Sentroclub’s Weblog

hidup hanya sekali sebentar lagi mati

Peringatan Maulid

Membaca judul diatas anda mungkin tersentak kaget, karena selama ini dinyatakan bahwa Nabi SAW tidak pernah memperingati hari kelahirannya. Jangan terkecoh oleh pernyataan sebagian orang, tapi mari kita pelajari al-Qur’an, hadist, dan sejarah secara jujur.

Apakah sebenarnya arti peringatan. Dari awal kita berbicara tentang peringatan dan banyak orang yg memperbincangkannya, tetapi ketika ditanya, apa sih arti peringatan, banyak yg tidak dapat menjawabnya secara ilmiah. Karena hidup di NKRI, maka untuk memahami arti peringatan secara benar, kita harus bertanya kepada kamus yg diakui oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa memperingati artinya adalah:

“Mengadakan sesuatu (seperti perayaan, selamatan) untuk mengenang atau memuliakan sesuatu atau peristiwa” [Kamus Besar Bahasa Indonesia, 379]

Jelas bukan, peringatan artinya kegiatan tertentu yg dilakukan untuk mengenang atau memuliakan sesuatu atau peristiwa tertentu. Sekarang coba kita lihat al-Qur’an, hadis, maupun sejarah, pernahkah Nabi Muhammad SAW melakukan kegiatan tertentu untuk memperingati kelahirannya?

Jika anda mau meneliti kehidupan Nabi Muhammad SAW, maka akan anda temukan bahwa baginda Muhammad  SA W sendirilah yg mencontohkan peringatan maulid Nabi. Dalam sebuah hadist shahih yg diriwayatkan Muslim, Abu Dawud dan Ahmad disebutkan bahwa ketika ditanya tentang alas an puasa beliau dihari Senin, Rasulullah SAW bersabda:

“Di hari itu aku dilahirkan dan di hari itu pula aku memperoleh wahyu (al-Qur’an)” [HR. Muslim, Abu Dawud dan Ahmad]

Coba anda perhatika hadist di atas, para sahabat bertanya tentang puasa, tapi Nabi SAW berbicara tentang kelahiran beliau dan turunnya wahyu kepada beliau SAW. Artinya Rasulullah SAW ingin menunjukkan kepada para sahabat bahwa hari Senin itu menjadi mulia karena dirinya, karena ada peristiwa-peristiwa yg dikaitkan dengan beliau SAW. Ketika ditanya tentang puasa Senin, beliau tidak menjelaskan keutamaan puasa tersebut, tapi justru menjelaskan kemuliaan hari Senin itu sendiri.

“Di hari itu aku dilahirkan dan di hari itu pula aku memperoleh wahyu”

Dari sini sebenarnya sudah jelas, bahwa baginda Muhammad SAW sangat memperhatikan semua hari yg berkaitan dengan diri beliau SAW. Hadis ini beliau sampaikan jauh hari setelah beliau menjadi Rasul, artinya ketika menyampaikan hadis ini kepada para sahabat, Rasulullah SAW sedang mengenang hari kelahiran dan hari diutusnya beliau sebagai utusan Allah. Artinya, setiap hari senin baginda Muhammad SAW memperingati kedua hari mulia tersebut.

Saudaraku, andaikata Nabi SAW tidak ingin umatnya mengenang dan memuliakan hari kelahiran beliau, maka ketika ditanya tentang puasa Senin, beliau hanya akan menjawab dengan hadis dibawah ini:

“Amal perbuatan itu dilaporkan pada hari Senin dan Kamis, maka aku ingin amal perbuatanku dilaporkan sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” [HR. Tirmidzi]

Namun pada kenyataannya, ketika ditanya tentang puasa Senin, Rasulullah SAW menjawab:

“Di hari itu aku dilahirkan dan di hari itu pula aku memperoleh wahyu (al_Qur’an)” [HR. Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad]

Hadis di atas beliau SAW sampaikan tentunya karena beliau ingin  umatnya mengenang dan memperingati hari-hari yg berhubungan dengan diri beliau SAW. Oleh karena itu, sungguh aneh jika ada oraang yg tidak mau meperingati hari kelahiran Nabi SAW. Dan sungguh aneh pula jika ada orang yg berpuasa sunnah tetapi tidak berniat untuk memuliakan hari kelahiran beliau SAW. Mengapa demikian, sebab Nabi SAW sendiri secara terang-terangan menyatakan bahwa puasanya adalah karena hari itu adalah hari kelahirannya.

Saudaraku, orang yg mengatakan bawha Rasulullah SAW tidak pernah merayakan hari kelahirannya jelas tidak pernah membaca dan merenungkan hadist di atas. Kami pun merasa heran ketika mereka berkata dan menulis panjang lebar sejarah peringatan maulid dan menyatakan itu baru ada pada abad ketiga, sedangkan hadist shahih menyatakan bahwa setiap hari Senin beliau SAW berpuasa sunnah untuk kelahirannya. Artinya, setiap Senin Rasulullah SAW memperingati maulidnya.

Anda mungkin bertanya, “Bukankah nabi memperingati hari kelahirannya dengan berpuasa, lalu mengapa orang-orang yg berniat merayakan hari kelahiran Nabi tidak berpuasa, mereka justru makan-makan, menabuh rebana, melantunkan syair pujian, dan lain sebagainya?”

Saudaraku, apakah di hari itu Nabi SAW tidak bersedekah? Apakah di hari itu Nabi SAW tidak menyantuni mereka yg kelaparan? Apakah di hari itu Rasulullah SAW melarang umatnya untuk bersenang-senang dalam kebaikan?

Tidak bukan? Bukankah di hari Senin itu pula Rasul SAW disambut dengan tabuhan rebana warga Madinah, bukankah di hari seperti itu pula Rasulullah SAW suka menyantuni mereka yg membutuhkan? Artinya, di hari Senin itu Nabi SAW tidak sekedar puasa, tetapi beliau melakukan segala amal shaleh. Hanya saja, saat itu yg ditanyakan para sahabat hanya puasa beliau.

Saudaraku, puasa merupakan salah satu cara terbaik untuk mengenang kelahiran baginda Muhammad SAW. Kendati demikian bukan berarti tidak ada cara lain untuk memuliakan hari beliau. Perlu di ingat bahwa peringatan maulid Nabi bertujuan untuk memuliakan kelahiran Nabi dan memuliakan hari kelahiran Nabi artinya bergembira dengan keberadaan Rasulullah SAW. Perasaan gembira ini tentunya dapat dilakukan dengan banyak cara sebagaimana yg terdapat didalam berbagai hadist. Karenanya, didalam merayakan dan memuliakan kelahiran Nabi SAW umat Islam memiliki cara yg berbeda-beda, sesuai dengan tingkat kemampuan mereka. Sebagaimana, yg kami sebutkan di awal, diantara mereka ada yg menyantuni fakir miskin, ada yg berpuasa, ada yg melantunkan syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW, ada yg membacakan sejarah ringkas kehidupan beliau SAW, ada yg paling sempurna adalah yg mampu melakukan semua kegiatan tersebut.

Seseorang yg menyatakan mengapa orang-orang yg merayakan hari kelahiran Nabi tidak berpuasa dan justru makan-makan, menabuh rebana, membaca syair, dan lain sebagainya, sesungguhnya dia telah berprasangka buruk dan beranggapan bahwa semua orang yg memuliakan kelahiran Nabi tidak pernah berpuasa sunnah di hari Senin. Padahal kenyataannya tidak demikian. Mereka justru mengamalkan sebanyak mungkin cara yg dapat digunakan untuk memuliakan kelahiran Rasulullah SAW.

Intinya, memuliakan hari kelahiran Nabi adalah ibadah sunnah. Mereka yg mampu berpuasa tentunya lebih baik, dan bagi yg tak mampu, dia tetap dianjurkan memuliakan hari Senin tersebut dengan berbagai ibadah yg dianjurkan oleh Baginda Muhammad SAW.

Anda mungkin pernah mendengar pernyataan berikut:

“Bukankah di hari Senin pula Rasulullah SAW wafat? Bagaimana mereka dapat mewujudkan rasa senang di hari itu sedangkan itu adalah hari wafatnya manusia yg paling dikasihi Allah Ta’ala? Tidaklah mungkin kesedihan dan kebahagiaan berlangsung bersamaan diwaktu yg sama. Jika sudah demikian, mengapa mereka masih menyelenggarakan berbagai bentuk peringatan di hari kelahiran Nabi SAW yg pada hakikatnya hari itu juga hari wafatnya beliau SAW?”

Saduaraku, pernyataan diatas merupakan salah satu bentuk propaganda yg disebarluaskan untuk mempengaruhi pemikiran kaum awam. Sepintas lalu memang tampak benar, tapi jika dikaji dengan baik, tampaklah bahwa pernyataan tersebut sama sekali tidak tepat. Mari kita simak pendapat Imam Suyuthi terhadap pernyataan semacam ini agar kita tidak terkecoh dan terpengaruh propaganda yg menyesatkan.

Dalam bukunya al-Hawi Lil Fatawi, Imam Suyuthi rahimahullah menuliskan:

“Sesungguhnya kelahirn Rasulullah SAW merupakan nikmat terbesar yg diberikan Allah kepada kita dan wafatnya beliau SAW adalah musibah teragung bagi kita. Syari’at telah memerintahkan kita untuk menampakkan rasa syukur atas nikmat yg kita peroleh serta besabar dan tenang dalam menghadapi musibah, dan tidak mengungkit-ungkitnya. Hanya saja, syari’at memerintahkan kita untuk melakukan sunnah aqiqah bagi bayi yg lahir sebagai perwujudan rasa syukur dan senang atas bayi yg lahir tersebut dan ketika kematian tiba syari’at tidak memerintahkan kita untuk menyembelih kambing maupun yg lain. Bahkan syar’at melarang kita untuk meratapi mayat dan menampakkan keluh kesah. Berbagai kaidah syari’at seperti diatas menunjukkan bahwa pada bulan kelahiran Nabi ini seharusnya kita tunjukkan rasa senang dengan kelahiran beliau SAW dan tidak menampakkan rasa sedih atas wafatnya beliau SAW dibulan ini” [al-Hawi lil Fatawi, hal.226]

Kiranya jawaban Imam Suyuthi diatas sudah sangat jelas. Mereka yg berniat untuk mencari kebenaran akan mendapatkan pencerahan dan menerima uraian singkat beliau radiyallahu ‘anhu diatas dengan senang dan lapang dada.

May 3, 2008 - Posted by | agama

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: