Sentroclub’s Weblog

hidup hanya sekali sebentar lagi mati

Siapa Pencetus Gelar/Julukan ‘Wahhaby’?

Pertama kali pribadi yang menyebut ajaran sekte sempalan yang diajarkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab dengan sebutan Wahhaby adalah saudara tua sekandungnya, Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahab yang selalu mencoba meluruskan pemahaman adiknya yang salah-kaprah tentang Islam dan ajaran Salaf Saleh. Sebuah surat (risalah) panjang beliau tulis untuk adiknya yang kemudian dibukukan (baca: dicetak)…

Saya terkejut dan merasa kegelian dengan cara argumentasi beberapa teman Wahaby dalam membela sekte karya Muhammad bin Abdul Wahab itu, terkhusus dalam masalah pengistilahan kata Wahabi-y, Wahhabi-y atau Wahabisme buat kaum yang selama ini mengatasnamakan dirinya sebagai Salafi-y. Sebagian ‘pura-pura’ merasa bangga dengan sebutan Wahhaby tadi, dengan alasan bahwa karena kata itu diambil dari salah satu nama Allah (al-Wahhab = Maha Pemberi anugerah). Padahal semua tahu bahwa Wahhaby bukan diambil dari nama mulia nan agung itu, melainkan dari Ibn Abdul Wahhab, nama orang biasa yang hidup di dataran jazirah Arab yang kering nan tandus. Dari sini jelas sekali bahwa Wahhaby dari nama Allah sangat tidak beralasan dan cenderung dibuat-buat. Berbeda dengan kaum Wahhaby lain yang tanpa basa-basi dan jelas-tegas menolak penisbatan kata Wahhaby kepada mereka, tanpa pura-pura merasa bangga. Sayangnya, lagi-lagi mereka terjerumus ke dalam kesesatan cara berpikir (versi mereka) yang selama ini mereka sendiri mengakui bahwa hal itu sesat, berargumen dengan bersandar pada pendapat para orientalis yang kafir. (Lihat blog: http://abusalma.wordpress.com/2007/11/07/siapa-pencetus-pertama-istilah-wahhabi/, karya Jalal Abu Alrub) Coba jika ternyata yang anti Wahhaby menulis artikel yang bersandar kepada buku-buku dan karya tulis yang ditulis oleh kaum Orientalis, pasti mereka akan menyatakan bahwa itu adalah kesesatan dan tidak dapat dipercaya. Jangankan dalam kasus semacam itu, dalam kasus kritisi fatwa si Utsaimin tentang “Bumi sebagai Pusat Tata Surya” yang terdapat dalam blog Wahaby lain, teman-teman yang tidak setuju dengan fatwa tersebut dianggap sebagai “bodoh tentang ajaran Islam” atau “Taklid Buta kepada Ilmuwan Barat yang Kafir”. Apakah dalam penamaan istilah Wahhaby pemilik blog itu tidak takild pada ucapan para orientalis yang kafir? Saya hanya menukil saja ayat yang berbunyi: “Kabura Maqtan ‘Indallahi an Taquluu ma laa Taf’aluun” (Murka besar Allah sewaktu kalian berbicara namun tidak kalian kerjakan). Apa yang dilakukan penulis dalam masalah pencetus julukan Wahaby tadi (yang menuduh kaum Orientalis) tidak lebih hanya pelaksanaan istilah “Maling teriak maling”, pencuri (Wahaby) yang menuduh dan meneriaki pencuri lain (orientalis) untuk usaha pembersihan diri.

Pertama kali pribadi yang menyebut ajaran sekte sempalan yang diajarkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab dengan sebutan Wahhaby adalah saudara tua sekandungnya, Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahab yang selalu mencoba meluruskan pemahaman adiknya yang salah-kaprah tentang Islam dan ajaran Salaf Saleh. Sebuah surat (risalah) panjang beliau tulis untuk adiknya yang kemudian dibukukan (baca: dicetak) dengan judul:

الصواعق الإلهية في مذهب الوهابية
(Petir-petir Ilahi pada Mazhab al-Wahabiyah)

Kitab tersebut beberapa kali di cetak di Turkia, Pakistan dan beberapa negara lain, terakhir dicetak beberapa percetakan di Beirut-Lebanon. Tentu, kitab semacam ini tidak akan pernah kita temukan di toko-toko buku di Arab Saudi yang mazhab resminya adalah Wahhabiyah, karena akan merusak status quonya.

Dari sini jelas sekali bahwa penamaan sekte sempalan ajaran Muhammad bin Abdul Wahab sebagai “Wahaby” bukan pihak di luar Islam atau di luar mazhab Hambali, tetapi dari saudara tua Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri, Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab. Di awal-awal risalah tersebut Syeikh Sulaiman menyatakan alasannya kenapa menyebutnya dengan ‘Wahhabiyah’ dan bukan ‘Muhammadiyah’? Beliau memaparkan bahwa, memang secara kaidah harusnya menyebutnya dengan ‘Muhamadiyah’ yang dinisbahkan kepada Muhammad bin Abdul Wahab, bukan Wahhabiyah. Akan tetapi, beliau khawatir jika ajaran sesat adiknya itu diberi nama ‘Muhamadiyah’ -yang berarti senama dengan nama Rasululah yang sakral itu- dan jika ajaran itu menyebar dan tentu akan mendapat tantangan sehingga ajaran itu menjadi bahan cemooh dari banyak pihak, maka beliau khawatir nama Muhamadiyah disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertangungjawab. Atas dasar itu, beliau merelakan penamaan ‘Wahhaby’ (yang beliau juga bin Abdul Wahhab) sebagai nama sekte sempalan ajaran adiknya, dinisbahkan kepada ayahandanya. Setelah dicetuskan istilah tersebut oleh Syeikh Sulaiman, para ulama lainpun mengikuti pengistilahan tersebut. Maka dari itu, setelah itu bermunculanlah beberapa kitab dan risalah yang ditulis oleh banyak ulama dari manca negara-negara Tim-Teng yang mengkritisi sekte sempalan Muhammad bin Abdul Wahab yang dikenal dengan Wahhaby tersebut. Sejak saat itu, sekte sempalan itu disebut WAHHABI. Jadi apa yang dilakukan Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab dengan memberikan julukan “Wahhaby” untuk sekte karya adiknya itu dikarenakan beliau melaksanakan kaidah “Taqdimul Qobih ‘alal Aqbah” (mendahulukan yang jelek dari yang lebih jelek). Bagaimana tidak, karena penisbatan kepada ayahnya untuk sekte itu merupakan suatu yang jelek (buruk), namun di sisi lain, jika dinamakan dengan nama adiknya maka ia merasa khawatir nama yang mirip dengan nama Rasulullah itu kelak akan dijadikan bahan ejekan orang. Dia berpikir, daripada nama Rasulullah dijadikan bahan cemoohan maka lebih baik nama ayahnya saja yang dijadikan nama sekte adiknya tersebut, karena setiap sekte harus dinamai dan umumnya penamaan setiap sekte dinisbahkan kepada pendirinya. Atas dasar itulah akhirnya beliau menamainya dengan “Wahabisme”.

Adapun letak kesesatan ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab versi kakaknya, Sulaiman bin Abdul Wahab, adalah terletak pada pengkafiran (Takfir) sekte tersebut terhadap kelompok muslim lain di luar sektenya. Dalam risalah karya Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahab hal itu telah disinggung. Di sini, kita akan nukilkan -dari kitab lain yang juga menyingung tentang- penggalan diskusi antara Muhammad bin Abdul Wahab dengan kakaknya, Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahab, seorang yang lebih alim dari berbagai bidang ilmu keagamaan (terkhusus masalah mazhab Hambali) dibanding adiknya. Syeikh Sulaiman pernah bertanya kepada Muhammad bin Abdul Wahab dengan pertanyaan:
“Berkata saudara yang lebih besar dan lebih alim, Sulaiman bin Abdul Wahab, kepada saudaranya (adiknya): “Wahai Muhammad bin Abdul Wahab, ada berapa rukun Islam itu?” Ia menjawab: “Ada lima.” Lantas Sulaiman berkata: “Engkau telah menjadikannya enam. Yang keenam adalah; barangsiapa yang tidak mengikutimu maka ia bukan muslim. Ini adalah rukun Islam keenam menurutmu”.” (Lihat kitab ad-Da’awi al-Munawi’in li Da’wah as-Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, I’dad: Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdul Lathif, Darul Wathan li an-Nasyr as-Saudiyah, cetakan pertama, tahun 1412)

Sekarang yang menjadi problem buat kaum Wahhaby dan mereka harus segera mereka menjawabnya adalah:
1- Masihkah kalian akan mengaku dan bangga bahwa Wahhaby berasal dari salah satu nama Allah, Al-Wahhab? Tidak ada bukti otentik atas kebanggan tersebut kecuali karena untuk menutupi rasa malu saja.
2- Masihkah kalian menganggap bahwa Wahhaby adalah julukan yang diberikan oleh kaum non-muslim untuk pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab?
3- Masihkah kalian berargumen dengan argumen para orientalis dalam menetapkan tuduhan kalian, sedang kalian melupakan tokoh mazhab Hambali Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab, sudara tua Muhammad bin Abdul Wahhab?
4- Kenapa kalian berargumen dengan buku-buku karya orientalis padahal jika itu dilakukan oleh orang lain (selain kelompok kalian) maka dengan serta merta kalian akan mengatakan itu merupakan kesesatan? Mana konsistensi kalian terhadap pendapat dan ucapan kalian sendiri?
5- Masihkah kalian menginkari akan ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab tentang pengkafiran terhadap kelompok lain, padahal banyak bukti yang membuktikan hal tersebut? Dalam tulisan yang akan datang akan sebutkan sedikit demi sedikit pengkafiran tersebut.

 

September 12, 2008 - Posted by | agama

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: