Sentroclub’s Weblog

hidup hanya sekali sebentar lagi mati

Melacak Akar Madzhab Hadramaut

Suasana kota-kota di Hadramaut cukup menyenangkan, jalan-jalan yang ada bukan terbuat dari batu, namun rata-rata bersih karena angin sahara sering turut menyapu jalan-jalan kota itu. Jarang sekali ada kursi di rumah-rumah penghuni, yang ada ialah qatifah (permadani), tempat menampung dhuyuf (para tamu). Fungsi permadani memang di sini jadi serba-guna: untuk menerima tamu (istiqbaal), namun juga untuk tempat makan. Tak jarang tempat yang sama ini juga dibuat untuk aktivitas ibadah, seperti shalat, rouhah (pengajian) maupun dhikir. Bahkan jika ruang tak cukup untuk menerima tetamu yang tidur, qatifah jadi alternatif tempat tidur cadangan. Sisa-sisa tradisi ini masih ditemui keturunan Hadharim di Nusantara.

Di Hadramaut terdapat sekitar 365 Masjid Jami’, jumlah ini sama dengan jumlah hari dalam setahun. Rata-rata masjid yang ada sudah ma’mur (terpelihara dan banyak jama’ah) karena para pengurus ta’mir yang mengelola tak perlu susah “mengajak” orang untuk shalat dan beri’tikaf di dalam masjid, sebab kesadaran rohaniah warga Hadramaut terhadap ibadah mahdhah cukup tinggi, hingga membuat masjid jadi satu-satunya bangunan yang paling ramai dikunjungi warga sampai kini. Apalagi di bulan suci Ramadhan.

Hal lain yang menarik, dan sering menimbulkan tanda tanya, yaitu sejak adanya isu yang mengkaburkan sejarah: Apakah akidah dan madzhab warga Hadrmaut? Sengaja dibentuk opini yang meragukan itu, untuk menyusupkan pendapat mereka yang menyesatkan. Agaknya perlu ditegaskan kembali berdasarkan fakta-fakta baik telaah dokumen maupun realitas amaliyah anak turunannya sekarang. Bahwa tidak syak lagi, mayoritas Muslimin di Hadramaut adalah mutlak Sunni Syafi’i (Baca: Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara, INIS, 1989). Kawasan ini seperti Makkah dan Madinah, tidak ada orang non Muslim. Jika tidak darurat betul, orang kafir (Kristen, Yahudi dan Majusi) tidak dibenarkan masuk kota-kota ini. Sisa-sisa sekte sempalan memang masih ada namun berada di “pinggiran” dan bisa dihitung jemari sebelah tangan, misalnya sekte-sekte sisa itu adalah bisa disebut di sini: Abadhi, Syi’i dan Zaydi.

Menurut Al-`Allamah Al-Habib Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syatiri, akidah dan madzhab Ahmad bin `Isa Al-Muhajir adalah jelas sekali sebagai Sunni Syafi’i. Dijelaskan, bagaimana tidak Sunni Syafi’i, padahal beliau itu yang membawa akidah dan madzhab ini ke Hadramaut. Berdasarkan penelitian beliau, asas akidah ini tidak bertentangan dengan madzhab kakek-kakeknya yang bersanad sampai ke Rasulillah secara mutawatir [berkesinambungan].(Baca: Asy-Syatiri dalam Adwaar At-Tarikh al-Hadhrami, [Jilid I], Jeddah: `Alam al-Ma`rifah, 1303 H/1983, h. 160-161). Oleh karena itu klaim yang mengatakan, bahwa Madzhab `Alawiyyin adalah Shi`ah Ithna `Ashariyah adalah semata sebagai ilusi dan bertentangan dengan sejarah dan kenyataan sosial. Jangankan Shi’ah Ithna `Asyariyah, Syi’ah Zaydiyah yang pernah bercokol lama di Yaman saja, tak mampu mempengaruhi teologi habaib di sana. Adapun kesamaan menyangkut mahabbah Ahl al-Bayt itu adalah doktrin Sunni pula, yang tak bisa dikatakan sebagai ada pengaruh Shi`ah karena sumber pengambilan (mahabbah) itu sendiri berbeda.

Sejak masa Habib `Abdullah Al-Haddad (Sahib ar-Ratib) sampai sekarang, para ulama bangga dengan akidah dan madzhabnya yang Sunni dan Syafi’i. Misalnya dalam kitab-kitab yang dikarangnya selalu mengabadikan dan menggunakan nama lengkap dengan sebutan madzhab sekaligus: dalam kitab (Terbitan Kairo, 1978 yang diberi catatan kaki oleh Mufti Mesir, Hasanayn Muhammad Makhluf yang terkenal itu), dan kitab-kitab lain karangannya tak lupa memberi akhiran kata dengan al-Hadhrami al-Syafi’i atau Sunni Syafi’i di belakang nama mereka masing-masing. Dan juga Ratib Al-Bar yang menyebutkan di akhir doa agar diwafatkan “dalam Sunnah wal jama’ah” (h. 320) dan doa-doa tawassul Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdar kepada keluarga, sahabat, Fatimah Az-Zahra r.a.dan Ummuhaat al-Mukminin (dengan disebut nama-nama Khadijah dan `Aisyah r.a. (h. 189) semua ini ada dalam kitab “Sabil al-Muhtadin: fi Dzikri Ad’iyah Ashab al-Yamin” oleh Habib Abdullah bin Alwi bin Hasan Al-Attas) dan doa-doa lain dari tokoh wali/ulama masa lalu, sampai sekarang tak pernah berubah. Doa – doa dan munajat itu senantiasa dibaca anak keturunan mereka. Bahkan secara kontinyu, dan terus-menerus nama-nama para pemuka sahabat diberikan kepada generasi ke generasi berikutnya seperti nama-nama Abu Bakar, `Umar, Uthman dan tentu saja `Ali (Empat Khalifah).

Bahkan tokoh besar yang berpengaruh di Hadramaut sampai sekarang berasal dari nama-nama pemuka sahabat Rasulullah, sebut saja misalnya Syaikh Abubakar bin Salim, melahirkan klan-klan seperti Al-Haddar, Al-Muhdar, Al-Hamid, Al-Bahar Bin Idrus dan sebagainya. Juga banyak ditemukan nama-nama Umar, seperti pendiri masjid tua bernama Masjid “Umar Al-Muhdar” di Tarim (ini cikal-bakal Al-Muhdar), juga nama Uthman sampai kemudian menjadi mufti besar nusantara (berasal dari Hadramaut). Belum lagi nama-nama sahabat lain, yang sengaja dengan bangga mereka abadikan, menunjukkan bukti-bukti kongkret mereka sama sekali tidak terpengaruh Syi’ah meskipun Zaydiyah (yang cuma sekadar sebagai Syi’ah Tafdhil/Syi’ah Pengutamaan Ali di antara sahabat yang lain namun akidahnya sama dengan Sunni). Karena mereka yakin atas kesinambungan sanad aqidah dan madzhab yang dianutnya.

Inilah bukti yang kemudian melanggengkan Thariqah `Alawiyah mereka, bahkan jangan lupa anak cucu, para pemuka ulama tersebut adalah pelopor dakwah Islam ke “ufuk timur”, seperti di anak benua India, Kepulauan Melayu dan Nusantara. Juga ada yang ke daerah Afrika seperti Etiopia sampai Madagaskar. Toh manhaj mereka tak pernah bergeser dari asas keyakinan yang berdasarkan Al-Qur`an, As-Sunnah, Ijma dan Qiyas. Karena itu lalu “warna” keagamaan antara Hadramaut dan Nusantara serta kawasan “koloni dakwah sejuk” mereka sama, yaitu Sunni dengan Thariqah `Alawiyyah-nya.

Selain daripada itu, ke Indonesia mereka tak membawa para isteri ketika berdakwah, namun sambil berdagang mengajar agama kepada penduduk pribumi dengan dasar ikhlas dalam kadar yanag tinggi. Bahkan banyak kemudian yang kawin dengan wanita penduduk pribumi, makanya pribumi disebut ahwaal (saudara-saudara ibu) sampai sekarang. Ini menunjukkan bahwa dakwah rintisan mereka secara kultural itu berhasil dengan baik di sini, dan jika kita melihat sekarang Indonesia jadi mayoritas Muslim, hal ini adalah niscaya merupakan berkat dakwah ikhlas beliau-beliau para habaib tersebut.

Di Hadramaut sendiri aqidah dan madzhab Al-Muhajir alias Sunni Syafi’i ini terus berkembang sampai sekarang tanpa sedikit berkurang. Hadramaut kini jadi model Sunni yang “ideal” karena kemutawatiran sanad tadi itu. Bisa dilihat bagaimana amalan mereka: Pertama, dalam bidang ibadah mahdhah tetap berpegang pada Syafi’i seperti pengaruh yang pernah ditinggalkan di Nusantara (Indonesia). Kedua, dalam bidang tasawwuf; meskipun ada nuansa Ghazali, namun di Hadramaut menemukan bentuknya yang khas, yakni tasawwuf Sunni Aslaf `Alawiyyin Shalihin yang sejati.

Sebab itu, misalnya kita saksikan tetap shalawatnya dengan “alihi wa shahbihi” di mana-mana. Shalat lima waktu bukan 3 waktu seperti tuduhan Syi’ah di sini. Dari syahadat sampai azan, juga Jum’at dan shalat tarawih dilaksanakan sesuai doktrin Sunni. Ini menunjukkan para ulama, sejak dulu sampai sekarang tetap konsisten dan konsekwen dengan manhaj Ahl Sunnah wal Jama’ah.

Yang beda mungkin dengan di sini (Indonesia), di Hadramaut tidak banyak diadakan haul. Seakan haul ini “disatukan”, yakni ketika menyelenggarakan haul Nabi Allah Hud a.s. di setiap akhir bulan Sya’ban Saat inilah berkumpul ratusan ulama Sunni Syafi’i Alawi dari berbagai negeri.

Makam kuno Nabi Hud a.s. berada di bukit yang agak terjal, sedangkan di bawah ada haudz (telaga) — yang aneh sekali — sepanjang tahun airnya tak pernah kering meski panas mentari membakar terus. Dalam cerita, Nabi Hud a.s. ini adalah manusia pertama yang berbicara dalam Bahasa Arab (Lihat: Qishash al-Anbiya. Dar al-Fikr, Beirut). Ada makam Nabi Saleh a.s., dan juga petilasan eks kerjaan indah Ratu Balqis (Bilqis), di Ma’rib yang dilukiskan sejarah adalah seorang Ratu yang cantik dan mempesona namun ia menyembah selain Allah, membuat Sulaiman marah, dan dengan bantuan “anak buah”, Sulaiman mengangkat singgasana Balqis di depan tahtanya. Akhirnya Ratu menyerah dan mengabdi kepada Allah, sekaligus jadi permaisuri Sulaiman yang kaya.

Dari momen haul Nabi Hud tadi lalu para peziarah melanjutkan wisata rohaniah mereka ke lain-lain seperti ziarah ke Zambal, Masjid Habib Abdullah Al-Haddad di Hawi dan tak lupa ke rumah munshib, Habib Umar bin Hafidz. Juga mampir ke Ponpes (Pondok Pesantren) Dar al-Mustafa dan Ribat Tarim (Ponpes tertua). Ada juga yang kemudian melanjutkan perjalanan ke Mukalla (kota kecil dekat laut), di sini ada Universitas Al-Ahqaf yang dipimpin oleh Dr Abdullah Baharun, juga ada asy-Syihr, kota tempat para wali dan ulama juga. Bahkan ada yang mampir ke Sana’a dan Aden untuk sekedar menikmati pemandangan dengan nuansa sahara

October 12, 2008 - Posted by | agama

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: