Sentroclub’s Weblog

hidup hanya sekali sebentar lagi mati

Menghidupkan Orang Mati

“Andaikan mukjizat Nabi sesuai dg derajatnya, tentu tulang belulang yg telah rapuh akan hidup dg disebutkan namanya” [salah satu bait dalam burdah]

Maksud bait ini, seperti dijelaskan oleh para ulama, bahwa mukjizat2 yg diberikan kepada Rasulullah itu tidak seberapa jika dibandingkan dg derajat beliau yg agung. Artinya, seandainya mukjizat beliau disesuaikan dg derajatnya yg agung, tentu dg bertawassul kepada beliau, orang mukmin -apabila berdoa kepada Allah- akan dapat menghidupkan orang yg sudah mati. Akan tetapi, demikian ini tidak terjadi, belum ditemukan orang yg berdoa kepada Allah dg bertawassul dg Nabi dapat menghidupkan orang yg sudah meninggal. Karena itu, dalam bait ini memakai kata ‘Law’ (andai) yg menunjukkan bahwa kalimat sesudahnya tidak terjadi.

 

Mahrus Ali (penulis buku Mantan Kiai NU Menggugat Shawalat & Dzikir Syirik) menganggap bait ini sebagai bentuk kekufuran, karena telah dianggapnya mengangkat derajat Rasulullah pada posisi mirip Tuhan. Kita tidak dapat memahami, apa maksud penyerupaan derajat beliau dg derajat Tuhan dalam bait diatas. Tetapi yg jelas, Mahrus Ali dalam bukunya telah melakukan tahrif terhadap maksud bait burdah diatas –seperti halnya guru2nya dari kalangan Wahaby yg juga jagoan tahrif terhadap nushush. Bahkan lebih jauh lagi, Mahrus Ali mengatakan:

“Dengan menyebut nama Allah SWT saja orang tidak bisa menghidupkan bangkai.” [Mantan Kiai NU…hal. 57]

 

Tentu saja pernyataan Mahrus Ali yg general ini termasuk kebohongan & pengingkaran terhadap mukjizat Nabi Isa AS, karena telah menjadi kesepakatan kaum muslimin, bahwa diantara mukjizat Nabi Isa AS adalah menghidupkan orang yg sudah menjadi bangkai dengan izin Allah. Dalam al-Qur’an ditegaskan:

“Dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah.” [QS. Ali Imran, 49]

 

Menghidupkan orang yg sudah mati, sebenarnya tidak hanya terjadi pada Nabi Isa AS, namun juga terjadi pada para auliya kaum muslimin. al-Utsaimin –tokoh Wahaby yg dikagumi Mahrus Ali- mengatakan:

“Sebagian ulama mengatakan: “Setiap mukjizat yg dimiliki nabi2 terdahulu, maka mukjizatnya itu juga dimiliki Rasulullah.” Pendapat mereka dikritik, bahwa diantara mukjizat Nabi Isa AS adalah menghidupkan orang yg sudah meninggal, dan hal itu belum pernah terjadi pada Rasulullah. Kritikan ini dapat dijawab, bahwa hal yg serupa telah terjadi pada pengikut Rasulullah, sebagaimana dalam kisah seorang laki2 yg keledainya mati dipertengahan jalan, lalu ia berdoa kepada Allah agar dihidupkan, dan Allah menghidupkannya.” [al-Utsaimin, Syarh al-Aqidah al-Wasithiyyah, hal. 629-630]

 

Dengan demikian, beranikah Mahrus Ali dan Mu’ammal Hamidy (sang pemberi kata pengantar pada buku MKNU yg juga menjabat sebagai Wakil Ketua PW Muhammadiah Jatim) mengkafirkan al-Utsaimin –pemimpin Wahaby dan idola Mahrus Ali & Mu’ammal Hamidy-, yg meyakini bahwa diantara para wali ada yg dapat menghidupkan orang yg sudah mati dengan menyebut nama Allah, sebagaimana ia mengkafirkan pengarang Burdah?

 

June 10, 2008 - Posted by | agama

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: