

Seorang sahabatnya datang menjenguk dan mendo’akan, “Semoga Allah berkenan memberi ketenangan kepadamu dengan kesembuhan.” Rumi sempat menyahut, “Jika engkau beriman dan bersikap manis, kematian itu akan bermakna baik. Tapi kematian ada juga kafir dan pahit.”

Pada 5 Jumadil Akhir 672 H dalam usia 68 tahun Rumi dipanggil ke rahmatullah. Tatkala jenazahnya hendak diberangkatkan, penduduk setempat berdesak-desak ingin menyaksikan. Begitulah kepergian seseorang yang dihormati ummatnya

October 17, 2008 Posted by sentroclub | kisah-kisah | | No Comments Yet

Tertahannya Matahari

Dari Kalam Habib As-Syekh Abdurrahman Asseggaf

Salah satu dari kekeramatan Sayyidina As-Syekh Abdurrahman As-Segaff adalah bisa menahan matahari atau waktu. Murid beliau yang bernama As-Syekh Abdurrahim bin Ali Al-Khotib, bercerita mengenai hal ini:

“Sekali waktu kami pulang bersama-sama dengan As-Syekh As-Segaff dari ziarah ke makam Nabi Allah Hud As, pada waktu itu hari telah menjelang senja, ketika beliau berkata: pada akan sholat maghrib di Faraj”. Kami pun merasa keheranan karena tidak akan mungkin kami sempat sholat Maghrib di Faraj. Beliau meminta kami untuk berzikir sambil terus berjalan. Ternyata matahari berhenti atau tertahan sampai akhirnya kami sampai di Faraj, hingga karni sempat menunaikan sholat Maghrib. Kami pun saling membicarakan kejadian yang baru saja kami alami. Keramat beliau ini seperti yang terjadi pada Al-Wali Al-Kabir As-Syekh Ismail Al-Hadhrami.”

October 12, 2008 Posted by sentroclub | kisah-kisah | | No Comments Yet

kUMPULAN rETAKAN pUING-pUING hATI #4#

sebenarnya pada hati terdalam

aku pun bingung dengan hubungan kita

apakah aku yg belum terjaga dari tidurku?..

tidur yg membawa kenikmatan lahir & bathin

benarkah sudah ditutup

perjalanan hidup kita hingga kini?..

benarkah telah putus pertalian kita

dan aku sudah jadi orang lain

dalam pemandanganmu?..

tidak akan berkenalan lagi

tidak akan bertegur sapa lagi ketika bertemu?..

benarkah bahwa peringatan kau kepadaku

sehingga kata-kata ini hanya akan laksana

peringatan seorang manusia

atas mimpi-mimpinya

yg telah dihapuskan

oleh pergelaran masa dan pertukaran waktu?..

benarkah Azura, bahwa sejak sekarang

kitab kita telah tamat?..

bila kita bertemu ditengah jalan

yg seorang akan menyisih kejalan kiri

dan yg seorang akan menyingkir kejalan kanan?..

alangkah lekasnya hari berubah,

alangkah cepatnya masa berganti!

apakah dalam masa sebulan dua saja

istana kenang-kenangan

yg telah kita dirikan berdua dihancurkan

oleh angin puting beliung

sehingga dengan bekas-bekasnya sekalipun

tidak akan bertemu kembali?..

ingatkah kau azura,

bahwa istana itu telah kita tegakkan

di atas air mata kita,

di atas kedukaan dan derita kita

betapa kerasnya pukulan nasib atas diriku

bertimpa dan bergilir

sejak masih mengentak ubun-ubunku

ku tempuh itu dengan dada

yg tak berdebar sedikit pun

sebab ada pintu gerbang pengharapan terbuka

sekarang pintu itu telah tertutup kembali

tidak ada harapan lagi akan

dibukakan orang

Benarkah Azura, bahwa aku akan berdiri

didepan gerbang itu dengan putus asa?..

hujan kehujanan dan panas kepanasan

sedang orang yg berlintas pun tak ada?..

menurut sangkaku semula

kisah cinta kita itu

akan terpisah hanya dipisahkan kematian

sekarang kita masih hidup,

belum sampai tumbuh uban dikepala kita

alam pun masih alam yg dahulu juga,

keadaan telah berubah saja demikian rupa

suatu kejadian … yg tiada dapat mengatasinya lagi

apakah keadaanku yg tidak kau setujui azura?..

apakah yg telah menyebabkan

dengan segera namaku kau coreng dihatimu?..

ah.. Azura, jika kau tahu!

agaknya belum pernah orang lain

jatuh cinta sebagaimana kejatuhanku ini

dan bila kau alami kelak

agaknya tidak juga akan kau dapati

cinta sebagaimana cintaku

cintaku kepadamu

lebih dari cinta saudara kepada saudaranya

cinta ayah kepada anaknya

kadang-kadang derajat cintaku

sudah terlalu amat naik,

sehingga hanya dua yg menandingi kecintaan itu

pertama Tuhan dan kedua Mati …

to: Azura

“Melukiskan suatu kisah cinta murni diantara sepasang remaja yg dilandasi cinta kasih yg ikhlas dan kesucian jiwa yang patut dijadikan tamsil ibarat [Kisah 16 Januari – 22 Maret ‘06].”

October 12, 2008 Posted by sentroclub | kisah-kisah | | No Comments Yet

Profil Ketua PWNU Jatim Baru KH Mutawakkil Alallah

Keberhasilan mengembangkan Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong yang terbilang modern ini tak lepas dari sentuhan profil pengasuh pesantren yakni KH Mohammad Hasan Mutawakil Alallah. Ia adalah seorang Kyai yang terbilang dinamis dalam mengembangkan baik sarana fisik pesantren maupun dalam perannya yang dikenal cukup mewarnai dalam dinamika politik kebangsaan.

KH Mutawakil dilahirkan di Genggong pada 22 April 1959. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di Genggong. Kemudian sempat melanjutkan pesantren di Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Namun di pesantren yang diasuh KH Imam itu, tidak lama hanya sembilan bulan saja. Atas saran kedua orang tuanya itu, ia kemudian melanjutkan pendidikan menengah pada Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah di Pondok Pesantren Lirboyo dari tahun 1979-1981. Saat di Lirboyo, Kediri, ia sangat terkesan pada KH Marzuki, KH Mahrus Ali dalam prinsip-prinsip perjuangannya. Saat di Lirboyo, ia sudah menyenangi pelajaran Nahwu, Sharaf, Balaghah (ilmu alat), Ilmu Fiqh, Tafsir dan Hadits.

Selepas itu, ia sempat menempuh pendidikan pada Fakultas Syari’ah di Universitas Tribakti, Kediri sampai tingkat III. Lulus dari tingkat III (sarjana muda), KH Mutawakil rupa-rupanya punya keinginan untuk mencari pengalaman, apalagi sejak kecil ia hanya menimba pendidikan pesantren. Sehingga ketika dewasa ia ingin menimba pendidikan kampus. Pilihannya pada waktu itu akhirnya jatuh pada Kota Pelajar yakni Jogjakarta.

Sesampainya di Jogja, ia kemudian menempuh ujian masuk persamaan di Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta dan diterima. Namun di UII ia tidak bertahan lama, di tengah kuliahnya ia mendapat tawaran beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar di Kairo (Mesir). Setelah menempuh ujian beasiswa ternyata, ia lulus untuk dapat menempuh pendidikan di Universitas terpopuler di belahan negara Timur Tengah itu.

Sebenarnya saat menempuh kuliah di Al Azhar Kairo, ia sudah mulai senang menggemari pelajaran studi. Menurutnya pelajaran yang di Kairo ada beberapa pengembangan aktualisasi,masalah dan pengembangan pandangan yang menurut berbagai persepektif. Selain itu ada kelebihan dari pengajarnya dan adanya praktek langsung di lapangan baik dengan berbahasa Arab maupun Inggris.

Saat menempuh kuliah di Al Azhar, Mesir pada tahun 1983, ia berkesempatan untuk mencari pengalaman study tour ke luar negeri. Misal, ke Frankrut (Jerman), Polandia, Belgia dan Belanda. Saat itu, ia mengambil inisiatif untuk study banding dengan biaya sendiri. Karena pada waktu itu, KH Mutawakil tak mempunyai biaya yang cukup, ia kemudian mencari tambahan dana dengan bekerja apa saja, termasuk menjadi pelayan restoran (waiter) di beberapa negara yang ia kunjungi.
Namun dari studi banding itu, ia mendapat pengalaman berharga. ”Saya melihat hubungan antara hubungan kerja antara buruh dan majikan, ternyata akhlak Islam ternyata ada di Barat, bukan di Saudi. Jadi akhlaq yang ada di Saudi itu tidak sesuai dengan tuntunan Islam. Walau pun tidak semua, umumnya mereka pada kasar. Mereka tidak menghargai, egois dan tidak memberikan hak sepenuhnya pada pekerja. Itu kasusnya banyak, itu saya lihat,” akunya.

Di tengah keasyikannya menuntut ilmu ternyata ia dijemput pulang oleh sang ayahanda, yakni KH. Saifourridzal pada tahun 1985. Setelah dijemput pulang, ia langsung mengajar di Pesantren Zainul Hasan. Tak berapa lama setelah ia pulang, ibunda dan ayandanya pulang ke haribaan Allah SWT

October 12, 2008 Posted by sentroclub | kisah-kisah | | No Comments Yet

kUMPULAN rETAKAN pUING-pUING hATI #3#

kekasihku, bilakah kita akan

bertemu pula dengan leluasa?

bilakah hari yg beruntung itu?

hari yg berlalu sebagai mimpi

akan datang kepada kita kembali

 

aku termenung sendiri,

dari jauh menarik nafas

panjang dan mengeluh

sebab alam sekelilingku yg ramai bagi orang lain

sepi rasanya bagi diriku

 

begini sulit, begini gelap

dan samaran haluan yg akan ku turut

namun aku tak pernah putus asa

sebab masih berdenging dalam telingaku

rasanya petaruhmu

menyuruh berani, menyuruh tetap hati

keras kemauan dan sabar menempuh

kesulitan hidup

 

jika bukan karena itu,

telah putus asa aku menghadapi pahit hidup

mau agaknya aku menyesali nasib

tersesat kepada dosa yg maha besar

yakni mengupat Tuhan, menyalahi takdir

 

janjimu bahwa jasmani dan rohanimu

telah dipatrikan oleh kasih cinta denganku

adalah modalku yg paling mahal

biarlah dunia ini karam,

biarlah alam ini gelap,

biarlah… biarlah seluruh manusia

melengongkan mukanya ketempat lain

bila bertemu denganku

biarlah segenap kebencian

memenuhi hati insan terhadap diriku

dan aku menjadi tumpahan kejemuan hati,

namun aku tak merasa berat

menanggungkan itu semuanya

sebab kau telah bersedia untukku

 

setelah sekian lamanya kita berpisah

masih saja teringat olehku

seketika kau melepasku pergi

diantara sawah yg berjenjang

ketika matahari mulai turun

 

masih terbayang muramnya mukamu

bagaimana teguhnya sikapmu melepasku pergi

masih teringat dan masih jelas

laksana detik suara jam

yg didengarkan oleh seorang

yg tak mau tidur tengah malam

 

Bagaimana kau menyuruhku sabar

menyuruh saya teguh menempuh bahaya hidup

jika kuingat semuanya itu

aku baca pula surat-surat kita

maka tidaklah sepi rasanya

diriku berpisah dan berjauhan denganmu

 

maafkan aku Azura,

jika aku berbicara terus terang

supaya jangan hatiku menaruh dosa

walaupun sebesar zarah kepadamu

 

cinta sejati kekasihku

tidaklah bersifat munafik

pepat diluar, pancung didalam

akan aku katakan terus terang

meski lantaran itu

aku akan kau bunuh misalnya

bahagialah aku lantaran tanganmu

 

aku seakan-akan

seorang ahli angan-angan, ahli syair

 

orang yg sepertiku ini

mendirikan seorang perempuan cantik

dalam angan-angannya

untuk memperdalam

irama aliran syairnya

 

ahli syair atau ahli gambar

mendirikan malaikat dan bidadari

yg akan dipantun dan dilukiskannya

tetapi dia tak boleh bertemu

perempuan itu pada hakikat

cukup pada khayal saja

sebab perempuan yg berdiri didalam pikirannya

itu sunyi dari pada aib dan cela,

bersih dari dosa dan kesalahan

 

Kekasihku..

cinta tidaklah teguh untuk mempertalikan

tali yg teguh ialah kemaslahatan kedua belah pihak

cinta ialah bunga melur yg indah warna

dan harum baunya

 

biarlah cinta selamanya tinggal dalam

khayal dan angan-angan pengarang hikayat

pengarang syair dan ahli kata-kata indah lainnya

berkobar kalau berjauhan

terobat hati kalau berdamping …

 

to: Azura

“Melukiskan suatu kisah cinta murni diantara sepasang remaja yg dilandasi cinta kasih yg ikhlas dan kesucian jiwa yang patut dijadikan tamsil ibarat [Kisah 16 Januari – 22  Maret ‘06].”

June 7, 2008 Posted by sentroclub | kisah-kisah | | 1 Comment

kUMPULAN rETAKAN pUING-pUING hATI #2#

azura! Dunia ini amat luas,

dan Tuhan telah memberi kita kesanggupan

mengembara didalam dunia yg luas itu

 

maka jika kita beruntung,

dan Allah memberi izin kita hidup

sebagai pasangan kekasih

adalah surat-surat itu

untuk mematrikan cinta kita

 

tetapi jika kiranya pertemuan nasib dan hidup kita

tidak beroleh keizinan Tuhan sejak dari azaliNya,

adalah pula surat-surat itu akan jadi peringatan

dari dua orang pasangan atas ketulusan

menghadapi cinta

 

jangan engkau berwas-was kepadaku azura

kirimkan suratmu,

surat-suratmu akan kusimpan baik-baik


meskipun tak berapa jauh jarak antara kita,

namun engkau telah terpisah dariku,

engkau telah jauh..

 

Dan pada persangkaanku

Sukar pula kita akan bertemu lagi

Karena boleh dikatakan

Berpagar aur keliling

 

Telah jauh engkau sekarang kekasihku

Alangkah besarnya kamalanganku & kesengsaraanku

Alngkah gelapnya dunia disekitarku

 

Aku telah menipu diri sendiri

Seketika aku memberi nasehat

Menyuruhmu pergi meninggalkanku

Pada sangkaku seketika itu

Sebagai kuterangkan kepadamu

Aku akan sanggup sabar

Menahan hati berpisah denganmu

 


Tapi setelah wajahmu yg muram itu,

Mata yg selalu membayangkan kedukaan,

Perkataan yg selalu menimbulkan kesedihan,

Setelah semuanya hilang dari mataku

Barulah aku insaf

Bahwa aku ini..

seorang lelaki yg lemah hati

tak sanggup menanggung kedukaan

dan kesedihan lebih daripada semestinya

 

aku nasehatkan supaya engkau pergi

ialah karena perintah pertimbangan akal

memikirkan akibat dan ancaman

tetapi setelah engkau pergi

perasaan hati yg tadinya dikalahkan

oleh pertimbangan telah memberontak kembali;

wajahmu, matamu, semuanya kembali terbayang

 

lelah aku menahan air mataku

seketika melepasmu pergi

dan seketika air mata tak tertahan lagi

itulah sebab aku berpaling

dan tidak aku perlihatkan

engkau sampai sehilang-hilangnya

dari mataku

 

sekarang air mata yg tertahan itu

telah melimpah

bergelora menyebabkan kurus badanku

 

alangkah pahitnya perpisahan

alangkah sukarnya menghadapi semua soal ini

 

sehari setelah engkau pergi jauh

aku pergi sendiri ke sawah

hendak melihat padi yg baru ditanam

sawah tempat kita bercinta tempo hari

 


aku cari engkau disana,

engkau tak ada

aku pergi ke tempat menuai rindu kita

tempat engkau mula-mula

mengetahui rahasia hatiku

disitupun engkau tak ada

 

Oh.. tanah yg sering kita duduki berdua

Seakan berberita

Disitulah aku insaf,

bahwa hari yg telah lalu itu memang telah lalu

hari yg dahulu memang telah pergi

mengulang jejak yg lama sudah sukar

yg tinggal hanya peringatannya saja

 

disanalah kekasihku..

diwaktu itulah air mataku tak tertahan lagi

sehingga sahabatku

yg selama ini belum kukenal benar akan rahasiaku

telah mendapat rahasia itu semuanya

dan telah turut menangis lantaran tangisku

tangis orang lain itulah yg sedikit dapat meringankan

tanggungan hatiku

 

to: Azura

“Melukiskan suatu kisah cinta murni diantara sepasang remaja yg dilandasi cinta kasih yg ikhlas dan kesucian jiwa [Kisah 16 Januari – 22  Maret ‘06].”

May 5, 2008 Posted by sentroclub | kisah-kisah | | 2 Comments

Bidadari Syurga, Ainul Mardiyah

sentroclub

Kisah ini Sudah sangat terkenal. Penulis diambil dari salah seorang blogger. Ada bebrapa referensi lain, misalnya dari milis, Myquran. Ataupun dari milis. Yang saya pahami, bahwa kisah ini hanyalah karangan seorang sastrawan Aceh, untuk memberikan semangat kepada pemuda pemuda di Aceh dalam melawan penjajahan. Jadi bukan kisah nyata. Wallahu a’lam. Namun demikian, alangkah bagusnya jika kita bisa mengambil ibroh/pelajaran dari kisah kisah tersebut.
_________________________________________________ 

 

Dalam suatu kisah yang dipaparkan Al Yafi’i dari Syeikh Abdul Wahid bin Zahid, dikatakan: Suatu hari ketika kami sedang bersiap-siap hendak berangkat perang, aku meminta beberapa teman untuk membaca sebuah ayat. Salah seorang lelaki tampil sambil membaca ayat Surah At Taubah ayat 111, yang artinya sebagai berikut :

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan sorga untuk mereka”

Selesai ayat itu dibaca, seorang anak muda yang berusia 15 tahun atau lebih bangkit dari tempat duduknya. Ia mendapat harta warisan cukup besar dari ayahnya yang telah meninggal. Ia berkata:”Wahai Abdul Wahid, benarkah Allah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan sorga untuk mereka?” “Ya, benar, anak muda” kata Abdul Wahid. Anak muda itu melanjutkan:”Kalau begitu saksikanlah, bahwa diriku dan hartaku mulai sekarang aku jual dengan sorga.”

Anak muda itu kemudian mengeluarkan semua hartanya untuk disedekahkan bagi perjuangan. Hanya kuda dan pedangnya saja yang tidak. Sampai tiba waktu pemberangkatan pasukan, ternyata pemuda itu datang lebih awal. Dialah orang yang pertama kali kulihat. Dalam perjalanan ke medan perang pemuda itu kuperhatikan siang berpuasa dan malamnya dia bangun untuk beribadah. Dia rajin mengurus unta-unta dan kuda tunggangan pasukan serta sering menjaga kami bila sedang tidur.

Sewaktu sampai di daerah Romawi dan kami sedang mengatur siasat pertempuran, tiba-tiba dia maju ke depan medan dan berteriak:”Hai, aku ingin segera bertemu dengan Ainul Mardhiyah . .” Kami menduga dia mulai ragu dan pikirannya kacau, kudekati dan kutanyakan siapakah Ainul Mardiyah itu. Ia menjawab: “Tadi sewaktu aku sedang kantuk, selintas aku bermimpi. Seseorang datang kepadaku seraya berkata: “Pergilah kepada Ainul Mardiyah.” Ia juga mengajakku memasuki taman yang di bawahnya terdapat sungai dengan air yang jernih dan dipinggirnya nampak para bidadari duduk berhias dengan mengenakan perhiasan-perhiasan yang indah. Manakala melihat kedatanganku , mereka bergembira seraya berkata: “Inilah suami Ainul Mardhiyah . . . . .”

“Assalamu’alaikum” kataku bersalam kepada mereka. “Adakah di antara kalian yang bernama Ainul Mardhiyah?” Mereka menjawab salamku dan berkata: “Tidak, kami ini adalah pembantunya. Teruskanlah langkahmu” Beberapa kali aku sampai pada taman-taman yang lebih indah dengan bidadari yang lebih cantik, tapi jawaban mereka sama, mereka adalah pembantunya dan menyuruh aku meneruskan langkah.

Akhirnya aku sampai pada kemah yang terbuat dari mutiara berwarna putih. Di pintu kemah terdapat seorang bidadari yang sewaktu melihat kehadiranku dia nampak sangat gembira dan memanggil-manggil yang ada di dalam: “Hai Ainul Mardhiyah, ini suamimu datang . …”

Ketika aku dipersilahkan masuk kulihat bidadari yang sangat cantik duduk di atas sofa emas yang ditaburi permata dan yaqut. Waktu aku mendekat dia berkata: “Bersabarlah, kamu belum diijinkan lebih dekat kepadaku, karena ruh kehidupan dunia masih ada dalam dirimu.” Anak muda melanjutkan kisah mimpinya: “Lalu aku terbangun, wahai Abdul Hamid. Aku tidak sabar lagi menanti terlalu lama”.

Belum lagi percakapan kami selesai, tiba-tiba sekelompok pasukan musuh terdiri sembilan orang menyerbu kami. Pemuda itu segera bangkit dan melabrak mereka. Selesai pertempuran aku mencoba meneliti, kulihat anak muda itu penuh luka ditubuhnya dan berlumuran darah. Ia nampak tersenyum gembira, senyum penuh kebahagiaan, hingga ruhnya berpisah dari badannya untuk meninggalkan dunia. ( Irsyadul Ibad ).

 

April 16, 2008 Posted by sentroclub | kisah-kisah | | No Comments Yet

kUMPULAN rETAKAN pUING-pUING hATI

Dalam diam ada tangis yg tertahan

Dalam diam ada rindu yg tak terungkap

Dalam diam ada cinta yg membiru

Dan dalam diamku bukan berarti ku tak tau apa

Yg kamu lakukan dalam diam dan kebisuan

 

Ingin kulari dari bayang wajahmu

Inginku membenci dirimu

Tapi yg terjadi adalah sebaliknya

Semakin ku mencintaimu semakin dalam rasa cinta

Dan kenyataan ini menyiksaku

 

Mungkin semua ini karena adanya kehadiranmu dalam bayangku

yang tanpa sengaja dapat selalu indahkan

Seluruh hari-hariku

Ketenangan jiwamu adalah ketenangan dalam setiap langkahku

 

Diriku bagai debu yg ditiup oleh angin

Tanpa bias melawan

Diriku bagaikan sebatang kayu

Yg apabila dibuang dalam sungai

Diriku akan hanyut terbawa arus

 

Setiap malam yg berlalu tak pernah tersenyum

Menghantarkan mimpi indahmu

Mataku terpejam hatipun menangis

Menantikan dirimu dalam kesunyian malam

 

Kau bawa sejuta pesona

Setelah ku hanyut dalam pesonamu

Baru kusadari kau juga bawa sejuta siksa

 

Seakan bibirmu bicara

Yang tak mampu tuk berkata

Jangan biarkan ku tersiksa

Merintih tak berdaya diantara kesan senyummu

Karena ku telah berjanji

Bahwa diam adalah cinta sejatiku

Ku ingin kau tau

Dalam diam ada namamu

Dalam diam ku selalu mengingatmu

Dan dalam diam ku akan selalu setia padamu

 

Cinta didunia ini bagaikan batu

Yg apabila ditumbuhi akan cepat rapuh & memudar

Cinta tak selamanya memiliki

Tetapi hati akan dapat tersentuh

Oleh orang yg suci dan tulus

Seorang insan manusia

 

Tetes air mata ungkapkan galaunya hati

Indahnya rasa kebersamaan bersamamu

Ku yakin rasa ini tak akan pernah padam

Dalam rindu …

Dan cinta untukmu …

 

Hari ini tak ubahnya seperti kemarin

Aku duduk terdiam

Menunggu engkau datang

Bukan aku tak dapat pergi meninggalkan masa lalu

Jika hanya engkau yg bearti bagiku

Tak bolehkah aku menunggu ?..

 

Pada hembusan angin yg berdesrr

Dan air sungai yg mengalir

Disitu ku lihat

terukir wajahmu

dan tertulis..

kisah kita berdua

 


sebuah nostalgia yg lalu

tidak mudah untuk ku lupakan

dan masihku simpan erat-erat

didalam sebuah potret

wajah kita bersama

 

diwaktu puisi ini aku buat

langit jernih dan udara nyaman

aku duduk dalam kesepian

aku teringat akanmu

ingin benar aku hendak datang menemuimu

tapi kesempatanku tak ada

 

diriku tak ubahnya seorang musafir

ditengah gurun yg luas keputusan air

tiap langkah dilangkahkannya

tampak juga olehnya danau yg luas dimukanya

demi, setelah sampai kepada yg kelihatan itu

danau itupun hilang

berganti dengan pasir semata

hening dan panas

 


terimalah ini..

perkenankanlah seruan dari hati yg dhaif

hati seorang makhluk

yg dari masa dalam kandungan ibu

sudah ditunggu oleh rantai

yg bertali-tali dari kemalangan

 

didalam khayalku

dan dalam ke gelap gulitaan malam

tersimbahlah awan

cerahlah langit dan kelihatanlah satu bintang

bintang dari pengharapan untuk menunjukkan jalan

bintang itu.. ialah: Kamu !

 

bagaimana makai hatiku berkata begitu?

Itupun aku tak tahu

Lantaran tak tahu sebabnya

Timbul kepercayaan kepada kuasa ghaib

Yg lebih dari kuasa manusia

Kuasa ghaib itulah yg menitahkan..

 


Aku tahu & insaf siapa aku

Aku hanya semata-mata mengadukan hal

Nyampangku mati,

janganlah ku mati dalam penyesalan

 

aku pun yakin

tangan yg begitu halus

mata yg penuh dengan kejujuran itu

tak akan sampai mengecewakan

hati yg telah penuh dengan kecewa

sejak sejengkal dari tanah

 

aku akui kerendahanku

itu agaknya yg akan menangguhkan hatimu

tapi, meskipun bagaimana

percayalah bahwa hatiku baik

sukar engkau akan bertemu

dengan hati yg begini

yg bersih lantaran senantiasa

dibasuh dengan air kemalangan

sejak lahirnya ke dunia

 


mula-mula aku bertemu denganmu

tanganku gemetar

tapi sambutanmu yg halus atas kecemasanku

telah menghidupkan kembali semangatku

Azura, sampai sekarang

dan agaknya lama sekali

baru peristiwa itu akan dapat kulupakan

karena menurut perasaan hatiku

adlah yg demikian pintu keberuntungan

yg pertama bagiku

 

sampai sekarang azura,

masih kerap kali aku merasai dadaku sendiri

menjaga apakah hatiku masih tersimpan didalamnya

entah sudah terbang kelangit biru agaknya

lantaran terlalu merasa beruntung

 

jika kau hendak mendasarkan cinta itu

pada dasar keikhlasan

pada keteguhan memegang janji

pada memandang kebaikan hati

bukan kebaikan rupa

 

jika engkau bukan mengharapkan kayaku

tetapi mengharapkan pengorbanan jiwa untukmu

jika engkau sudi kepadaku

dan tidak merasa menyesal jika kelak bertemu

dengan bahaya yang ngeri dan kecimus bibir

jika semuanya itu tidak kau pedulikan

sebagai kukatakan dulu,

engkau akan beroleh seorang kekasih

yg teguh dan setia

 


sebagai kukatakan dahulu

lebih bebas aku menulis surat

daripada berkata-kata denganmu

aku lebih pandai meratap dalam surat

menyesal dalam surat

karena bilamana aku bertemu denganmu

maka matamu yg sebagai Bintang Timur

itu senantiasa menghilangkan susun kataku

 

bacalah, bacalah surat-surat dariku

adakah disana terdapat aku berminyak air,

mencoba menarik-narik hati?

Bagiku meskipun perjalanan cinta

Yg kita tempuh tak akan hasil,

Surat itu sudah cukuplah untuk menguji budiku

 

Surat balasanmu dulu itu selalu kusimpan

Surat itu tanda benar-benar

engkau hendak membelaku

 

jangan engkau takut surat itu

akan aku jadikan perkakas untuk

membukakan rahasiamu

jika ternyata engkau mangkir atau

tak sanggup memenuhi janji

 

by: Unknown

to: Azura

“Melukiskan suatu kisah cinta murni diantara sepasang remaja yg dilandasi cinta kasih yg ikhlas dan kesucian jiwa [Kisah 16 Januari – 22  Maret ‘06].”

 

April 13, 2008 Posted by sentroclub | kisah-kisah | | 3 Comments