Sentroclub’s Weblog

hidup hanya sekali sebentar lagi mati

Pojok Wahaby/Salafy

Seorang muslim manapun sebenarnya sedikit-banyak memiliki kadar kesalafian dalam dirinya meskipun ia tidak pernah menggembar-gemborkan pengakuan bahwa ia adalah seorang salafi. Sebagaimana juga pengakuan kesalafian seseorang juga tidak pernah dapat menjadi jaminan bahwa ia benar-benar mengikuti jejak para al-Salaf al-Shalih, dan –menurut penulis- ini sama persis dengan pengakuan kemusliman siapapun yang terkadang lebih sering terhenti pada taraf pengakuan belaka. Jakfar Umar Thalib (eks Panglima Laskar Jihad) dalam pengakuan akan kesalahannya mengatakan: “Sayapun sempat menganggap bahwa mayoritas kaum muslimin adalah Ahlul Bid’ah dan harus disikapi sebagai Ahlul Bid’ah. Maka tampaklah Dakwah Salafiyyah yang saya perjuangkan menjadi terkucil, kaku dan keras. Saya telah salah paham dengan apa yang saya pelajari dari kitab-kitab para Ulama’ tersebut di atas tentang sikap Ahlul Bid’ah. Saya sangka Ahlul Bid’ah itu ialah semua orang yang menjalankan bid’ah secara mutlak…”

——————————————————————–
Kelompok Salafy, Paling Tidak, Ikutilah Jalan yang Ditempuh Jakfar Umar Thalib !!!

Kelompok yang menamakan diri sebagai Salafy yang berorientasi ke Wahabisme selayaknya mengikuti apa yang telah ditempuh oleh Jakfar Umar Thalib. Dengan tetap memegang akidah Wahabismenya, ia lebih lunak. Dalam arti, pengkafiran (menuduh selainnya sebagai kelompok sesat karena perbuatan bid’ah, syirik dan khurafat) yang selama ini dilakukannya kini telah ditanggalkannya. Namun sayang, justru sifat terpuji semacam itulah, akhirnya Jakfar Umar Thalib dinyatakan sebagai telah keluar dari manhaj Salafy. Lantas, apakah Salafy harus selalu identik dengan ‘pengkafiran’? Jika itu yang terjadi maka jangan salahkan jika mayoritas pengikut Islam di Tanah Air yang ASwaja (Ahlusunah wal Jama’ah / pengikut empat mazhab resmi Ahlusunah) tidak akan memberi kesempatan sedikitpun terhadap kelompok Salafy untuk bergerak. Akhirnya, kelompok minoritas yang kaku ini, untuk menutupi keminoritasnya di depan publik, mereka gunakan sarana internet (site, blog, milis dlsb) sebagai sarana untuk berdakwah. Dengan kepemilikan setiap anggota Salafy media dakwah di internet tadi, sehingga seakan Salafy di Indonesia -secara kuantitas- bertumbuh secara pesat dan dapat merekrut banyak orang. Padahal kenyataan di lapangan tidaklah seacam itu. Belum lagi perpecahan di tubuh Salafy sendiri -yang satu dengan lainnya saling menyesatkan- semakin mempertajam kemerosotan kualitas dan kuantitas pengikut Salafy di Indonesia.

Kalaupun para pengikut sekte Salafy tidak mau menanggalkan baju kumuh Salafisme (baca: Wahabisme) yang tidak sesuai dengan nuansa zaman -terkhusus sekarang ini- dan secara lebih khusus lagi kondisi local Nusantara, maka paling tidak lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang seperti Jakfar Umar Thalib yang cenderung lebih moderat.

May 29, 2008 - Posted by | agama

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: