Sentroclub’s Weblog

hidup hanya sekali sebentar lagi mati

Mencium Tangan Ulama dan Guru

Soal:

Guru dan Ulama, begitu juga orang tua merupakan orang2 yg harus dihormati, sebab mereka mempunyai jasa yg sangat besar terhadap kemajuan umat. Ditangan merekalah tercipta calon2 pemimpin masa depan. Karena itu, seorang murid khususnya, mempunyai kewajiban untuk menghormati gurunya. Salah satu bentuk penghormatan yg sering dilakukan adalah dengan mencium tangan mereka ketika berjabat tangan. Lalu bagaimanakah hal ini sebenarnya..? Apakah diperbolehkan oleh agama..?

 

Jawab:

Mencium tangan para ulama merupakan perbuatan yg sangat dianjurkan agama. Karena perbuatan itu merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada mereka. Dalam sebuah hadits dijelaskan:

“Dari Zari’ ra. – ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku ‘Abdil Qais – beliau berkata, “Kemudian kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengucap tangan dan kaki Nabi SAW.” [Sunan Abi Dawud, 4548]

 

Atas dasar hadits ini, para ulama men-sunnah-kan mencium tangan guru, ulama, orang shalih, serta orang2 yg kita hormati. Kata Imam Nawawi dalam salah satu kitab karangannya:

“Disunnahkan mencium tangan orang2 shalih dan ulama2 yg utama. Namun mencium tangan selain orang2 itu hukumnya makruh.” [Fatawa al-Imam al-Nawawi, 79]

 

Ketika menjelaskan perkataan Imam Nawawi ini, Syaikh Muhammad al-Hajjar dalam ta’liq (komentar) kitab Fatawi al-Imam al-Nawawi menyatakan:

“Mencium tangan orang lain, bila itu dilakukan karena orang tsb zuhud, shalih, berilmu, mempunyai kemuliaan, serta bisa menjaga diri, atau perkara yg semisal yg berkaitan dengan masalah agama, maka perbuatan itu tidak dimakruhkan, bahkan termasuk perbuatan sunnah. Tapi jika dilakukan karena orang tsb memiliki kekayaan, karena dunianya, pengaruhnya serta kekuatannya dihadapan ahli dunia, serta perbuatan lain yg serupa, maka hukumnya makruh, dengan kemakruhan yg sangat bersar.” [Fatawi al-Imam al-Nawawi, 80]

 

Selanjutnya DR. Ahmad al-Syarbashi dalam kitab Yas’alunaka fi al-Din wa al-Hayah menyimpulkan:

“Dari sini dapat kamy lihat, bahwa apabila mengecup tangan itu dimaksudkan dengan tujuan yg baik, maka (perbuatan itu) menjadi baik. Inilah hukum asal dalam masalah mencium tangan ini. Namun bila perbuatan itu digunakan untuk kepentingan dan tujuan yg jelek, maka termasuk perbuatan yg terhina. Sebagaimana halnya setiap perbuatan baik yg diselewengkan untuk kepentingan yg tidak dibenarkan.” [Yas’alunaka fi al-Din wa al-Hayah, juz.II, hal.642]

 

Lalu apakah manfaatnya? Kata Prof.DR.Sarlito W.Sarwono, psikolog dan guru besar Universitas Indonesia, berdasarkan eksperimen Ivan Patrovich Pavlov (1849-1936), yg kemudian melahirkan teori behaviorisme, setiap lembaga pendidikan seperti pesantren, yg membiasakan muridnya mencium tangan pengasuh atau gurunya, maka akan menumbuhkan rasa cinta dan patuh pada guru tsb yg pada gilirannya akan lebih mudah diatur sehingga mewujudkan kedisiplinan dan kepatuhan dalam mengerjakan tugas dan aturan pada lembaga tsb. Hal ini tentu sangat dibutuhkan untuk keberhasilan sebuah pendidikan.” [wawancara dengan Prof.DR.Sarlito W.Sarwono pada tanggal, 12-05-2005, jam 18.00 WIB]

 

Dari sini maka mencium tangan ulama atau orang yg dihormati memang diperbolehkan dalam agam Islam, dan itu memang disunnahkan []

 

June 10, 2008 - Posted by | agama

2 Comments »

  1. Mencium tangan ulama atau orang yg dihormati memang diperbolehkan dalam agam Islam sebagai wujud rasa hormat kita kepada mereka,akan tetapi juga kita tidak boleh berlebihan atau bahkan sampai mengkultuskan seseorang.

    Comment by rima | June 20, 2008 | Reply

  2. Ya, benar. Kita harus bs membedakan dan memberikan garis2 embarkasi yg jelas terhadap perbedaan pengagungan dan pengkultusan. Alhamdulillah selama ini, tidak ada seorangpun yg rela menyembah,mengkultuskan,atau memperlakukan orang lain sebagai Tuhan atau pengganti Tuhannya. G percaya? coba aja tanya kepada orang yg bersangkutan. Seandainya memang ada orang yg khilaf sampai pada taraf pengkultusan, maka tugas kitalah mendakwahi mereka. Karena kalo sarung kena najis, cuci saja hingga najisnya hilang. Jangan sarungnya yg dibakar!. Analoginya, jika ada orang yg sampai mengkultuskan orang lain,jangan sampai kita melarang semua orang untuk mencium tangan para ulama. Apa antum pernah menemui orang yg mengkultuskan orang lain..?
    kalaupun ada itu hanya ekses>>>…

    Comment by swara muslim | July 5, 2008 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: