Sentroclub’s Weblog

hidup hanya sekali sebentar lagi mati

Peringatan Hari Besar Islam adalah Bid’ah Hasanah

Saudaraku, bagaimana hukumnya peringatan hari besar Islam seandainya memang tidak ada dalil dari al-Qur’an maupun Hadist yg memerintahkan umat untuk menyelenggarakan berbagai peringatan tersebut? Haram, boleh-boleh saja atau bagaimana. Benarkah jika tidak ada dalil yg memerintahkan, maka semua yg kita lakukan menjadi haram?

Anda mungkin pernah mendengar perkataan berikut:

“Segala hal yg baru adalah bid’ah dan semua bid’ah itu sesat. Nabi Muhammad SAW adalah manusia yg paling sempurna, jika peringatan Maulid Nabi memang bagian dari agama, pasti Nabi SAW akan memerintahkan umatnya untuk menyelenggarakan peringatan tersebut. Namun, pada kenyataannya beliau SAW tidak pernah menyampaikan perintah itu kepada seorang pun sahabatnya. Lalu bagaimana orang-orang dizaman ini berani menyelenggarakan sesuatu yg tidak pernah diperintahkan Nabi SAW? Apakah mereka merasa lebih pandai dan sempurna dari Nabi SAW?”

Saudaraku, sepintas lalu ucapan diatas tampak benar dan meyakinkan. Mungkin dengan mendengar propaganda seperti diatas kaum awam dapat tertipu, tapi lain halnya dengan ulama. Coba and abaca ungkapan dibawah ini sebagai jawaban sederhana atas propaganda diatas:

“Rasulullah SAW adalah manusia yg paling sempurna dan bijaksana, beliau menjelaskan kepada kita secara sempurna aturan hidup didunia agar selamat hingga ke akhirat. Selain memerintahkan dan menganjurkan sebuah perbuatan, Rasulullah SAW juga menjelaskan mana saja perbuatan yg harus ditinggalkan dan tidak boleh dikerjakan oleh umatnya. Oleh karena itu, sungguh aneh jika ada orang yg berani melarang umat Islam untuk menyelenggarakan peringatan maulid Nabi, sedangkan Nabi SAW sendiri tidak pernah melarang umatnya untuk melakukan hal itu. Jika peringatan maulid Nabi haram, tentu beliau telah mengeluarkan sebuah hadist untuk melarangnya sebagaimana beliau menjelaskan berbagai larangan dalam agama. Namun, pada kenyataannya, tidak ada satu hadist pun yg beliau sampaikan untuk melarang umatnya menyelenggarakan peringatan maulid Nabi. Bahkan tidak ada seorang sahabat pun yg melarang penyelenggaraan peringatan maulid Nabi dan bahkan menyatakan hukumnya haram, pakah dia merasa lebih pandai dari Nabi? Apakah dia merasa lebih sempurna dari Nabi SAW? Bagaimana dia berani mengaharamkan sesuatu yg Allah dan RasulNya sendiri tidak pernah mengharamkannya?”

Saudaraku, andaikata setiap kegiatan yg tidak dicontohkan Nabi atau sahabat adalah haram dan sesat, maka seluruh umat Islam berada dalam kesesatan? Mengapa demikian? Mari kita ambil satu contoh, yaitu mushaf al-Qur’an yg kita baca sehari-hari. Benarkah pencetakan dan penulisan huruf mushaf hingga dalam bentuk seperti yg sekarang ini dicontohkan oleh Nabi SAW atau para sahabatnya? Tahukah anda, siapa yg pertama kali membubuhkan tanda baca: fathah, kasrah, dhammah, dan sejenisnya ke dalam huruf Ba’, Ya’, Jim dan semisalnya utnuk membedakan huruf Ba’ dengan Ta’, Tsa’ dan Ya’, huruf Jim dengan Kha’ dan Kho’ serta yg lainnya?

Para sahabat yg mengetahui akan kemaslahatan umat dan paling setia mengikuti jejak Rasul SAW ternyata tidak pernah mencontohkan atau memerintahkan seseorang untuk membubuhkan tanda baca tersebut ke dalam mushaf. Abdullah bin Mas’ud ra., seorang sahabat yg mulia, bahkan berkata: “Jangan beri al-Qur’an titik maupun harakat” [as-Sunan al-Kubra, 240. al-Mu’jamul Kabir, 353]

Tanda baca dan titik dalam huruf hijaiyah yg dibubuhkan dalam mushaf al-Qur’an tersebut baru ada pada akhir abad pertama.

“Orang yg pertama kali memberi titik pada huruf hijaiyah dalam mushaf adalah Yahya bin Ya’mar (wafat sebelum tahun 90H)” [Siar A’lam Nubala, 330. al-Bidayah wan Nihayah, 71. al-Mudhisy, 53]. Sedangkan pemberian tanda baca fathah, kasrah, dhammah dan sejenisnya (syakal) baru ada setelahnya.

Ucapan Sayidina ‘Abdullah bin Mas’ud ra. dan kenyataan bahwa tidak ada seorang sahabat pun yg mencontohkan, membuat sebagian ulama dimasa itu me-makruh-kan usaha pemberian titik dna tanda baca tersebut. Mereka khawatir pemberian titik itu akan menyebabkan terjadinya perubahan teks al-Qur’an. Setelah menyadari kemunduran umat, dan terbukti bahwa pemberian titik dan tanda baca tersebut tidak akan  pernah merubah isi maupun teks al-Qur’an, para ulama akhirnya menyetujui usaha tersebut. Ketika menjelaskan permasalahan ini, Imam Ghazali ra. berkata:

“Meskipun upaya memberi titik dalam huruf-huruf mushaf itu sebuah perbuatan yg baru (muhdats), tetapi ia tidak terlarang. Sebab, betapa banyak perbuatan baru baru yg baik, sebagaimana dikatakan bahwa penyelenggaraan shalat tarawih secara berjamaah (dimasjid selama satu bulan penuh, pen) adalah salah satu perbuatan baru (muhdats, bid’ah) khalifah ‘Umar ra. dan perbuatan tersebut adalah sebuah bid’ah yg baik (bid’ah hasanah). Bid’ah yg tercela adalah segala perbuatan baru yg bertentangan dengan sunnah terdahulu atau dapat merubah sunah” [Ihya Ulumuddin, 259].

Para ulama menjelaskan bahwa di zaman kita ini pemberian titik dan tanda baca tersebut hukumnya wajib.

Jelas bukan, ternyata apa yg tidak dicontohkan atau diperintahkan Nabi Muhammad SAW secara langsung belum tentu haram atau sesat. Selama tidak ada dalil yg mengharamkannya, maka ia tidaklah haram.

Dari penjelasan di atas, anda sendiri dapat menyimpulkan bahwa peringatan hari besar Islam apa pun itu tidaklah dilarang, meskipun tidak diperintahkan atau dicontohkan Nabi Muhammad SAW, dengan syarat, acara penyelenggaraannya tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan sunnah. Selama kegiatan tersebut di isi dengan ceramah agama, pembacaan al-Qur’an, shalawat, dzikir, lantunan nasyid dan qasidah, serta kegiatan ibadah sejenisnya, maka ia merupakan sebuah bid’ah hasanah yg perlu kita lestarikan dan sebarluaskan.

Rasulullah bersabda: “Barang siapa mencontohkan suatu perbuatan didalam Islam, kemudian perbuatan tersebut di amalkan (orang lain), maka ia akan memperoleh pahala orang-orang yg mengamalkannya tanpa sedikit pun mengurangi pahala mereka. Dan barang siapa mencontohkan sebuah perbuatan buruk dalam Islam, kemudian perbuatan tersebut di amalkan (oleh orang lain), maka dia memperoleh dosa semua orang yg mengamalkannya tanpa sedikit pun mengurangi dosa-dosa mereka.” [HR. Muslim, Tirmidzi, Nasa’I, Ibn Majah, Ahmad, dan Darimi].

Jika tidak ada contoh dan perintah dari Nabi sebuah kegiatan belum tentu dihukumi haram dan bahkan bisa menjadi wajib dan sangat dianjurkan, lalu bagaimana dengan peringatan maulid itu sendiri. Benarkah Rasulullah SAW tidak pernah mencontohkannya? Benarkah para sahabat tidak memuliakan kelahiran beliau? Simak pembahasan selanjutnya …

May 3, 2008 - Posted by | agama

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: