Sentroclub’s Weblog

hidup hanya sekali sebentar lagi mati

Tolak Ukur Tauhid dan Syirik..?

Orang2 Wahaby berpendapat bahwa bertawassul kepada sebab2 yg alami tidaklah menjadi masalah. Seperti menggunakan sebab2 didalam keadaan alami. Akan tetapi menurut pandangan golongan Wahaby/Salafy bertawassul kepada sebab2 ghaib, seperti misalnya: Anda meminta sesuatu kepada seseorang yg anda tidak akan memperoleh sesuatu itu melalui cara2 alami, melainkan cara2 ghaib, adalah syirik. Ini merupakan kekeliruan yg sangat fatal, dimana golongan ini menjadikan cara2 materi dan cara2 ghaib sebagai tolak ukur tauhid dan syirik. Sehingga mereka berpendapat bahwa berpegang kepada cara2 materi berarti tauhid yg sesungguhnya, sementara berpegang kepada cara2 ghaib berarti syirik yg sebenarnya.

 

Jika kita melihat secara mendalam kepada cara ini, niscaya kita akan menemukan bahwa tolak ukur tauhid dan syirik berada diluar kerangka cara ini tolak ukur tsb semata-mata kembali kepada diri manusia dan kepada bentuk keyakinannya terhadap cara2 ini. Jika seorang manusia meyakini bahwa sebab2 ini mempunyai kemerdekaan yg terlepas dari kekuasaan Allah, maka keyakinan ini syirik.

 

Bila seseorang yakin bahwa suatu obat tertentu dapat menyembuhkan sebuah penyakit secara merdeka dan terlepas dari kekuasaan Allah, maka perbuatan orang ini syirik. Meski bagaimanapun bentuk sebab2 tsb, apakah melalui cara2 alami atau ghaib. Yg menjadi dasar dalam maslah ini ialah ada atau tidak adanya keyakinan akan kemerdekaan dari Allah SWT.

 

Jika seseorang meyakini bahwa semua sebab itu tidak merdeka dan tidak terlepas dari kekuasaan Allah, baik didalam wujudnya maupun didalam pemberian pengaruhnya, dan bahkan dia itu tidak lebih hanya merupakan makhluk Allah yg menjalankan perintah dan kehendakNya, maka keyakinan orang ini adalah tauhid yg sesungguhnya. Tidak mungkin seorang muslim dimuka bumi ini yg mempunyai keyakinan bahwa sebab tertentu dapat memberikan pengaruh secara merdeka dan terlepas dari kekuasaan Allah. Oleh karena itu, kita tidak berhak menisbatkan kemusyrikan dan kekufuran kepada mereka!.

 

Adapun tawassul mereka kepada para Rasul dan para Wali, atau tabarruk mereka kepada bekas2 peninggalan mereka untuk meminta barokah atau yg lainnya, tidak termasuk syirik. Allah telah berfirman tentang sebab2, dimana dia menisbatkan sebagian sesuatu kepadaNya, dan ada kalanya menisbatkan kepada yg menjadi sebab2 secara langsung. Berikut ini saya kemukakan beberapa contoh darinya:

  1. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki yg mempunyai kekuatan lagi yg sangat kokoh”. Ayat ini menekankan bahwa rezeki berada ditangan Allah. Jika kita melihat kepada firman Allah lainnya yg berbunyi, “Berilah mereka rezeki (belanja) dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata2 yg baik”. Disini kita melihat rezeki dinisbatkan kepada manusia.
  2. Pada ayat yg lain, Allah menyatakan DiriNyasebagai penanam yg hakiki/sesungguhnya. Allah berfirman: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yg kamu tanam? Kamukah yg menanamnya atau Kami yg menanamnya?” [al-Waqi’ah: 63-64]. Sedangkan pada ayat yg lain, Allah menisbatkan sifat penanaman tsb kepada manusia sebagaimana firmanNya: “(Tanaman) itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang2 kafir” [al-Fath: 29]
  3. Pada sebuah ayat Allah menjadikan pencabutan nyawa berada ditanganNya, firmanNya: “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yg belum mati diwaktu tidurnya”. Sementara pada ayat yg lain Allah menjadikan pencabutan nyawa sebagai perbuatan malaikat. Allah berfirman: “Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang diantara kamu, dia diwafatkan oleh malaikat2 Kami, dan malaikat2 Kami itu tidak malalaikan kewajibannya.” [al-An’am: 61]
  4. Pada sebuah ayat Allah menyatakan bahwa syafa’at hanya khusus milik Allah sebagaimana firmanNya: “Katakanlah, hanya kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya.” [az-Zumar: 44]. Sementara pada ayat yg lain Allah memberitahukan tentang adanya para pemberi syafa’at selain Allah, yaitu pada orang yg dikehendaki oleh Allah sebagaimana firmanNya: “Dan berapa banyaknya malaikat dilangit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yg dikhendaki dan diridhaiNya.” [an-Najm: 26]
  5. Pada sebuah ayat Allah menyatakan bahwa pengetahuan terhadap hal2 yg ghaib adalah sesuatu yg khusus bagi Allah. FirmanNya: “Katakanlah, tidak ada seorang pun dilangit dan dibumi yg mengetahui perkara ghaib kecuali Allah.” [an-Naml: 65]. Sementara pada ayat yg lain Allah memilih para Rasul diantaranya hamba2Nya, untuk diperlihatkan kepada mereka hal2 yg ghaib. Allah berfirman: “Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepadamu hal2 yg ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yg dikehendakiNya diantara Rasul2Nya.” [al-Imran: 179]

 

Dan masih ada ayat2 lainnya yg serupa. Seorang yg melihat ayat2 ini secara sekilas, mungkin akan mengira disana terdapat sebuah pertentangan. Pada kenyataannya, sesungguhnya ayat2 diatas menetapkan apa yg telah kita katakan. Yaitu bahwa hanya Allah sajalah yg merdeka didalam melakukan segala sesuatu. Adapun sebab2 yg lain, didalam melakukan perbuatannya mereka bersandar dan berada dibawah naungan kekuasaan Allah.

 

Allah telah meringkas pengertian ini didalam firmanNya yg berbunyi: “Dan bukan kamu yg melempar ketika kami yg melempar, tetapi Allah lah yg melempar.” [al-Anfal: 17]

 

Allah menyatakan bahwa Rasulullah yg telah melempar, dengan kata2 katika kamu melempar. Namun, pada saat yg sama Allah menyatakan dirinya sebagai pelempar yg sesungguhnya, karena sesungguhnya Rasulullah tidak melempar melainkan dengan kekuatan yg telah Allah berikan kepadanya. Sehingga dengan begitu, Rasulullah adalah pelempar ikutan (bittaba’). Dengan demikian, kita dapat membagi perbuatan Allah kepada dua bagian. Pertama, perbuatan dengan tanpa perantaranya (kunfayakun). Kedua, perbuatan dengan perantara.

 

Seperti Allah menurunkan hujan dengan perantara awan, menyembuhkan orang sakit dengan perantara obat2an, dlsb. Jika seorang manusia bergantung dan bertawassul kepada perantara2 ini, dengan keyakinan bahwa perantara2 tsb tidak merdeka dan tidak terlepas dari kekuasaan Allah, maka dia itu seorang muwahhid (orang yg mengesakan Allah), namun jika sebaliknya, maka dia seorang musyrik []

September 12, 2008 - Posted by | agama

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: